Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Syekh Hatim dan Upaya Menyembunyikan Kentut Perempuan

Redaksi by Redaksi
06/05/2019
in JURNAKULTURA
Syekh Hatim dan Upaya Menyembunyikan Kentut Perempuan

Seorang perempuan datang ke rumah Syekh Hatim untuk curhat dan menanyakan sejumlah permasalahan. Perempuan itu bercerita tentang perkara yang ia hadapi, sekaligus meminta pendapat Syekh Hatim.

Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Syekh Hatim, perempuan tadi tak kuasa menahan angin hangat yang ingin keluar dari perut. Iya, perempuan itu ingin kentut.

Dengan kemampuan mengelola pernafasan dan kemampuan mengendalikan tekanan udara dalam tubuh, perempuan itu berupaya menyamarkan suara kentut di sela-sela suara pertanyaan yang terucap dari mulutnya.

Perempuan itu bersyukur karena kentut yang keluar dari tubuhnya, bisa tersamarkan secara rapi di sela-sela riuh suara perbincangannya bersama Syekh Hatim. Namun, keadaan itu tak berlangsung lama. Kentut susulan tiba-tiba datang begitu saja.

Dan sialnya, kentut kedua itu meloloskan diri secara tidak kondusif. Ia keluar saat pertanyaan telah usai diucapkan — kondisi sedang hening-heningnya — karena tinggal menunggu jawaban.

Alhasil, kentut pun terdengar jelas. Hingga membuatnya salah tingkah dan terdiam. Di tengah rasa malu luar biasa itu, tiba-tiba Syekh Hatim berkata dengan suara cukup keras.

“Mbak, tolong kalau bicara yang keras nggih, saya tuli,”

Namun, perempuan itu justru kebingungan. Malu dan bingung lebih tepatnya. Malu karena suara kentutnya didengar orang lain. Dan bingung karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara Syekh Hatim yang lebih keras lagi.

“Mbak, keraskanlah suaramu, aku benar-benar tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Syekh Hatim sambil menampakkan mimik bingung.

Perempuan tadi menduga sekaligus memastikan, Syekh Hatim seorang yang tuli. Perempuan itu pun merasa plong dan sedikit lega karena suara kentutnya tidak didengar Syekh Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Perempuan itu kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Syekh Hatim mendadak “menjadi tuli”. Bahkan, Syekh Hatim menjadi tuli selama perempuan itu masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan perempuan itu, Syekh Hatim terus berpura-pura tuli selama 15 tahun.

Kisah populer dan melegenda ini diceritakan oleh Syekh Abu Ali Ad-Daqqaq yang dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten dalam kitab Qomi`al-Thughyan.

Dalam kisah tersebut, menunjukkan betapa semangat menutupi keburukan orang lain, harusnya sama dengan semangat menunjukkan kebenaran pada orang lain.

————————————————

Selama Ramadhan ini, redaksi Jurnaba.co berupaya menghadirkan kisah-kisah pendek bermuatan hikmah. Semoga bisa jadi kisah yang asyik dibaca sambil menunggu waktu berbuka.

Tags: Menutupi KeburukanRamadhanSyekh Hatim
Previous Post

Di Bojonegoro, Tanggul Bengawan Solo Bisa Jadi Aset Wisata

Next Post

Bulan Puasa dan Kesan Pertama yang Menggoda

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

31/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: