Catatan keluyuran seorang santri dan istri ke Turki, Belanda, dan Belgia.
“NENG. Di mana kita ini?”
Demikian tanya saya kepada istri, pagi itu, ketika terbangun dari tidur selepas melaksanakan shalat Shubuh. Kami, karena sangat mengantuk, pun melanjutkan “perjalanan tidur” kami setelah sebelumnya baru memejamkan mata sekitar pukul 02.30 dini hari.
“Lo. Bukankah kita di rumahnya Mas Andi Yudha,” jawab istri. “Kenapa begitu?”
“Saya kok mendengar lagu-lagu Indonesia. Mendengar lagu-lagu merdu dan syahdu itu membuat saya kangen sama Tanah Air.”
“Itu kan lagu-lagunya Iwan Abdurahman. Saya suka dengan lagu-lagu itu. Mungkin, Mas Andi sudah bangun dan sedang menyetel lagu-lagu itu. Yuk, kita bangun.”
Segera, saya sadar, kalau kami sedang berada Saint-Pierre, Woluwe, Brussels. Di rumah sahabat akrab kami, Mas Andi Yudha Asfandiyar, mantan CEO Penerbit Mizan, dan Mbak Sinta Rismayani, Atase Perindustrian Republik Indonesia untuk Brussels, Luxemburg, dan Uni Eropa.
Rumah yang terletak di kawasan elite di Brussels itu terasa sepi sekali. Kala itu, Mbak Sinta Rismayani, istri Mas Andi, sedang bertugas di Polandia. Dari sana, Mbak Sinta akan melanjutkan perjalanannya menuju Rusia. Tugas sebagai seorang atase perindustrian untuk Uni Eropa membuat ia kerap melakukan perjalanan. Ke berbagai negara di Benua Eropa. Sedangkan semua putra-putri mereka sedang menimba ilmu di Belanda. Dengan kata lain, saat itu Mas Andi sedang “ngejomblo”. Alias kesepian dalam kesendirian.
Kreativitas Anak-Anak
Betapa bahagia kami, bersama Mas dr. Muhammad Toyibi Sp.JP dan istri, dapat berkunjung dan mendapatkan kehormatan dapat menginap di kawasan yang dalam bahasa Belanda disebut Sint-Pieters-Woluwe itu. Kawasan itu merupakan salah satu dari sembilan semacam “kecamatan” (tentu saja di Belgia gak ada kecamatan) di ibukota Belgia, Brussels. Kawasan elite yang sepi, bersih, tertata bagus, dan terkelola baik. Namun, kebanyakan para penghuni kawasan itu adalah para pensiunan dan orang-orang yang berusia lanjut.
Apa akibatnya?
“Jika musim dingin datang, saya selalu waswas” tutur Mas Andi kepada kami, sebelum kami beristirahat pada malam ketika kami datang. “Utamanya ketika mendengar bunyi lonceng gereja yang ‘mengumumkan kematian seseorang’. Di musim dingin, lonceng gereja itu lebih kerap dibunyikan ketimbang di musim panas. Seperti saat ini. Ini karena sebagian besar para penghuni kawasan ini adalah orang-orang yang berusia lanjut. Karena itu, di sini, kita jarang bertemu dengan anak-anak dan anak-anak muda.”
“Weleh. Gak seperti di Baleendah, tempat tinggal kami: dari pagi hingga sore ramai dengan anak-anak,” gumam bibir saya. Pelan.
Usai mandi, kami kemudian berkemas-kemas. Rencananya, kami berempat baru akan dijemput “Tim Eindhoven”, sekitar pukul 12.30 siang. Untuk “menikmati” Kota Brussels. Mereka akan bertemu dan rapat dulu dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Luxemburg, dan Uni Eropa, Bapak Arif Havas Oegroseno.
Kami sendiri, setelah berkemas-kemas, sambil menunggu jemputan empat jam kemudian, lantas turun ke lantai satu: ruang tamu. Aha, di situ Mas Andi, ternyata, sedang menyetel lagu-lagu Indonesia sambil menggambar entah apa. Yang jelas, di depannya bertebaran kertas-kertas yang penuh gambar-gambar hitam putih. Tidak lama kemudian, Mas Toyibi dan istri bergabung. Rasanya, kami saat itu serasa berada di Bandung. Bukan di Brussels.
Melihat kami berempat sudah “siap tempur”, Mas Andi Yudha Asfandiyar pun menyilakan kami untuk menikmati breakfast, dengan hidangan roti-roti ala “londo”, juice, dan teh hangat. Asyik, lezat sekali roti-roti yang dihidangkan. Seperti halnya ketika kami berkunjung di rumah Mas Aji Purwanto pada malam sebelum itu, dan kemudian ke rumah Mas Latif Gau di Eindhoven, ternyata Mas Andi dan keluarga juga tidak memiliki asisten pembantu rumah tangga. Padahal, sebagai seorang atase, Mbak Sinta (istri Mas Andi) tentunya dapat jatah asisten rumah tangga.
“Kami tidak memerlukan asisten pembantu rumah tangga kok,” jawab Mas Andi. Ketika ia ditanya mengapa rumahnya sepi dan tanpa asisten pembantu rumah tangga. “Kami kan hanya berdua. Apalagi saya, atau istri, kan kerap tidak berada di rumah. Lagi pula, anak-anak tidak tinggal di sini.”
Budaya yang bagus dan patut ditiru!
Setelah kami berlima duduk di seputar meja makan, ternyata, “rapat gelap” yang dimulai di rumah Mas Aji Purwanto pun berlanjut. Jika dalam “rapat gelap” di rumah direktur perusahaan engineering itu lebih banyak berkisar tentang bagaimana cara “menaklukkan Eropa”, meski akhirnya juga menyenggol masalah politik, sedangkan “rapat gelap” kami berlima berkisar seputar kreativitas. Tentu saja, perbincangan pagi itu berkaitan dengan kreativitas anak-anak. Dengan gaya, mimik, dan gerakan kedua tangannya yang khas, “dedengkot” Sanggar PicuPacu Kreativitas Bandung asal Malang, Jawa Timur itu memaparkan berbagai kegiatannya yang berkaitan dengan pembinaan kreativitas untuk anak-anak di Indonesia. Di berbagai tempat di Tanah Air. Sampai pun selepas Mas Andi bermukim di kota yang menjadi ibu kota Uni Eropa itu.
Meski “disidang” empat orang, Mas Andi dengan gayanya yang ekpresif mampu mempertahankan argumentasi-argumentasinya tentang kreativitas. Malah, ketika Mas Andi menuturkan perilaku seorang penulis yang terkenal dengan gaya nylenehnya, PB, sebagai contoh salah satu bentuk kreativitas, Mas Toyibi sampai tertawa terbahak-bahak. Padahal, biasanya, dokter spesialis jantung senior yang satu ini selalu tampil serius. Ya, selalu tampil serius!
Saya yakin, Mas Andi tahu, dirinya “disidang” karena ilmu dan pengalamannya tentang kreativitas anak-anak sedang “dioperasi dan disedot”. Dan, Mas Andi pun tahu, kian banyak ilmu dan pengalamannya ia berikan, kian banyak pula ilmu dan pengalamannya yang dianugerahkan kepadanya. Bukan begitu, Mas Andi.
Menikmati Kramat Gandul
Tidak terasa, “rapat gelap” itu berlangsung hingga sekitar pukul 10.30. Ketika “rapat gelap” itu menjelang usai, “kera ngalam” (alias arek Malang) yang lulusan Jurusan Desain Grafis, Institut Teknologi Bandung itu kemudian menuturkan, jika saat ini ia sedang “didaulat” menjadi Ketua Pelaksana pembangunan sebuah masjid yang diharapkan mampu menampung sekitar 1.000 jamaah di Kota Brussels. Alhamdulillah.
Masjid tersebut, menurut pengurus Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia yang satu ini, selain diharapkan dapat menjadi tempat ibadah untuk kaum Muslim dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, juga diharapkan mampu menjadi tempat yang menjadi rahmat bagi semua orang. Tidak hanya bagi kaum Muslim saja, tapi juga bagi kaum non-Muslim. Dengan kata lain, setiap Muslim yang hadir di masjid itu merasa nyaman, krasan, dan membuat “orang-orang lain” pun merasa nyaman dan hormat dengan kehadiran mereka dan masjid itu.
“Dana yang diperlukan sekitar 250.000,- euro,” tutur Mas Andi. “Saat ini, dana yang terkumpul baru sekitar 70.000,- euro.”
Nah, jika Anda ingin ikut membangun “sebuah gedung indah dalam surga”, silakan kontak Mas Andi selaku Ketua Pelaksana pembangunan masjid di Brussels itu. Paling tidak, dengan doa, kiranya masjid yang menjadi rahmatan lil ‘alamin itu segera terealisasi, amin.
