Melakukan City Branding serupa memperkenalkan diri pada si dia. Butuh sedikit cari perhatian (caper) dan lebih banyak doa sekaligus upaya.
City Branding tidak bisa dilakukan tanpa melibatkan penelitian dan pemikiran yang matang. Sebab, melakukan City Branding secara asal hanya akan menghabiskan tenaga dan biaya, tanpa hasil yang jelas.
Dan Salganik, pengelola VisualFizz — sebuah agensi digital marketing berbasis di Chicago yang sudah menangani 500-an brand perusahaan internasional — dalam sebuah esainya menerangkan, City Brand butuh banyak pertimbangan.
Serupa mengkampanyekan calon bupati maupun mempromosikan sebuah produk, membranding kota butuh banyak pemikiran dan pertimbangan. Sialnya, banyak kota berupaya membranding citra tanpa melakukan penelitian memadai.
Forbes pernah mendata, 86 persen upaya membranding kota gagal sia-sia karena tidak melalui pertimbangan dan pemikiran matang, alih-alih sebuah penelitian.
Padahal, kampanye branding yang sukses — tentu dengan melibatkan penelitian-penelitian sebelumnya — dapat mengubah kota mana pun menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Sebab, identitas yang kuat — yang dibentuk melalui sebongkah penelitian — sangat penting. Mengingat, tiap kota harus bersaing dengan kota tetangga untuk mendapat perhatian publik dalam urusan bisnis maupun pariwisata.
Salganik menghimpun ada 5 kunci sukses sebelum, sesaat dan pasca melakukan branding kota. 5 perihal yang menjadi kunci tersebut, antara lain:
1. Menentukan Tujuan yang Jelas
Sangat penting mengetahui dengan tepat apa yang ingin dicapai dan hasil spesifik yang dicari dari strategi yang akan dilakukan. Tujuan ini harus ada, agar pemerintah kota membikin keputusan yang tepat efektif.
2. Mengetahui Audience yang Cocok
Memahami target audien sangat penting. Memang, menjadikan seluruh dunia sebagai target audiens sangat bagus. Tapi, kita tahu, hampir tidak mungkin menghasilkan strategi branding yang dapat menarik bagi semua orang. Merampingkan target audien bakal memicu prioritas yang tepat.
3. Harus Benar-benar Mengenal Kota Mencipta “persona” ideal sebuah kota, harus lebih dahulu mengetahui dan memahami kota yang ada saat ini. Harus ada identifikasi semua aspek positif dan negatif yang ada di dalam kota. terkait dengan kota maupun yang negatif. Sehingga, sisi positif bisa digemakan — sementara sisi negatif dihilangkan.
4. Ada Pembandingan dan Tolok Ukur
Keberhasilan city branding dapat diukur hanya jika ada parameter atau tolok ukur keberhasilan. Memiliki tolok ukur sangat penting. Tolok ukur harus realistis dan memiliki jangka waktu yang wajar untuk diselesaikan. Sehingga, jika terbukti gagal, bisa ganti strategi.
5. Strategi Media dan Penyelarasan Brand
Semua aspek pemasaran digital harus sesuai dengan pemasaran fisik yang ada. Artinya, situs web dan strategi media sosial yang ada harus sesuai dengan apa yang dikampanyekan. Ketidakselarasan akan memicu dampak buruk.
Nabs, ingat, kota tidak bisa didefinisikan dengan satu gambar atau logo saja. Ini yang memicu proses branding kerap gagal. Secara umum, sebuah kota harus didefinisikan oleh banyak atribut. Artinya, mencipta identitas melibatkan pemahaman semua atribut untuk menuju definisi yang sama.
Dan banyak atribut tersebut, bisa dirampingkan dengan membikin gambar dengan komposisi; citra kota yang indah, tipografi modern, dan logo yang menarik. Dengan menggabungkan tiga atribut ini, sudah mampu mewakili banyak hal tentang kota yang sedang di-branding.
Ingat, sebuah gambar tidak serta Merta membikin seseorang ingin pindah ke kota tersebut. Namun, bakal memicu minat untuk berkunjung. Sehingga, banyak individu yang tertantang untuk memahami lebih dalam kota tersebut.
Begitulah, Nabs, melakukan City Branding serupa memperkenalkan diri pada si dia. Butuh sedikit cari perhatian (caper) dan lebih banyak doa sekaligus upaya. Jadi, gimana? Hehe








