Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Saat Waliyullah Ditegur Seekor Anjing

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
19/04/2021
in Headline, Peristiwa
Saat Waliyullah Ditegur Seekor Anjing

Seorang waliyullah saja amat tawadhu menerima pelajaran dari anjing. Bagaimana dengan kita, yang selalu merasa mulia terhadap siapa saja?

Suatu malam, Abu Yazid Al-Busthami (804 – 875), berjalan menuju rumah setelah pulang dari bepergian. Tak ada apapun yang menarik perhatiannya hingga dia menyadari, ada seekor anjing yang berjalan dari arah berlawanan.

Melihat seekor anjing yang berjalan ke arahnya, hati Abu Yazid mulai ketar-ketir. Ketika anjing itu kian mendekat, Abu Yazid pun segera mengangkat jubahnya, khawatir terkena najis dari anjing yang melintas di sisinya tersebut.

Anjing yang semula tak begitu memperhatikan Abu Yazid, tiba-tiba berhenti dan terus memandangi sang Syekh, hanya karena melihat Abu Yazid mengangkat jubahnya. Lalu, saat Abu Yazid berpapasan tepat di sisi anjing itu, entah kenapa, Abu Yazid mendengar anjing itu berbicara padanya:

“Syeikh…tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalau engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7 Kali dengan air dan tanah, maka najis itu akan hilang. Tapi jika kau mengangkat jubahmu karena menganggap dirimu lebih mulia dan menganggap aku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tak akan bisa bersih walau kau basuh dengan 7 samudera”.

Mendengar itu, Abu Yazid langsung tersentak kaget dan bergegas minta maaf pada anjing yang berada di dekatnya tersebut. Sebagai tanda permohonan maaf yang amat ikhlas, Abu Yazid pun mengajak anjing itu bersahabat dan berjalan bersama. Namun, si anjing justru menolak seraya berkata:

“Engkau tidak patut berjalan denganku, karena mereka yang memuliakanmu akan mencemoohmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada Sang Pencipta atas wujudku yang seperti ini. Lihatlah!! aku juga tidak menyimpan dan membawa sebuah tulangpun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum”. Anjing itu pun berjalan meninggalkan Abu Yazid yang masih tertegun.

Abu Yazid terdiam lama, sambil mengusap air mata yang menetes, dalam hatinya berkata: ” Ya Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tidak layak, bagaimana aku merasa layak berjalan dengan-MU, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari najis di hatiku ini ya, Allah”.

Sejak saat itu, Abu Yazid selalu menghormati semua makhluk ciptaan Allah, tak peduli hewan atau manusia atau apa saja. Padahal beliau ulama besar dan masyhur sebagai waliyullah papan atas.

Seorang waliyullah saja amat tawadhu menerima pelajaran dari siapapun. Bagaimana dengan kita, yang selalu merasa mulia terhadap siapa saja.

 

 

====================

Selama Ramadhan ini, Redaksi Jurnaba berupaya menyajikan kisah hikmah, baik klasik maupun kontemporer, dari berbagai penjuru dunia. Jurnaba juga menerima tulisan kisah hikmah dari para Jurnabiyin dimanapun berada. Bagi kamu yang punya tulisan, sila dikirim ke email redaksi Jurnaba. 

Tags: Hikayat RamadhanKisah RamadhanSalafushologi
Previous Post

Bunga Sakura yang Memanggil-manggil

Next Post

Bagaimana Memperkenalkan Puasa pada Seorang Anak?

BERITA MENARIK LAINNYA

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026
Peristiwa

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

09/01/2026
Bakti Bumi, Diskusi Agro Ekologi di Bukit Pagerwesi
Peristiwa

Bakti Bumi, Diskusi Agro Ekologi di Bukit Pagerwesi

28/12/2025
Abdulloh Umar Ajak Masyarakat Bersikap Empatik Sambut Tahun Baru 2026
Peristiwa

Abdulloh Umar Ajak Masyarakat Bersikap Empatik Sambut Tahun Baru 2026

24/12/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: