Peristiwa mati listrik yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada Minggu (4/8/2019) menyisakan banyak cerita. Siapa sangka, peristiwa yang berlangsung beberapa jam tersebut membuat kita semakin sadar bahwa renewable energy memang dibutuhkan.
Jakarta, begitu pula dengan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi alias Jabodetabek merupakan kawasan megapolitan. Bisa dikatakan, mereka jantung negara Indonesia. Bagaimana tidak. Pusat dari segala pusat rasanya dilimpahkan begitu saja di kawasan ini.
Mulai dari pusat pemerintahan eksekutif, legislatif, ekonomi, jagat hiburan, hingga industri kreatif. Rasanya, hampir semuanya berkiblat pada kawasan Ibukota Indonesia ini. Nabs, bayangkan apa yang terjadi jika ada satu faktor yang membuat jantung ini berhenti berdetak. Gimana, sudah kebayang?
Kiranya ilustrasi tersebut bisa menggambarkan bagaimana jika Jakarta, aau lebih parah lagi, Jabodetabek mengalami kelumpuhan akibat satu dan lain hal. Nah, pada Minggu, (4/8/2019) yang lalu. Kawasan ini sempat dilumpuhkan akibat listrik yang mati suri.
Sebagai kawasan yang malam-malamnya bertabur bintang merkuri. Alias bintang artifisial berupa lampu di sana-sini. Kehilangan listrik ibarat kehilangan separuh nyawa.
Meski, ada sebagian organ Jabodetabek yang dianugerahi listrik independen dari genset. Taman Impian Jaya Ancol misalnya. Mereka tetap menyuguhkan hiburan bagi para pengunjung yang datang.
Itu Ancol, Nabs. Bagaimana dengan rumah-rumah di daerah Jabodetabek? Mereka yang tidak memiliki keistimewaan seperti genset?
Usai balada mati listrik dan para netizen Ibukota bisa men-charge gawainya, sosial media diramaikan oleh keluh dan kesah. Mulai dari ikan koi yang mati. Hingga perspektif anti-mainstream yang muncul seperti membayangkan kondisi apokalips, andai sumber daya di dunia mendadak hilang begitu saja.
Akun Twitter @JJRizal mengeluhkan bahwa 43 ekor ikan koinya mati. Sebab tak ada listrik yang mampu menggerakkan mesin aerator yang menyuplai oksigen ke kolam ikan.
total koi saya korban @pln_123 di dua kolam sebanyak 43 ekor
april 2018 lalu, saya dituduh merugikan @pln_123 dikenakan pasal P2TL wajib membayar 28 juta
apakah kali ini @pln_123 yg merugikan bikin koi saya mati mau membayar ganti rugi kepada saya?https://t.co/t2QdxdJANm pic.twitter.com/Nc9Q9oM6GO
— JJ Rizal (@JJRizal) August 4, 2019
@JJRizal menyayangkan betapa tragedi mati listrik ini bisa berlangsung lebih lama dari yang ia kira. Yang lebih tragis lagi, pada tahun 2018 lalu, pemilik akun @JJRizal pernah dituduh merugikan PLN dan diminta untuk membayar denda sebesar 28 juta rupiah.
total koi saya yg jadi korban pemadaman @pln_123 di dua kolam sebanyak 43 ekor
pada april 2018, saya pernah dituduh merugikan @pln_123 dikenakan pasal P2TL wajib membayar 28 juta
apakah ketika kali ini @pln_123 merugikan bikin koi saya mati mau membayar ganti rugi ke saya? pic.twitter.com/Is72w2LC11
— JJ Rizal (@JJRizal) August 4, 2019
Kasus ini rupanya lebih kompleks dari ikan peliharaan kesayangan yang mati. Namun juga tentang betapa kompleksnya tata kelola energi di negeri ini.
Listrik merupakan aspek yang mempengaruhi hajat hidup banyak orang. Karena itu, negara mengambil kebijakan untuk memonopoli distribusi listrik dalam naungan BUMN PLN.
Akun Twitter @sushiaftergym juga menjabarkan informasi terkait listrik dan tata kelolanya. Ia menjelaskan mengapa listrik harus dimonopoli, pembangkit yang dimiliki oleh negara, serta perihal renewable energy.
“Dulu kala, waktu generator listrik masih berukuran kecil-kecil, bisa dibilang tiap (beberapa) konsumen punya pembangkit listrik/genset-nya sendiri. Dengan berkembangnya teknologi, pembangkit listrik bisa jadi makin besar sehingga makin ekonomis.” ujar @sushiaftergym dalam salah satu cuitannya.
Dari penjelasan panjang lebar tersebut Nabs, logikanya listrik memang akan lebih murah dan bisa dijangkau masyarakat ketika dikelola serta didistribusikan oleh satu pihak saja. Meskipun dalam kenyataannya, negara membagi pengelolaan pembangkit listrik ke beberapa perusahaan.
Ini membikin setiap orang di negara bergantung pada satu entitas saja. Jika kesalahan terjadi, dan entitas terkait tidak cepat tanggap dalam mengatasinya. Maka masalah yang cukup pelik bisa terjadi.
Sedang kita yang membutuhkan listrik untuk aktivitas dan kehidupan sehari-hari. Kadang tak memiliki antisipasi untuk menghadapi potensi masalah yang tiba-tiba muncul.
Dari sini, kita semakin sadar. Bahwa sudah saatnya renewable energy atau energi terbarukan keluar dari tataran isu atau wacana. Masing-masing dari kita perlu untuk membikin energi terbarukan menjadi solusi. Tidak hanya alternatif.
Di negara-negara maju, penggunaan renewable energy sudah sering dilakukan. Contohnya penggunaan solar energy atau tenaga matahari. Jerman menjadi satu di antara negara maju yang mengembangkan tenaga matahari.
Di beberapa tempat di Jerman, penggunaan panel surya untuk suplai energi terlihat masif. Lewat panel surya tersebut, Jerman bisa menghasilkan banyak energi untuk aktivitas masyarakatnya.
Selain tenaga matahari, ada pula renewable energy yang mulai digunakan dan dikembangkan. Seperti energi dari angin, biomass hingga hydropower geothermal.
Melihat betapa manusia telah menggantungkan hidup pada energi listrik. Rasanya kita perlu menikmati moment of silent. Mensyukuri aliran listrik yang tidak mampu kita lihat perputaran energinya. Namun mampu kita rasakan manfaatnya.