Ketika “rapat gelap” itu diakhiri, Mas Andi Yudha Asfandiyar kemudian bercerita, salah satu ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan di Brussels adalah teknik melukis sekali gores tanpa henti. Salah satu karyanya, dengan teknik sekali gores tanpa henti, adalah karya lukisnya yang ia taruh di depan meja kerjanya. “Mas Andi ini orang hebat,” gumam saya dalam hati ketika melihat Mas Andi sedang memraktikkan cara ia melukis sekali gores. “Selain piawai melukis, ia juga piawai mendongeng dan menjadi motivator ulung dalam menanamkan dalam kalangan orang tua tentang pentingnya kreativitas untuk anak-anak. Kiranya Allah Swt. senantiasa melimpahkan kepadanya kesehatan dan kemampuan dalam merealisasikan cita-citanya, amin.”
Usai berbincang dan bertukar pikiran dengan Mas Andi Yudha Asfandiyar, kami berempat kemudian berjalan-jalan di seputar komplek tempat kediaman Mas Andi dan keluarga, Saint Pierre-Woluwe. Saat itu, di komplek yang “dihiasi” dengan sebuah gereja yang disebut “Eglise Sainte-Alix”, atau dalam bahasa Belanda disebut “Sint-Aleidiskerk”, itu sedang ada pasar kaget. Ternyata, di Brussels pun juga ada pasar kaget. Yang menarik, baik di pasar itu, maupun di seputar komplek yang kami datangi, tidak banyak anak-anak muda. Apalagi anak-anak kecil yang berlari-lari ke sana ke mari. Kayaknya, Benua Eropa saat ini sedang defisit anak-anak kecil.
Kemudian, sekitar pukul 12.30 waktu Brussels, satu mobil Audi Q7 dan satu mobil Toyota Highlander Hybrid datang ke rumah Mas Andi. Ternyata, Mas Adi Purwanto dan Mas Latif Gau yang datang. Mereka meminta kami berlima supaya segera bersiap menuju Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Brussels. Untuk menikmati makan siang bersama Bapak Duta Besar. Menerima kehormatan demikian, saya pun berkata kepada Mas Latif Gau, “Bagi saya, ini merupakan kramat gandul.”
“Apa itu kramat gandul?” tanya Mas Latif yang sejak muda usia sudah bermukim di Belanda. Kebingungan.
“Istilah ‘kramat gandul’ itu semula berkembang dalam kalangan pesantren saja. Mas Latif tentu tahu, ketika seorang kiai mendapatkan undangan, misalnya, biasanya ia didampingi seorang atau beberapa orang santrinya. Lantas, ketika mereka tiba di tempat perhelatan, tentu yang mendapatkan sajian lezat kan tidak hanya sang kiai saja. Tapi, juga santri atau para santrinya. Mas Latif tentu faham, andaikan si santri atau para santri itu tidak bersama kiai mereka, tentu mereka tidak akan kehormatan yang sama. Iya kan. Nah, dalam kasus ini, saya dapat kramat gandul dari ‘Tim Eindhoven’. Tanpa kehadiran ‘Tim Eindhoven’, tentu saya tidak akan mendapatkan undangan untuk makan siang bersama Bapak Duta Besar, hehehe.”
“Hahaha. Pak Rofi’ bisa saja.”
Tidak lama kemudian, kami pun tiba di gedung KBRI Brussels. Dan, tak lama kemudian, kami menikmati makan siang di sebuah restoran di samping kanan gedung KBRI tersebut.
“Waduh! Ini sih ‘rapat gelap’ ketiga namanya! Belum sehari semalam di Kota Brussels harus menghadapi tiga ‘rapat gelap’!.”
Itulah gumam pelan bibir saya, ketika tiba di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussels dan kemudian menghadiri jamuan makan siang bersama Pak Dubes Brussels. Di sebuah restoran yang terletak di Boulevard de la Woluwe. Ternyata, lokasi restoran maupun gedung KBRI Brussels hanyalah sekitar sepuluh menit dari rumah Mas Andi Yudha Asfandiyar. Juga, terletak di kampung yang sama.
Lantas, setelah duduk di kursi yang disediakan, dan melihat hadirin dan hadirat yang ada di situ, saya sudah memperkirakan, “rapat gelap” itu akan berlangsung lama. Namun, segera saya menyadari, pertemuan siang itu sangat penting dan positif. Meski hasilnya, mungkin, baru dapat “dipanen” beberapa tahun kemudian.
Lagi pula, selepas “mengintai” dan “mencermati” satu demi satu hadirin dan hadirat yang ada di situ saat itu, juga isi perbincangan mereka, hati saya pun menjadi tenang: tidak jadi ‘kluyuran’ di seputar Kota Brussels pun tidak apa. Ya, tidak jadi “kluyuran di seputar Brussels pun tidak apa. Ini karena mereka semua adalah orang-orang yang sedang berpikir keras, secara positif, demi negeri tercinta yang berada nun jauh di bagian selatan bulatan Bumi. Mereka adalah orang-orang yang mencintai Indonesia. Ya, mencintai Indonesia tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari negeri yang sedang mereka pikirkan nasib dan masa depannya.
“Mungkin, para anggota dewan terhormat di Jakarta pun tidak pernah berpikir sejauh yang sedang dipikirkan hadirin dan hadirat ini. Pernahkah para anggota dewan itu memikirkan, bagaimana cara menembus lebih jauh HTCE dan mendekati industri-industri canggih tingkat dunia. Untuk kepentingan Indonesia. Seperti yang sedang dipikirkan hadirin dan hadirat ini?” demikian protes hati saya (yang bisa saja salah). Kala itu.
Harus Mampu Menangani Industri Canggih!
Kemudian, ketika kian tahu tentang latar pendidikan hadirin dan hadirat saat itu, hati saya pun merasa “plong”. Dapat dikatakan, mereka semua berlatar pendidikan bagus dan memiliki “track record” bagus pula. Mereka semua berpendidikan pascasarjana. Dengan latar belakang pendidikan beragam: Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, TSM School, Enschede, Belanda, Universitas Padjadjaran, Bandung, Universitas Toulouse, Perancis, dan Universitas Harvard, Amerika Serikat, di samping memiliki pengalaman kerja yang bagus.
Ternyata, mereka berpandangan, “kini saatnya anak-anak Indonesia tampil di berbagai industri canggih. Tingkat dunia. Betapa kerap kami, sebelum ini, dipandang sebelah mata. Namun, ternyata, kami mampu membuktikan, kami pun mampu menangani dan mengelola industri canggih itu. Kini saatnya kami buktikan, putra-putri Indonesia pun mampu menangani industri canggih. Di bidang apa pun.” Ya! Kini, saatnya kami tampil di panggung dunia. Kami mampu, kok. Luar biasa!
Selepas sekitar dua jam menikmati berbagai hidangan, saya lihat Mas Andi Yudha Asfandiyar pamitan (matur nuwun nggih, Mas Andi dan Mbak Sinta, atas sambutan panjenengan berdua). Ia akan memimpin suatu kegiatan yang melibatkan anak-anak Indonesia di Kota Brussels. Dan, akhirnya, Pak Dubes pun menutup acara makan siang hari itu. Waktu, saat itu, telah menunjuk sekitar pukul 15.30. Kami pun segera pamit kepada tuan rumah. Yang telah mengundang kami untuk menikmati makan siang. Meski hanya sebentar, dan sebelum kembali ke Eindhoven, dan kemudian balik ke Amsterdam, kami ingin menengok Grand-Place/Grote Markt dan Manneken Pis serta Atomium.
Segera, dengan naik dua mobil, kami bertujuh bergerak menuju ke “jantung” Kota Brussels, Grand-Place de Bruxelles (dalam bahasa Perancis) atau Grote Markt van Brussel (dalam bahasa Belanda), pusat Kota Brussels yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun lebih. Kali ini, yang menjadi tour leader adalah sahabat kami yang seorang direktur perusahaan engineering di Brussels. Penunjuk jalan kami ini adalah seorang doktor di bidang aeronautika yang “warga” Brussels, Dr.Ing. Aji Purwanto. Dan, setelah menembus berbagai jalan Kota Brussels, akhirnya kami tiba di jantung Kota Brussels.
Setelah Mas Aji Purwanto dan Mas Latif Gau memarkir mobil yang kami naiki, kami kemudian bergegas menuju “Alun-Alun” (kira-kira pas gak ya disebut demikian) Kota Brussels. “Alun-Alun” berbentuk persegi itu dikitari gedung-gedung indah bergaya gotik. Namun, waktu yang terbatas membuat kami tidak lama di tempat itu.
Mas Aji Purwanto kemudian mengajak kami menyusuri Rue de l’Etuve. Setelah melintas perempatan Lombardstraat, akhirnya ketika tiba di perempatan berikut, di pojokan sebelah kiri kami ada sejumlah orang bule sedang mengitari pojokan itu. Ternyata, di situ terdapat sebuah patung berukuran kecil. Itulah Manneken Pis yang kondang. Di seantero dunia. Saya sendiri tidak habis pikir, mengapa patung anak kecil itu begitu terkenal.
Ketika kami datang, patung yang dirancang Jerome Duquesnoy itu sedang mengenakan seragam tentara. Saya tidak tahu, seragam tentara mana yang ia kenakan saat itu. Kami kemudian berdiri di samping pagar yang membatasi sudut tempat si Manneken Pis berada.
Tidak lama kemudian, seorang laki-laki dengan mambawa tangga mendekati Manneken Pis. Segera, orang itu melukar seragam tentara yang dikenakan si Manneken Pis dan membuat ia telanjang. Alias tanpa baju apa pun, hehehe. Melihat hal itu, Mas Aji Purwanto berucap, “Manneken Pis ini juga pernah lo memakai blangkon dan surjan.”
“Yang bener saja?” kata Mbak Kus (istri Mas Toyibi).
“Bener kok, Mbak,” sahut saya. “Mbak gak melihat foto si Manneken Pis yang dipasang di ruang tamu Mas Andi? Di foto itu, patung itu memakai blangkon dan surjan lo.”
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar bunyi, “cur, cur,cur”. Eh, baju saya dan Dik Harca pun basah. Ternyata, setelah si Manneken Pis yang telanjang pipis kencang dan pipisnya membasahi baju saya dan Dik Harca. “Ini tentu ulah bapak yang mengganti bajunya tadi,” gerutu Dik Harca. Sambil tersenyum kecut. Ketika saya melihat si bapak itu, orang itu hanya tersenyum saja. Tampaknya, orang itu mencandai kami. Untung saja, pipis si Manneken Pis bukan pipis beneran. Tapi, air biasa.
Melongok Menara Atomium
Setelah puas “berkenalan” dengan Manneken Pis yang telanjang dan kedinginan, kami kemudian “digiring” (kaya bebek saja, hehehe) menuju Galeries Royales St. Hubert. Itulah pusat pertokoan paling bergengsi di Belgia. Di situ, beberapa orang di antara kami membeli cokelat di Toko “Pierre Marcolini Haute Chocolaterie”. Saya dan istri, yang tidak tertarik dengan cokelat, kemudian berfoto saja. Itu saja.
Usai dari Galeries Royales St. Hubert, kami kemudian diajak menuju Menara Atomium, sebuah ikon Kota Brussels yang dirancang André Waterkeyn. Menara yang terletak di pinggir Kota Brussels itu, di kawasan Heysel Park, terdiri dari sembilan bola baja raksasa (berdiameter 18 meter) yang membentuk struktur inti sebuah kristal. Sembilan bola raksasa itu tegak dengan bertumpu pada satu bola utama yang dilengkapi tiga tiang penunjang. Menakjubkan, meski menara itu dibikin untuk menyambut Expo 1958.
Di dekat Menara Atomium itulah kami kemudian berpisah dengan Dr. Ing. Aji Purwanto. Selepas mengucapkan terima kasih dan salam kepada doktor di bidang aeronautika itu, kami berenam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Eindhoven, Belanda. Dan, setiba di Eindhoven, betapa terasa nikmatnya ketika berada di rumah Mas Latif Gau: kami mendapatkan hidangan soto kudus dan kolak yang disiapkan istri Mas Latif Gau, Mbak Lili. Matur suwun sanget, Mbak.
Lantas, setelah melaksanakan shalat, kemudian kami segera menuju Stasiun Eindhoven Centraal. Di stasiun itulah kami berpisah dengan Dik Harca dan Mas Latif (matur nuwun, Dik Harca dan Mas Latif atas undangan panjenengan berdua). Kemudian, setiba di Stasiun Amsterdam Centraal pukul 22.30, saya dan istri pun berpisah dengan Mas Toyibi dan istri yang melanjutkan perjalanan menuju Schiphol International Airport. Dan, hari berikut, saya dan istri kembali ke Negeri Tercinta: Indonesia.
Entah kenapa, ketika saya menapakkan kedua kaki ke dalam perut pesawat terbang KLM, yang kemudian membawa kami menuju Jakarta, dengan masa tempuh 14 jam, sebuah lagu merdu yang dinyanyikan Said Efendi, Nun Jauh di Sana, terngiang-ngiang di telinga saya:
Nun jauh di sana
Di lembah Tanah Airku
Melambai bunga sekuntum
Berseri mewangi menghiasi ibu
Nun jauh di sana
Di lembah tanah nan hijau
Tersenyum bunga pujaan
Membisiki hatiku mengapa di rantau
Air mataku titik berlinang
Dusunku terkenang-kenang
Hasratku ingin segera kembali pulang
Ke pangkuan ibundaku sayang
Terasa betapa kurindu
Akan bunga nan indah ayu
Hasratku ingin segera menjelma kupu
Terbang malam menjelang kasihku.
MATUR NUWUN: SELESAI








