Mengenalkan sholawat sejak dini, secara tak langsung, membuat anak akan mengagumi Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan sendirinya. Seperti dilakukan grup hadrah Syifa’ul Qolbi ini.
Masa kanak-kanak memang masa emas bagi penanaman perihal baik. Jika masa kecil sudah dikenalkan kebaikan, maka saat dewasa akan terbentuk pribadi luhur dalam hatinya.
Begitupun dalam menghidupi budaya sholawat dan menamkan rasa cinta pada Baginda Nabi Muhammad Saw, harus sejak kecil. Ini yang dilakukan salah satu Ustadzah di TPQ Al-Islah Dukuh Templek Desa Pilanggede Kecamatan Balen.
Melihat banyaknya santri yang mengaji menjadi potensi untuk dilatih rebana. Agar lebih giat lagi untuk berangkat ngaji. Berguna untuk mengisi kegiatan eksteakulikuler di TPQ tersebut.
Hadrah Syifa’ul Qolbi berdiri pada 2018. Masih sangatlah baru, sebelum 2018 para santri hanya sekadar mencoba membuat alat berbahan bambu, untuk mengiringi lantunan sholawat.
Lambat laun berjalan, kegigihan salah satu Utadzah yang bernama Nurul Mutmainnah — biasa disapa Ina — ingin mengembangkan rebana untuk santri-santri yang serius ikut latihan.
Berbuat baik akan timbul sebuah kebahagiaan. Setelah berjalanan satu tahun, nyatanya bisa membeli rebana. Satu set terbang dan bass kulit. Para santri mulai terus berlatih walau belum bisa maksimal.
“Alat-alat hadrah saya beli dari dana bantuan. Tanpa melibatkan orang-orang sekitar. Apalagi yang tidak suka juga banyak dengan anak-anak santri yang berlatih rebana. Mungki saja karena berisik. Begitulah ada-ada saja,” ucap Ina.
Tidak berhenti dari situ. Ina berhasil mencari pelatih rebana. Itupun mencari sendiri, ide-ide dari diri sendiri. Dia yakin bahwa kebaikan akan timbul kebaikan juga. Apalagi sholawat, pasti membawa keberkahan yang sangat luar biasa.
“Walaupun yang saya pakai untuk beli alat-alat ini uang pribadi. Tapi, saya tidak pernah minta ganti dari pihak intansi. Karena inilah yang namanya perjuangan. Harus ada yang dikorbankan,” jelasnya.
Setiap perjalanan pasti timbul tantangan. Dari cacian dan makian itu pasti ada. Apalagi kita hidup berdampingan dengan orang banyak.
“Saya berulang kali dicaci dengan kata-kata yang kurang enak. Tapi, tidak saya masukkan dalam hati. Kalau mendengarkan itu semua tidak akan berkembangan pola pikir kita,” ujar Ina.
Dana juga bisa menjadi hambatan. Karena alat rebana masih belum lengkap. Maka dari itu, hambatan salah satunya terkait donatur yang belum jelas. Begitu pula untuk para pelatih.
Tahun 2020 akhir, perkembangan mulai terlihat. Bisa membeli beberapa alat yang baru. Dan dipertemukan dengan pelatih yang ikhlas dari hati untuk menularkan ilmunya. Dari rumus habsy hingga banjari. Sampai saat ini masih terus berlatih. Setiap satu minggu dua kali.
“Walaupun sampai saat ini, perjuangan saya sendiri untuk tetap melestarikan budaya sholawat. Saya yakin bahwa suatu saat ada keberkahan,” imbuhnya.
Optimis yang ada di pikirannya. Dia selalu dipertemukan orang-orang baik. Yang mau melatih santri-santri untuk belajar rebana. Itulah yang menjadi alasannya, untuk tetap berjuang dalam ranah sholawat.
“Sampai saat ini alhamdulillah saya dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Saya yakin perjuangan ini tidak akan sia-sia. Entah sekarang atau besok,” tandasnya.
Jangan berhenti untuk berbuat baik pada sekitar kita. Ingatlah kebaikanmu akan dicatat oleh malaikat. Dan apa yang kamu tinggalkan di Dunia ini. Akan menjadi amal jariyah di akhirat nanti.








