Saya kira, selama ini saya orang yang paling sibuk sedunia, namun kenyataannya, ayam jauh lebih sibuk daripada saya. Sebab saya hanya sibuk menghitung kesibukan belaka.
Kehidupan orang dewasa itu amat ruwet dan berbeda dengan kehidupan masa kecil. Kehidupan dewasa bisa dianalogikan serupa angin ribut yang menerjang sejumlah tempat akhir-akhir ini.
Bagaimana tidak ruwet, contoh kecil saja, sekarang mau minta uang sama orang tua rasanya kayak masuk dalam scene film yang disutradarai Hanung Bramantyo: dramatis. Di saat mau bilang “minta” tiba-tiba mulut serasa di gembok oleh tentara Belanda, yang sulit untuk berbicara.
Itu cuma beberapa kalimat yang saya bumbui dengan beberapa majas meskipun terkesan lebai saya tetap berusaha untuk belajar menjadi penulis yang baik dan sopan. Ya meskipun sampai sekarang masih stagnan di posisi penulis yang tidak sopan-sopan amat.
Kembali ke gembok,
padahal itu cuman minta uang ke orang tua. Betapa begitu ruwetnya perasaan receh sang penulis menggambarkannya. Selain itu ada kesibukan lain yang memperkeruh keruwetan ini.
Sebagai mahasiswa yang berlabel kaum intelektual — meski cuma labelnya saja — mau tidak mau harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah, yang selalu membayang bayangi setiap saat. Presentasi observasi adalah makanan sehari-hari.
Belum lagi ikut berproses di organisasi mahasiswa ekstra kampus, saya digodok di sana. Belajar bareng tentang ideologi yang menurut saya bermanfaat, terutama di point ketiga Tri Dharma perguruan tinggi, atau bisa diistilahkan sebagai investasi masa depan.
Sebab, toh pada akhirnya ilmu harus berguna di masyarakat. Meski sesungguhnya, hingga kini saya masih terlibat dalam lingkungan pergaulan anak muda yang suka santuy kek di pantuy dan masih merasa sangat tidak berguna.
Oh iya, ada seseorang yang sebelumnya belum pernah saya ramal masuk ke dalam kehidupan saya. Tidak terduga memang, ia adalah sosok misterius-jenius yang menggodok bakat terpendam saya sebagai penulis.
Singkat saja ia pernah bilang: Sibukanlah dirimu sampai kau tak mampu mencari kesibukan. Sebuah kalimat yang membuat saya masih bertahan untuk terus belajar menulis.
Sambil berselonjor mager di malam hari sekaligus bershodaqoh darah pada nyamuk, saya melanjutkan tulisan ini dan karena saking capeknya, saya malah ketiduran. Keesokan harinya baru saya lanjutkan.
Nabs, pernah nggak sih, saat menjalankan tugas namun waktunya berbenturan dengan tugas lain? Di jam yang sama? Lalu apa yang kau lakukan?
Saya sering banget nemuin kayak gitu. Dan jujur saja, saat kebentur momen seperti itu, saya ingin mempelajari jurus yang dilarang Hokage ke-2, yakni kagebunshin no jutsu. Sialnya, saya tak bisa mempelajarinya.
Pada akhirnya, mau ngga mau, saya harus mengorbankan jadwal lain. Sebab meski terbentur, saya punya cara sendiri untuk memprioritaskan waktu yang pernah saya baca dari buku Mark Manson berjudul Cara untuk Bersikap Bodo Amat.
Bukankah kita harus terbentur terbentur lalu terbentuk dulu untuk mencapainya?
Ya, inilah kehidupan. Mau ngga mau, harus mau kalau mau berproses menuju sukses ya ini lah indikator dari tujuan yang akan dicapai. Namun saya tak PD dengan semua itu, ketika takdir sudah menentukan semua, apalah daya kita yang cuma berstatus hamba.
Pernah saya coba kesibukan yang jarang saya jamah, yaitu UKM kesenian, tepatnya Divisi Musik. Ya memang sih saya ngga terlalu passionate di musik, namun berupaya menebar kontribusi positif saja.
Dari pengalaman berorganisasi, saya mencicipi betapa nikmatnya proses yang telah saya peroleh dari ORMEK— berpidato di atas Gazebo kampus yang berkayukan lapuk, namun semangatnya tak pernah lapuk.
Saya kira, selama ini saya orang yang paling sibuk sedunia, namun kenyataannya, ayam jauh lebih sibuk daripada saya. Sebab saya hanya sibuk menghitung kesibukan belaka.
Dan beginilah indahnya proses: dulu yang introvert apatis, kini menjadi orang yang gemar bicara.
Saya minta maaf kepada Mas Rizky, dia sosok yang selalu sabar memotivasi saya dalam beberapa hal. Terlebih saya sadar, terlalu banyak kekurangan yang saya miliki; kurang efektif dan produktif dalam penulisan, dan kurang cekatan mendapatkan perempuan. Eh
Dia selalu mengatakan pada saya; apapun itu, kerjakan yang kamu bisa dulu. Intinya, kamu harus menulis menulis dan menulis sampai jari jemarimu lempor. Setelah itu, kamu akan terbiasa. Saya selalu ingat kata-kata itu meski kegiatan akhir tahun ini sangat banyak sekali sampai saya lupa mandi, apalagi nulis. Hehe








