Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Tentang Mbah Jatmiko: Penasihat Spiritual Gus Dur dari Mojokerto (1)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
26/12/2024
in Figur
Tentang Mbah Jatmiko: Penasihat Spiritual Gus Dur dari Mojokerto (1)

Suatu ketika anda mengunjungi Kota Mojokerto, entah berziarah ke makam Syaikh Jumadil Kubro, sowan KH Husein Ilyas atau sekadar ingin mengetahui jejak dan situs-situs Majapahit yang tersisa, sempatkanlah barang sebentar untuk berziarah ke makam Mbah Jatmiko, salah satu dari ulama khos di Mojokerto.

Dari arah Malang melewati tahura Raden Suryo, teruslah menyusuri jalan raya pacet sampai di pertigaan Sajen. Arahkan kendaraan anda ke barat laut hingga sampai di pertigaan Pasar Gondang. Teruskanlah ke arah barat hingga Pasar Pohjejer. Sempatkan untuk bertanya kepada orang yang anda temui, dimanakah makam Mbah Jatmiko? dijamin mereka pasti tahu.

Baca Juga: Gunung Jali, Mercusuar Dakwah Syekh Jumadil Kubro di Blora dan Bojonegoro

Ya, Mbah Jatmiko. Nama tokoh ini begitu masyhur di area Mojokerto dan sekitarnya. Ia merupakan sosok kiai kharismatik pada masa yang telah lampau. Makamnya yang terletak di dusun Bacem, Desa Bening, Kecamatan Gondang, kerap diziarahi oleh banyak orang, terutama santri-santri Thoriqoh Naqsyabandiyah Aliyah Pondok Pesantren Baiturrohmah, Ciliwung, Malang. Sebuah pondok pesantren yang diasuh oleh Al-Maghfurlah Syaikh Abdul Hayyi Muhyidin Al-Amin.

Mbah Jatmiko sendiri merupakan ‘santri kinasih’ ulama yang akrab di sapa Mbah Hayyi tersebut. Dalam sebuah kesempatan, Mbah Hayyi pernah berkata kepadanya.
“Jat, tugasku bagian nanduri ono dodone murid-muridku kabeh, Tugasmu ngramut tanduranku Jat” (Jat, tugasku adalah menanam di dada murid-muridku semuanya. Tugasmu adalah merawat apa yang telah saya tanam).

Secara eksplisit, perkataan itu simbol kedekatan personal antara guru dengan murid. Lebih dari itu, juga sebuah mandat. Semasa hidupnya, Mbah Jatmiko kerap berjalan kaki dari satu daerah ke daerah lain untuk menjalankan misi dakwah.

Beliau melakukan pembinaan terhadap santri-santri yang telah berbaiat Thoriqoh kepada Mbah Hayyi. Terhitung dari ujung timur, Banyuwangi, hingga sampai ke Gresik. Semua dilakukan dengan tulus, realisasi pertanggung jawabannya terhadap perintah Sang Guru.

Pertemuan Mbah Jatmiko dan Mbah Hayyi

Mempunyai nama lengkap Muhammad Jatmiko, ia terlahir dari pasangan Bapak Niti dan Ibu Kaminten. Pendidikan agama ia peroleh dari kedua orang tuanya dan guru-guru ngaji di sekitar rumahnya. Jatmiko muda mempunyai kegemaran menjalankan riyadloh ditempat-tempat yang dianggap keramat. Ia juga banyak berguru kepada sejumlah orang yang dikenal sakti. Salah satunya bernama Mbah Toif.

Sosok satu ini berasal dari Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Mojokerto. Berkat bimbingan Mbah Toif, Jatmiko muda menjalani serangkaian lelaku spiritual. Mulai puasa, beragam wirid, hingga bermeditasi dari satu gua ke gua lain. Sehingga dalam usia yang terbilang muda, Jatmiko sudah menyandang predikat sebagai orang sakti.

Pertemuan Jatmiko dengan Mbah Hayyi diawali ketika Jatmiko tengah bertapa di area hutan yang terletak di Kawasan Pacet Mojokerto. Dengan konsentrasi penuh, ia memusatkan hati dan fikiran kepada Allah semata. Buah dari pertapaannya, terpancarl cahaya dari sekujur tubuh Jatmiko. Hingga pada suatu hari, pancaran cahaya tersebut terlihat oleh basyirah KH Abdul Hayyi Muhyidin Al-Amin ketika beliau melewati kawasan Pacet.

Sebagai seorang mursyid yang masyhur dengan kewaliannya, Mbah Hayyi telah diberi berbagai anugerah oleh Allah, salah satunya ketajaman mata batin. Dengan mudah, Mbah Hayyi dapat menemukan asal-muasal cahaya tersebut. Segera ia mendatangi tempat Jatmiko. Entahlah, bagaimana metode Mbah Hayyi dalam membujuk Jatmiko, sehingga ia terbangun dari pertapaannya, lantas mengajaknya untuk ikut serta ke Pondok Baiturrohmah Ciliwung. Walhasil, keduanya pun berangkat bersama-sama ke Malang.

Sampai di ndalem, dua orang itu disambut dengan kicauan merdu dari burung perkutut milik Mbah Hayyi. Tiba-tiba saja, dengan kesaktian yang telah dimiliki, Jatmiko sengaja membuat burung itu bisu. Suara kicau terhenti seketika. Diam. Dalam hati, Jatmiko berniat unjuk gigi terhadap Mbah Hayyi. Sejurus kemudian Mbah Hayyi berkata.
“Lapo e Jat, manuk penak-penak ngoceh kok malih dadi meneng?” (Mengapa sih Jat, burung enak-enaknya berkicau kau buat jadi diam)
“Daripada membuat burung terdiam, mendingan kamu memanen buah kelapa, itu loh ada pohon kelapa, silahkan ambil” tangan Mbah Hayyi menunjuk sebuah batang pohon kelapa yang tumbuh di halaman rumah. Sekitar tiga atau dua depa dari tempat berdiri Mbah Hayyi.

Jatmiko memejamkan kedua bola matanya barang sebentar, lantas melambaikan tangan kanannya ke arah pohon kelapa yang dimaksud. Ajaib. Dengan izin Allah, pohon itu merunduk, melengkung ke arah Jatmiko. Dengan begitu, Jatmiko lebih leluasa memetik buah kelapa tersebut. Baru saja ia memetik satu butir, terdengar suara lantang Mbah Hayyi yang menggema.
“Ngunduh klopo iku ora ngunu Jat carane” (memanen kelapa itu tidak begitu Jat caranya).
“Ngene lo” (begini loh), Kedua telapak tangan Mbah Hayyi bertepuk. “Plok.. plok.. plok..” Seketika butir-butir buah kelapa jatuh semua.

Berhamburan ke sana kemari. Menggelinding di sekitar halaman rumah Mbah Hayyi. Merasa dikalahkan oleh Mbah Hayyi, Jatmiko-pun takluk. Ia bersedia berguru kepada KH. Abdul Hayyi Muhyidin di Pondok Pesantren Baiturrohmah Ciliwung. Pasca itu, jalan hidup Jatmiko berubah, ia menjadi seorang asketik sejati.

Dengan kontinyu, ia belajar Tasawuf kepada Mbah Hayyi hingga bertahun-tahun. Pada gilirannya, ketekunan itu membuahkan hasil, mengantarkan sosok Jatmiko menjadi sufi dalam arti yang sebenarnya. Hingga dikemudian hari, namanya dikenal khalayak sebagai Mbah Jatmiko, sosok kiai khos dari Mojokerto. Salah satu dari deretan Kiai Kharismatik yang kerap dimintai nasihat oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dalam versi lain, ketika Jatmiko berada di ndalem Mbah Hayyi, pandangan matanya tertuju ke beberapa butir kelapa muda yang tumbuh di halaman. Terbesit dalam hatinya untuk meneguk air kelapa tersebut untuk mengusir rahasa haus pasca berjalan kaki dari Mojokerto ke Malang. Batang pohon segera ditepuknya. Dalam hitungan detik, berguguran seluruh butir buah kelapa.

Menyikapi kejadian itu, dengan enteng Mbah Hayyi berseloroh,
“Ngono iku jek kasar Jat, ngene loh” (Yang demikian masih terbilang kasar Jat, begini loh), Mbah Hayyi melambaikan tangan kanannya ke salah satu pohon kelapa. Ajaib. Pohon itu bengkok ke arah Mbah Hayyi.
“Wis jupuken sak perlune ae” (sudah, ambil seperlunya saja)
Merasa dikalahkan oleh Mbah Hayyi, seketika Jatmiko takluk.

Artikulasi Kesabaran

“Wong kuat iku dudu sing kebal teko gaman, tapi wong kuwat iku sing diparingi sabar Jat” (orang yang kuat itu bukanlah orang yang kebal akan senjata tajam, tapi orang yang kuat itu adalah orang yang sabar, Jat). Demikian nasihat perdana Mbah Hayyi ketika berhasil menundukkan Jatmiko. Tentang esensi sebuah kekuatan. Kekuatan yang terbungkus dalam lanskap kesabaran.

Satu jenis kekuatan yang dapat meluruhkan segenap elemen-elemen rendah, seperti api kesombongan, gas beracun emosi, disfungsi riya atau virus-virus dengki. Artikulasi dari sebuah kesabaran inilah yang tercermin dari kepribadian Mbah Jatmiko. Baik melalui nasihat yang ia sampaikan maupun perilakunya sehari-hari. Dus, Mbah Jatmiko adalah pengejawantahan kesabaran itu sendiri.

Seperti pernyataan yang dilontarkan Gus Wahid, salah satu putra Mbah Jatmiko dalam sambutannya di acara Haul Mbah Jatmiko, “Mbah Jat niku sing di amalaken namung innalloha ma’as shobirin” (Mbah Jat itu yang diamalkan hanyalah bunyi ayat, Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar).

Sumber Cerita :
Gus Abdul Wahid, Pacet. Mojokerto. (putra Mbah Jatmiko)
M. Saifuddin, Kragan, Rembang. (santri PP. Baiturrohmah, Malang)
Saifuddin Zuhri, Kel. Sisir, Batu. (santri PP. Baiturrohmah, Malang)

Tags: Bulan Gus DurGus DurMbah Djatmiko
Previous Post

Biografi Singkat KH Moh. Ridwan: Pejuang Dakwah Tak Kenal Lelah

Next Post

Pangeran Diponegoro: Genealogi Jipang dan Ideologi Kesultanan Pajang

BERITA MENARIK LAINNYA

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah
Figur

Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah

20/03/2026
Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman
Figur

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

18/03/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: