Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Makna Lain di Balik Istilah Dunia Bekerja secara Unik

A. Farid Fakih by A. Farid Fakih
09/03/2020
in Cecurhatan
Makna Lain di Balik Istilah Dunia Bekerja secara Unik

Hanya orang peka dan lihai merasa yang bisa menikmati kerja dunia secara unik. Tapi saya pikir perlu menambah satu hal: ya, setelah orang itu berkenan akrab dengan sunyi dan menikmati waktu dengan cara tak tergesa-gesa.

Kenangan tentang Jakarta masih melekat di kepala, meski pada Rabu, 4 maret 2020, tubuh saya perlahan beringsut menapaki bumi Surabaya. Kereta Kertajaya membikin saya menikmati perjalanan yang panjang itu dan melupakan rasa pegal yang saya rasakan sebelumnya.

Buku The Power of Habit tak berhasil saya selesaikan di gerbong nomor empat. Dan lewat sebuah bisikan dinihari, saya membuka Jurnaba.co untuk menyaksikan apa yang telah ditelurkan guru saya yang cenderung menyerupai filsuf, Wahyu Rizkiawan, di laman tersebut.

Rasa kantuk saya buyar, dan perasaan seperti memperoleh harta karun menyeruak dalam diri manakala membaca Pria Tampan Melankolis yang Pandai Menulis, yang ditulis olehnya. Itu adalah tulisan tentang Orhan Pamuk, seorang penulis Turki yang memiliki kemiripan peristiwa dengan seorang penulis legenda di Tanah Air, Pramoedya Ananta Toer.

Yang bikin bibir saya menganga layaknya membunyikan huruf “O” adalah, ternyata Pamuk berbeda dari asumsi selama ini: seorang pria tua, renta, cerewet, dan galak. Saya mengingat bagian ini lama sekali.

Sebab, di masa kuliah, seorang dosen meminta saya menganalisis karya Pamuk berjudul Snow. Dengan ogah-ogahan dan tenaga sekadarnya ketika mengerjakan tugas itu, saya berimajinasi bahwa mungkin Pamuk adalah kakek tua yang bermukim di negeri gurun pasir.

Dan sekian tahun kemudian, lewat paparan penting Wahyu Rizkiawan, saya tahu Pamuk adalah seorang pria yang tampan, terlihat ramah, mungkin baik, dan memiliki senyum yang tak terkesan mengintimidasi. Oh, betapa ruginya lamunan saya selama ini!

Saya pikir itu adalah kinerja dunia yang berjalan begitu unik. Dengan hal-hal tanpa sengaja saya ditunjukan-Nya pada teka-teki yang dulu pernah saya cari, di waktu yang tepat; tak kurang dan tak lebih.

Oh apakah saya berlebihan menyebut dunia berjalan dengan uniknya? Mungkin bisa dieja begitu. Namun saya perlu memaparkan hal lain, misalnya, bagaimana kita bisa menjelaskan rentetan peristiwa yang terjadi seperti sebuah narasi cerita pendek?

Mengapa harus tengah malam saya mendapati sosok Pamuk? Mengapa perlu melalui rangkaian panjang perjalanan kereta? Mengapa mesti lewat tulisan Wahyu Rizkiawan? Dan mengapa saya perlu menjelaskan sepanjang ini di naskah ini? Oh, saya buntu dan satu-satunya kosa kata yang sesuai adalah: Dunia Bekerja Secara Unik.

**

Langkah kaki orang-orang bergerak cepat dan buru-buru saja terhenti pada pintu masuk Stasiun Jatinegara. Satu persatu, tangan-tangan yang menggenggam kartu mulai menempelkan kartu itu pada sensor kotak kecil dan membuat pintu terbuka.

Itu adalah cara kerja orang-orang Jakarta dan sekitarnya dalam menaiki transportasi publik berupa Kereta Listrik (KRL). Jika bukan atas tuntunan penuh kesabaran Saraswati, teman dekat saya, mungkin sensasi peristiwa tersebut tak akan pernah bisa saya rasakan sepanjang hidup.

Di Jakarta, penggunaan transportasi publik berjalan begitu massif. Kendati selama ini framing media menunjuk bahwa Jakarta terlalu tua dan menyisakan banyak masalah lingkungan, tapi akses kemudahan transportasi umum tak bisa dipandang remeh.

Bayangkan ketika kamu bisa melangkah dari Depok menuju Jakarta hanya dengan uang yang tak sampai 5 ribu. Atau kemana-mana lewat busway serta MRT. Apakah itu saja? Tentu tidak, sebab, di kota ini kita akan menemukan beragam pelajaran penting, terutama etos kerja.

Saya mungkin tak genap satu minggu di wilayah ini, tapi perasaan saya berkata seolah-olah ini adalah kawasan sebenarnya untuk tumbuh, belajar, dan berjuang.

Hal ini bukan berarti saya menegasikan peranan penting daerah lain, oh tentu tidak. Hanya, lewat kebetulan yang sering ini, saya pelan-pelan menerjemahkan Jakarta seperti sebuah rangkaian keunikan hidup yang perlu saya lalui.

Wahyu Rizkiawan mungkin benar, hanya orang peka dan lihai merasalah yang bisa menikmati kerja dunia secara unik. Tapi saya pikir dia perlu menambahkan satu hal: ya, setelah dia berkenan akrab dengan sunyi dan menikmati waktu dengan cara yang tak tergesa-gesa.

Tags: Dunia BekerjaKenangan JakartaWahyu Rizkiawan
Previous Post

Takeru Kobayashi, Si Kecil Pemakan Cepat dari Negeri Sakura

Next Post

Hari Musik Nasional dan Peran Medium Digital bagi Musisi Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: