Ilmu dan kekuatan beladiri bukan untuk menyakiti. Sebab, membela diri adalah membela kemanusiaan dan keadilan.
Dua master beladiri beradu kemampuan. Ketegangan terjadi di antara keduanya. Pukulan dan tendangan saling berbalas. Hingga tiba saat gempa bumi menghentikan.
Adegan tersebut terjadi di salah satu skena film action. Film asal Cina berjudul Ip Man 4: The Final. Sekuel terakhir perjalanan hidup seorang master beladiri aliran Wing Chun.
Memang, nama Ip Man tidak begitu dikenal kalangan umum. Khususnya sebelum kisah hidupnya diangkat ke layar lebar. Grand master itu kalah tenar dengan muridnya, Bruce Lee. Namun, siapa yang saat ini tidak tahu nama Ip Man?
Melalui film, Ip Man dikesan begitu tenang dan bijak. Gambaran sosok seorang master beladiri yang banget lah. Ilmunya tidak terbatas pada gaya bertarung yang jago. Juga, cara memandang kehidupan melalui seni beladiri.
Setelah gempa berhenti, Ip Man kembali ditantang lawannya, Wan Zhong Hua. Berharap pertarungan menghasilkan pemenang. Namun, Ip Man menolaknya.
“Pentingkah menang atau kalah? Bukankah bela diri bisa mengubah prasangka mereka?” kata Ip Man kepada Wan Zhong Hua, Ketua Asosiasi Bantuan China.
Menang kalah bukanlah hal penting. Dengan kemampuan beladiri, seseorang mampu berjuang. Berjuang untuk keadaan yang lebih baik. Misalnya, melawan persepsi negatif dari orang lain. Itulah seninya beladiri.
Membela diri bukan berarti membalas perlakuan buruk orang lain. Namun, lebih pada menjaga nilai kemanusiaan dan welas asih. Segala bentuk penindasan dan ketidakadilan harus dilawan.
“Aku seniman bela diri. Di hadapan ketidakadilan, aku harus melawan. Itu gunanya beladiri,” kata Ip Man kepada putri Wan Zhong Hua, Yohan Wan.
Yohan juga seorang korban bully di sekolah dalam film tersebut. Perlakuan rasis kerap dia terima. Namun, Yohan selalu menahan diri.
Hingga suatu saat, dia memutuskan untuk melawan pelakunya. Kesabarannya sudah habis. Meski begitu, dia kalah. Yang terpenting adalah usaha melawannya.
“Kau benar. Jika tidak sanggup menerimanya (perlakuan buruk), lawan saja,” kata Wan Zhong Hua kepada anaknya, Yohan Wan.
Beladiri mengajarkan untuk membela keadilan. Bukan saja hal buruk yang dialami sendiri, tapi juga yang dialami orang lain. Secara umum, berpihak pada keadilan dan kemanusiaan.
Seorang pelatih atlet beladiri asal Kota Malang, Reza Firmansyah membagi pengalamannya. Beladiri bagi dia adalah metode belajar. Belajar mengenali diri dan memahami kehidupan.
Selama kuliah, Reza merupakan seorang atlet silat. Bahkan, hingga jenjang nasional. Kekalahan dan kemenangan bukan prioritas bagi Reza.
“Menang kalah itu pasti dialami seorang atlet. Namanya juga kebutuhan kompetisi untuk prestasi, kata anggota perguruan Silat Merpati Putih tersebut.
Menurutnya, silat memiliki cara pandang yang filosofis. Cara belajarnya unik. Misalnya, mengapa pesilat belajar memukul dan menendang, sedangkan mereka tidak boleh berkelahi?
“Gampanglah memahaminya. Dipukul itu kan sakit, ya sebisanya jangan memukul orang. Itu kan menyakiti. Apalagi kalau ikut beladiri, pasti kekuatannya berbeda dengan yang tidak belajar beladiri,” terang pria kelahiran 1994 tersebut.
Selain olahraga, beladiri turut mengolah rasa. Tentunya rasa kemanusiaan. Di situ letak seninya beladiri.
Sejatinya, ilmu dan kekuatan yang dimiliki bukan untuk menyakiti. Membela diri adalah membela kemanusiaan dan keadilan. Bukankah itu yang dibutuhkan manusia untuk dapat hidup damai?








