Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Suluk Geobiculta: Kearifan Lokal sebagai Pilar Pendidikan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
22/05/2025
in Sainsklopedia
Suluk Geobiculta: Kearifan Lokal sebagai Pilar Pendidikan

Suluk Geobiculta (Jurnaba)

Bojonegoro punya sejumlah khazanah alam sarat nilai pengetahuan. Agar tak hilang ditelan zaman, kami lestarikan dalam Suluk Geobiculta.

Berdasar struktur geologis, jenis tanah dan batuan yang ada di Bojonegoro didominasi endapan dan kuarter gunung api (Senjaya, 2022). Terlebih secara posisi, Bojonegoro merupakan lembah berada di tengah baris Pegunungan Kendeng. Mungkin ini alasan ilmiah, kenapa Bojonegoro dijuluki Lembah Berpagar Api.

Data Balai PPSDA (2006) menyebut Bojonegoro wilayah paling besar mendominasi Sungai Bengawan, dengan luas wilayah (2,307.06 km2) dan besar prosentase (10,84 persen) melebihi semua wilayah yang dilintasi Sungai Bengawan. Mungkin ini juga alasan ilmiah, kenapa Bojonegoro dikenal sebagai Naga Pulau Jawa.

Kebesaran khazanah alam Bojonegoro itu, nyatanya tak banyak diketahui generasi hari ini. Pada April 2022, kami menanyai sejumlah pelajar (SMP dan SMA) yang tinggal tak jauh dari Pegunungan Kendeng di wilayah Malo dan Trucuk Bojonegoro.

Faktanya, 18 dari 20 siswa tak mengetahui baris pegunungan yang setiap hari mereka lewati itu bernama Pegunungan Kendeng. Sementara 11 dari 20 siswa, juga tak tahu perbedaan antara gunung dengan baris pegunungan.

Benarkah sekolah menjauhkan para pelajar dari pengetahuan akan lingkungan alam sekitar? Ya, diakui atau tidak, sekolah formal (dari SD sampai SMA) memang tak pernah mengakomodir informasi penting terkait khazanah pengetahuan lokal.

Sekolah formal hanya mengajarkan ilmu yang jauh, ia seperti menjauhkan para pelajar dari pemahaman akan pentingnya lokalitas lingkungan sekitar. Karena itu, kami merasa, harus ada pelengkap sekolah formal yang memberitahu pemahaman akan pentingnya khazanah lokal.

Studi Luar Kampus (Suluk) memang mempelajari dan menghimpun subjek-subjek penting yang selama ini tak ter-akomodir kurikulum sekolah. Kami membangun pilar Geobiculta (Geodiversity, Biodiversity, dan Cultural Diversity) sebagai bagian penting dari Ekosistem Alam yang sejak tiga tahun terakhir kami susun menjadi piranti Pendidikan Alternatif.

Segitiga Suluk Geobiculta (Jurnaba)

Kami melakukan ekspedisi dalam rangka penelitian lapangan dan pengumpulan data, untuk kami godok dan rumuskan bersama, sebagai pilar-pilar Kurikulum Pendidikan berbasis Khazanah Lokal. Kami berupaya membangun ekosistem pendidikan yang mendekatkan manusia dengan lingkungan alam di sekitarnya.

Secara terminologi, Geobiculta kami maknai sebagai sistem keterkaitan antara ragam geologis, aneka hayati, dan tradisi budaya, dalam satu kesatuan ekosistem hidup manusia. Konsep ini menekankan bahwa manusia hidup dan berkembang dalam interaksi saling memengaruhi antara alam (geo & bio) dan budaya manusia (culta).

Laboratorium Sotasrungga

Sotasrungga, sebuah perbukitan hutan yang menjadi titik temu antara Pegunungan Kendeng dan lintasan Sungai Bengawan, jadi tauladan yang memberi kesadaran pada kami bahwa esensi ilmu tak akan pernah hilang, meski zaman bergerak menuju kemajuan. Di tempat itu, pilar khazanah lokal masih tetap terjaga, memancarkan spirit ilmu pengetahuan.

Di Sotasrungga, jejak-jejak pengetahuan tentang Geodiversity, Biodiversity, dan Cultural Diversity (Geobiculta) masih terjaga lestari. Di tempat ini, ragam geologi, keanekaragaman hayati, maupun tradisi masyarakat masih terjalin harmoni. Tiga pilar Ekosistem Alam inilah, yang menjadi pondasi penting kurikulum pendidikan alternatif yang kami susun.

Guru dan pembimbing kami, Dr. Noer Fauzi Rachman, PhD menyebut Sotasrungga sebagai laboratorium hidup. Keberadaannya penting tak hanya sebagai penyeimbang siklus lingkungan hidup, tapi juga jadi “perpustakaan alam” yang menyediakan bermacam referensi pengetahuan. Ia ibarat rak buku yang menyediakan ulasan tentang Geodiversity, Biodiversity, dan Cultural diversity (Geobiculta). 

Di Sotasrungga, kami bisa belajar ilmu pengendalian iklim melalui tradisi (cultural diversity) Lengo Urup Banyu Urip yang pernah berkembang di sana. Kami juga bisa mempelajari dialektika flora-fauna (biodiversity) melalui Pohon Ficus  yang hidup di sana. Bahkan, kami juga bisa memahami ragam geologi (geodiversity) melalui jenis Batuan Karst yang berada di tempat itu.

Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu selalu mendorong kami terus berkembang sebagai para Scholar Aktivis, yang tak pernah berhenti belajar menjadi Intelektual Organik dalam membangun transformasi ekologis di wilayahnya masing-masing.

Suluk Geobiculta: Membangun Ekosistem Sosial Ekologis

Seorang Scholar Aktivis, kata dia, harus punya pertanggungjawaban moral untuk membangun keseimbangan ekosistem alam di tempat tinggalnya. Setidaknya, memahami kelestarian lingkungan alam di lokasi di mana ia menjalani hidup sehari-hari. Dan itu alasan kami menyusun Geobiculta sebagai pilar kurikulum Pendidikan Alternatif.

Visi Suluk Geobiculta

Suluk Geobiculta, merupakan kegiatan belajar bersama, dalam bingkai ekspedisi (pemahaman lapangan) dan diskusi (penguasaan literatur), dengan tiga pilar kurikulum: Geodiversity, Biodiversity, dan Cultural Diversity berbasis kearifan lokal. Kegiatan kami susun sejak tiga tahun ini, bertujuan untuk membangun perubahan sosial-ekologis ke arah positif.

Kami bercita-cita, kelak sekolah formal tak hanya mengajarkan ilmu untuk “pergi” dari kampung halaman, tapi juga mengajarkan ilmu untuk kembali dan “membangun” kampung halaman. Dan untuk bisa membangun kampung halaman, wajib “mengenali” lingkungan serta khazanah kearifan lokal. Ini alasan utama, kenapa kami membangun ekosistem itu sejak lama.

 

Tags: Biodiversitas BojonegoroGeodiversitas BojonegoroKERISKELOKAKurikulum Pendidikan AlternatifMakin Tahu IndonesiaSuluk Geobiculta
Previous Post

Serabi, Perhatian Pembangkit Kenangan

Next Post

KOPRI PC PMII Bojonegoro Ajak Generasi Muda Lindungi Anak Dari Penikahan Dini

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan
Sainsklopedia

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan

10/08/2025
‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan
Sainsklopedia

‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan

05/08/2025
‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro
Sainsklopedia

‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro

30/07/2025

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: