Bulan lalu, saya mendapat kejutan amat unik. Sebab jarang sekali orang-orang memiliki pemikiran seperti yang saya dapatkan saat itu. Bahkan sebelumnya, saya tidak pernah mendapatkannya.
Tepat saat saya sedang mengulang tahun kelahiran, mahluk dengan berbagai keanehan yang sering saya panggil Sisir itu memberi saya sebuah buku. Nabs, tentu saya sangat senang sekali.
Bagaimana tidak? Asupan buku saya sedikit bertambah pasca saya menyelami buku berjudul Midah Si Manis Bergigi Emas karya penulis kesohor Pramodya Ananta Toer itu.
Selain merasa senang, saya tergesa-gesa sekali untuk menyelesaikan pembacaan buku tersebut. Dan, wow!!, sejam setelah memegang buku tersebut, saya berhasil melahapnya cuma-cuma.
Buku itu memang tipis, ringan dan terkesan tidak berbobot, Nabs. Tapi jangan salah. Sebenarnya, buku itu sangat berbobot. Bukan dari segi beratnya. Tapi lebih pada isinya.
Fragmen buku 12 babak yang apik. Bercerita tentang perjalanan seorang biduan. Pahit asam manis kehidupan disampaikan Pram dengan gaya bahasa yang cukup berat.
Cerita Midah merupakan potret kehidupan perempuan dan realita sosial di masanya. Bahkan masih sangat kontekstual terhadap kenyataan hidup zaman ini.
Midah, gadis berparas cantik yang dilahirkan di tengah keluarga taat beragama. Hingga usia 9 tahun, kehidupan Midah sangat enak, ia dimanja dan karena Midah anak tunggal.
Namun, kenikmatan itu lenyap seketika saat ia mulai memiliki adik pertama, kedua dan seterusnya. Ia tidak lagi merasakan nikmatnya dimanja. Bahkan ia diperlakukan tidak adil dalam keluarganya.
Akhirnya, Midah dikawinkan dengan Haji Terbus dari kampung Cibatok. Orangnya gagah, makmur, tegap, berkumis lebat dan bermata tajam. Sayang, Midah baru tahu jika istri Terbus sudah banyak ketika dia sudah hamil tiga bulan.
Merasa tidak menemukan kedamaian dalam pernikahannya, Midah pun melarikan diri dari suaminya. Dengan membawa buah hatinya yang masih dalam kandungan.
Konflik bermula saat Midah yang terbiasa hidup berkecukupan, meninggalkan semua kemewahannya dan hidup melanglang buana tanpa tahu harus tinggal dimana.
Tidak berani langsung ke rumah orang tuanya, Midah menuju rumah Riah, pembantunya dulu. Riah menyampaikan kabar ini kepada Haji Abdul. Reaksinya marah sehingga Midah terpaksa pergi.
Dia lantas bertemu dan bergabung dengan sebuah kelompok pengamen keroncong.
Midah, tampil sebagai perempuan yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan “Si Manis Bergigi Emas” dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto lain, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga.
Dalam kondisi hamil berat, Midah memang tampak kelelahan. Tapi manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi. Dan ujung-ujungnya Midah memang kalah (secara moral) dalam pertaruhan hidup itu.
“Manusia tidak boleh menyerah pada kelalahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi” begitu, kata Pram dalam narasi kisah tersebut.
“Ah, Saudara, manusia ini kenal satu-sama-lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Memang tidak ada hasilnya untuk kemakmuran kita hendak mengenal diri, karena dia takkan menghasilkan kekayaan”
Seakan menusuk jatung setiap perempuan yang menyelami buku itu. Eh, bukan hanya perempuan saja. Laki-laki juga tertohok setelah membaca buku tersebut. Termasuk si Sisir yang memberi buku ini untuk saya, Nabs. Heheii.








