Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Syair Berdarah di Kota yang Gemah Ripah

Muhammad Andrea by Muhammad Andrea
29/08/2022
in Cecurhatan
Syair Berdarah di Kota yang Gemah Ripah

Perayaan telah usai dan semua kembali pada kesunyian masing-masing. 

Pada usia keberapa akan kuhabiskan hanya untuk melihat puluhan manusia hilir mudik melintasi ribuan bendera di trotoar. Pesta perayaan telah usai semua manusia kembali menjankan aktifitas seperti biasanya.

Kota kecilku hanya sebatas sungai bengawan dan rel kereta api panjang melintasi pulau jawa. Ada pun taman-taman kota hanya bersandar kepada para penganggur yang menikmati hidupnya sebagai orang hilang.

Sejak kemarau datang, mendung menggulung cuaca yang meriang ditubuhkan. Selain angin malam membujuk dingin, kota-kota kecil kepanasan di bawah terik matahari. Kau menelponku menjelang senja melepaskan diri di sebrang pulau.

Aku segera menjemputnya, ia tidak memakai map yang bisa dipakai siapa paun sebagai penunjuk jalan untuk sampai tujuan. Walaupun android yang sudah dimiliki masih saja enggan menggunakan, karena ia memilih bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Seperempat jam. Kau datang di sebuah tempat yang sebelumnya belum pernah berkunjung. Kau melihat-lihat ruangan dipenuhi jendela tanpa pintu, puluhan gambar termpampang seperti pameran seni rupa yang pernah di museum kebudayaan jambean.

Aku tahu, wajah murung dan mata sipitmu tak pernah teduh di depanku, entah! Dari apa aku harus memulai obrolan denganmu. Apa dengan kejuaran festival puisi atau kejuaran menyeduh kopi yang masih diminati puluhan juta warga Indonesia.

Memang, tidak semua peristiwa harus ada kemenangan dan kejuaraan. Bukankah hidup soal pertarungan, hidup soal permainan, dan hidup soal harapan. Maka barang siapa yang memberanikan diri bertarung ia telah menuntaskan diri sebagai pemberani bukan pemenang.

Walaupun demikian. Perjalanan harus tetap dijalani. Pada umumnya impian adalah cita-cita hari ini, bagaimana impian itu diciptakan, sebagaimana pula kita kelola emosi ceria dari setiap persoalan kehidupan.

Perlahan kau seduh kopi di meja depanmu. Mendengarkan suara-suara dari radio tua berbicara tentang angin-angin kemarau dan bujuk rayu mendung linglung hujan dipenghujung malam. Kau pun mulai bertanya, apa yang terjadi setelah sepuluh tahun melanda nasibmu hari ini.

Aku masih percaya nasib. Setiap kali kuberjalan-jalan, menghabiskan waktu di kota kecilku mengamati ratusan nasib berserakan di pasar kota. Mereka berangkat pukul satu pagi dan pulang pukul sembilan. Biar pun nasab sangat sedikit untuk bisa mengubah nasib.

Nasib adalah harga diri dan nilai-nilai hidup yang diciptakan sendiri bukan orang lain maupun kelompok. Menjadi diri sendiri dengan potensi yang bisa dikembangkan secara ideal.

Namun, kau masih saja tersapu malu. Tidak ada ceritanya hidup bersanding penderitaan selamanya. Banyak orang merasa menderita tetapi dilain sisi masih ada nilai kebahagiaan yang perlu dirawat. Biar lah pesakitan menjadi faktor utama untuk mendewasakan diri, meraih cita-cita mewujudkan impian.

Malam begitu cepat. Kita tidak sempat saling menatap mata, selain saling melempar bicara. Mendiskusikan tentang hidup dan kematian begitu mencemaskan, apalagi masa depan gugur di emperan perumahan.

Aku sudah merasakan, kau akan kembali ke kampung halaman beberapa menit kemudian, di tengah riuhnya secangkir kopi. Kau duduk sendirian di ruang tunggu, melihat orang-orang silih berganti masuk-keluar tanpa pamitan.

Ketidaknyamanan pun tumbuh di mejamu, kau tergegas habiskan secangkir kopi. Dan berpamitan pulang sebelum malam kembali pulih memilih dingin kemarau pagi.

Tags: Kota PuisiSyair Bojonegoro
Previous Post

Mendaur Ulang Perspektif tentang Sampah

Next Post

Meriahkan HUT RI ke-77, Warga Desa Kemiri Helat Pawai Budaya Tingkat Desa

BERITA MENARIK LAINNYA

KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges
Cecurhatan

KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

14/07/2026
Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya
Cecurhatan

Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

14/07/2026
Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan
Cecurhatan

Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan

13/07/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

15/07/2026
KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

14/07/2026
Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

14/07/2026
Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan

Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan

13/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: