Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Syifa’ul Qolbi dan Pengenalan Sholawat Sejak Dini (3)

Widodo Ramadhani by Widodo Ramadhani
15/04/2021
in JURNAKULTURA
Syifa’ul Qolbi dan Pengenalan Sholawat Sejak Dini (3)

Mengenalkan sholawat sejak dini, secara tak langsung, membuat anak akan mengagumi Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan sendirinya. Seperti dilakukan grup hadrah Syifa’ul Qolbi ini. 

Masa kanak-kanak memang masa emas bagi penanaman perihal baik. Jika masa kecil sudah dikenalkan kebaikan, maka saat dewasa akan terbentuk pribadi luhur dalam hatinya.

Begitupun dalam menghidupi budaya sholawat dan menamkan rasa cinta pada Baginda Nabi Muhammad Saw, harus sejak kecil. Ini yang dilakukan salah satu Ustadzah di TPQ Al-Islah Dukuh Templek Desa Pilanggede Kecamatan Balen.

Melihat banyaknya santri yang mengaji menjadi potensi untuk dilatih rebana. Agar lebih giat lagi untuk berangkat ngaji. Berguna untuk mengisi kegiatan eksteakulikuler di TPQ tersebut.

Hadrah Syifa’ul Qolbi berdiri pada 2018. Masih sangatlah baru, sebelum 2018 para santri hanya sekadar mencoba membuat alat berbahan bambu, untuk mengiringi lantunan sholawat.

Lambat laun berjalan, kegigihan salah satu Utadzah yang bernama Nurul Mutmainnah — biasa disapa Ina — ingin mengembangkan rebana untuk santri-santri yang serius ikut latihan.

Berbuat baik akan timbul sebuah kebahagiaan. Setelah berjalanan satu tahun, nyatanya bisa membeli rebana. Satu set terbang dan bass kulit. Para santri mulai terus berlatih walau belum bisa maksimal.

“Alat-alat hadrah saya beli dari dana bantuan. Tanpa melibatkan orang-orang sekitar. Apalagi yang tidak suka juga banyak dengan anak-anak santri yang berlatih rebana. Mungki saja karena berisik. Begitulah ada-ada saja,” ucap Ina.

Tidak berhenti dari situ. Ina berhasil mencari pelatih rebana. Itupun mencari sendiri, ide-ide dari diri sendiri. Dia yakin bahwa kebaikan akan timbul kebaikan juga. Apalagi sholawat, pasti membawa keberkahan yang sangat luar biasa.

“Walaupun yang saya pakai untuk beli alat-alat ini uang pribadi. Tapi, saya tidak pernah minta ganti dari pihak intansi. Karena inilah yang namanya perjuangan. Harus ada yang dikorbankan,” jelasnya.

Setiap perjalanan pasti timbul tantangan. Dari cacian dan makian itu pasti ada. Apalagi kita hidup berdampingan dengan orang banyak.

“Saya berulang kali dicaci dengan kata-kata yang kurang enak. Tapi, tidak saya masukkan dalam hati. Kalau mendengarkan itu semua tidak akan berkembangan pola pikir kita,” ujar Ina.

Dana juga bisa menjadi hambatan. Karena alat rebana masih belum lengkap. Maka dari itu, hambatan salah satunya terkait donatur yang belum jelas. Begitu pula untuk para pelatih.

Tahun 2020 akhir, perkembangan mulai terlihat. Bisa membeli beberapa alat yang baru. Dan dipertemukan dengan pelatih yang ikhlas dari hati untuk menularkan ilmunya. Dari rumus habsy hingga banjari. Sampai saat ini masih terus berlatih. Setiap satu minggu dua kali.

“Walaupun sampai saat ini, perjuangan saya sendiri untuk tetap melestarikan budaya sholawat. Saya yakin bahwa suatu saat ada keberkahan,” imbuhnya.

Optimis yang ada di pikirannya. Dia selalu dipertemukan orang-orang baik. Yang mau melatih santri-santri untuk belajar rebana. Itulah yang menjadi alasannya, untuk tetap berjuang dalam ranah sholawat.

“Sampai saat ini alhamdulillah saya dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Saya yakin perjuangan ini tidak akan sia-sia. Entah sekarang atau besok,” tandasnya.

Jangan berhenti untuk berbuat baik pada sekitar kita. Ingatlah kebaikanmu akan dicatat oleh malaikat. Dan apa yang kamu tinggalkan di Dunia ini. Akan menjadi amal jariyah di akhirat nanti.

Tags: Grup HadrohHadroh BojonegoroSeni Hadroh
Previous Post

Hadrah Al-Isro', dari Santri Ngaji hingga Perjuangan Syiar Sholawat (2)

Next Post

Al-Khabiburosul dan Kegigihan Mempertahankan Budaya Sholawat (4)

BERITA MENARIK LAINNYA

Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah
JURNAKULTURA

Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah

23/07/2026
Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Alas Institute dan Mahasiswa Bojonegoro Satukan Langkah Wujudkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Alas Institute dan Mahasiswa Bojonegoro Satukan Langkah Wujudkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

29/07/2026
Warga Leran dan Sukoharjo Gotong Royong Bangun Jalan, Perkuat Akses Ekonomi Kalitidu

Warga Leran dan Sukoharjo Gotong Royong Bangun Jalan, Perkuat Akses Ekonomi Kalitidu

29/07/2026
Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu

Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu

29/07/2026
Pemain Bintang dan Sebuah Kepemimpinan

Pemain Bintang dan Sebuah Kepemimpinan

28/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: