Perkembangan musik Jazz di Bojonegoro terbilang cukup baik. Hal ini ditandai dengan banyaknya acara Jazz yang digelar di Bojonegoro dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah indikasi bahwa dunia musik di bumi Angling Dharma semakin berwarna.
Bojonegoro punya pilihan genre musik yang beragam. Ada banyak aliran musik pop yang bisa didengar di café maupun panggung pertunjukkan lain. Ada pula musik bawah tanah atau Underground yang punya penikmat tak sedikit. Dan genre musik Jazz di Bojonegoro sendiri mulai menunjukkan eksistensinya dalam 5 tahun terakhir.
Ada komunitas musik Jazz di Bojonegoro bernama Jacob. Jacob merupakan singkatan dari Jazz Community Bojonegoro. Komunitas ini berisikan orang-orang yang menyukai musik Jazz. Pergerakan Jacob sudah dimulai sejak 2014 silam.
Selain berkumpul dan membicarakan Jazz, komunitas Jacob juga sering membuat pertunjukkan musik. Pada 2015, mereka menggelar acara Bojazznegoro pertama di Warung Apresiasi. Menurut dedengkot Jacob, Listra Yonathan, Jacob hadir untuk memberikan edukasi musik Jazz baik teori maupun praktek.
“Jacob memberikan edukasi sekaligus manfaat bermain musik Jazz kepada orang-orang yang ingin belajar genre ini. Setelah proses teori, nanti akan ada praktek lewat pagelaran Bojazznegoro,” ungkap alumni SMPN 2 Bojonegoro tersebut.
Listra menjelaskan jika peminat musik Jazz di Bojonegoro cukup banyak. Hal ini ditandai dengan banyaknya penonton yang hadir saat pagelaran Bojazznegoro berlangsung. Dari situ juga mulai banyak orang yang tertarik untuk menggeluti musik Jazz.
Perkembangan musik Jazz di Bojonegoro makin menggeliat lewat pagelaran megah bertajuk Jazz Bengawan. Acara tersebut awal kali diadakan pada akhir 2017 silam. Uniknya, acara ini diinisiasi oleh pemuda Desa Ledok yang tinggal di sekitaran bantaran sungai Bengawan Solo.
Pentas Jazz Bengawan tersebut langsung mencuri perhatian penikmat musik di kota Ledre. Penyebabnya adalah bintang utama dari acara tersebut. Tak tanggung-tanggung, pada pagelaran Jazz Bengawan 2017, bintang tamu yang diundang tampil adalah Payung Teduh.
Hadirnya Payung Teduh di acara Jazz Bengawan tak serta merta menjadi sajian utama. Band dan musisi Jazz lokal asal Bojonegoro juga mendapatkan kesempatan untuk tampil. Jazz Bengawan sendiri akan menjadi acara rutin yang diadakan tiap tahun dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro.
Di tahun kedua (2018), Jazz Bengawan kembali mengundang musisi kondang. Ada musisi Jazz perempuan yang sudah hilir mudik di berbagai festival Jazz tanah air yakni Nita Artseen. Ada pula musisi Jazz asal Perancis, Jean Sebastian.
Setelah keberadaan Bojazznegoro dan Jazz Bengawan, atmosfer musik Jazz di bumi Angling Dharma semakin semarak lewat Festival Geopark. Acara utama dari Festival Geopark tersebut adalah suguhan musik Jazz dari para bintang tamu musisi papan Indonesia.
Festival yang diadakan di kawasan wisata Kahyangan Api selama dua hari, dari 24-25 November tersebut melibatkan musisi kenamaan seperti Anji dan Regina Ivanova. Tak ketinggalan penampilan musik etnik dari seniman kondang, Djaduk Ferianto.
Tak hanya memberi panggung kepada musisi papan atas Indonesia saja, Festival Geopark juga memberi tempat kepada musisi asli Bojonegoro. Selain musisi Jazz, ada juga pengusung musik etnik asal Bojonegoro yang ikut serta dalam pertunjukkan aksi kolosal tersebut.
Banyaknya pagelaran musik Jazz di Bojonegoro dalam lima tahun terakhir ini tentu memberi warna tersendiri bagi dunia musik dan seni di kota Ledre. Pilihan musik dari genre berbeda semakin membikin Bojonegoro lebih variatif. Bukan tidak mungkin jika pagelaran seni musik bisa menarik wisatawan untuk datang dan berkunjung ke Bojonegoro.









Comments 2