Malam telah menghantarkan bulan larut dalam persemadian. Pergi menemui segala sunyi kedamaian, tak luput membuat bangkit kenangan.
Entah kali ke berapa, Anam, kawan di kelas perkuliahan mengundangku datang ke rumah produksi serabih kepunyaannya. Kebetulan pula, semalam bertepatan dengan giat organisasi yang berlokasi tak jauh dari tempat Anam meramu adonan hingga jadi panganan.
Matahari masih nampak bermalu-malu kucing menyingsingkan warna jingga dan kuning, namun, wewangian santan yang beradu dengan daun pandan telah memaksa masuk ke rongga pernafasan. Perlahan serta penuh kehati-hatian, berhasil ia merayuku untuk datang memenuhi undangan.
Di tengah heningnya nuansa pedesaan, desir angin malam dan udara yang dipenuhi kabut bertebar menutupi pandangan. Kayu yang terbakar di sela pawon, memacu asap di sudut rumah buat ikut berunjuk kekuatan. Tak lebih, hanya untuk sekedar jadi penanda, kalau serabih sedang di ramu dengan penuh cinta.
Orang-orang ramai menganggap, bahwa serabi ini adalah pancake-nya orang Indonesia. Walau, memang bentuk serabih tak ubahnya pancake, bulat dan bertepi coklat, hanya sedikit lebih kecil saja. Di tempat Anam, serabih di perkenalkan melalui mulut ke mulut. Jauh dari pemasangan iklan, apalagi menyewa jasa Indluencer kenamaan.
Di tengah ramainya orang-orang yang pada membubuh adonan ke tatakan, ada juga yang membungkusinya ke daun pisang. Ada pula, Anam yang mencoba memberitahuku tentang proses pembuatan Serabih, sembari ia membolak-balikkan adonan yang dipanggangnya.
“Serabih itu soal sabar”, kata Anam sembari memasukan kayu bakar pada pawon yang mulai keredupan. “Kalau apinya terlalu besar, gosong. Kalau terlalu kecil, buntet. Harus telaten dan penuh kehati-hatian, layaknya ketika berlaku di hadapan perempuan.”
Bukan sekadar panganan lawas, serabih ialah pelipur lara yang mengendap dalam setiap gigitan penikmatnya. Di tengah dunia yang makin tergesa, serabih tetap bersetia pada ritmenya—dimasak perlahan dan penuh kesabaran, ditunggu tanpa ragu apalagi terburu.
Selembar daun pisang jadi alas, serabih yang baru di angkat. Kemudian dibubui parutan kelapa yang makin menggugahkan selera. Tak ada plastik di sana, tak ada nama yang menyohorkan makanannya. Yang ada hanyalah rasa, dan kenangan yang diam-diam merangkaki kepala.
Mungkin itulah kekuatan serabih. Ia sederhana, namun mengandung sebuah dunia: tentang dini hari, tentang pawon yang berapi. Pun, tentang kita yang telah terlampau jauh berada pada kaki ufuk sana dan sini. Tersorong jauh oleh perkasanya semesta melalui tangan sang dewa batara, Kala.
Di tengah dunia yang terus berlari, serabih tetap duduk di pinggir tungku, menyimpan hangatnya bagi siapa saja yang sudi menunggu. Yang dalam keheningannya, mengajarkan manusia tentang waktu. Tentang bagaimana segala sesuatu yang baik memerlukan kesabaran, perhatian, dan cinta yang tak bisa digantikan.
Ia tak lahir dari kecepatan, melainkan dari penghayatan. Seperti puisi yang memilih dikai, serabih dimatangkan dalam ketepatan suhu, diukur lewat naluri, bukan perwaktuan modern yang bisa diatur semau hati.
Di dunia yang makin berpuasa, berhuru-hara pada sepinya bumi, berdalih efisiensi. Serabih berani berunjuk gigi lewat kesederhanaan diri. Ia, mengenalkan keintiman, antara Si pembuat dengan bahan, antara kelembutan tangan dan ruamnya bara api, dan, antara panganan dan jiwa yang berkehidupan.
Barang jadi, di situlah letak kemuliaan serabih, bahwa sesuatu bisa menjadi indah bukan karena mewah, melainkan karena ia jujur diri. Dan kesederhanaan itulah, yang jadi bentuk paling tulus dari warisan budaya, sesuatu yang tidak dipamerkan, tapi diturunkan. Ia tak dibangga-bangga, apalagi dipenuhi puja lewat kata, tapi dibagikan melalui gurih dan dalamnya rasa.
Dari segala ini, manusia harus banyak berefleksi. Sebab, barangkali serabih adalah pemberi arti, bahwa rasa, karsa dan cipta. Lahir dari keterpelan-pelanan—seperti api kecil yang menghangatkan, bukan yang menyeruap tak karuan.
Selain harum santan dan serabih yang berhasil merayu. Segala bentuk perhatian, juga keterhati-hatian dalam proses pembuatannya. Telah berhasil pula buat membangkit bermacam kenangan yang begitu metafisik bentuknya. Wqwq, nahas dan malangnya hanya bisa di nikmati sambil mengunyah gurihnya serabih.








