Apapun langkah kecil kita, memiliki dampak dan pengaruh. Bahkan jika itu sekadar tulisan yang menentramkan dan membesarkan hati.
Wajahnya teduh. Senyumnya ramah dan menawan. Namun siapa sangka, sikap yang ia lakukan begitu besar dan mungkin akan selalu diingat sepanjang sejarah sebagai tindakan sangat mulia.
Perempuan 90 tahun asal Belgia itu bernama Suzanne Hoylaerts. Ia adalah salah satu pasien positif covid-19 yang menolak diberi alat bantu pernapasan, ketika dalam masa perawatan di rumah sakit, minggu ketiga Maret lalu.
Kepada dokter, ia menyampaikan kalimat yang sangat menyentak, “Saya tidak mau menggunakan alat bantu pernapasan. Simpan itu untuk pasien yang lebih muda. Saya sudah memiliki kehidupan yang indah.”
Dan dua hari setelah dirawat, Hoylaerts mengembuskan napas terakhirnya. Sang putri, Judith kepada media menyampaikan penyesalan yang besar: “Saya belum sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Dan bahkan saya tak memiliki kesempatan menghadiri upacara pemakamannya.”
**
Pandemi Corona Covid-19 telah mengubah apapun di dunia ini. Menjadi berjarak dan diam di rumah, sesuatu yang jarang diperhitungkan di masa normal, sekarang amat berpengaruh dalam menyelamatkan nyawa manusia.
Namun kesadaran seperti itu tentu saja tidak serta merta dapat dinikmati secara utuh oleh semua orang. Beberapa kawan saya sampai saat ini terpaksa masuk ke tempat kerja.
Alasannya bukan karena mereka tak patuh atau tak mengerti situasi, tetapi pekerjaan yang dijalani memerlukan penanganan langsung di tempat. Alias, tak bisa dikerjakan secara jarak jauh.
Kepada mereka tersebut, berkali-kali saya hanya bisa mendoakan agar sehat selalu dan diberi kekuatan yang besar.
Sementara, orang-orang yang lain, termasuk saya, memanfaatkan akses untuk tinggal di rumah. Rasa pegal-pegal dan bosan luar biasa beberapa kali hinggap, dan itu memicu gerakan alternatif oleh khalayak ramai.
Sebut saja, misalnya gerakan #untiltomorrow yang meminta orang-orang mengunggah foto “aib” di instagram, lalu yang membubuhkan like akan ditantang hal serupa.
Atau, menangkap gambar ayam di layar ponsel, di status whatsapp, dan lalu siapa yang berhasil menunaikannya, foto orang tersebut akan dipublish di whatsapp.
Atau game lainnya, berupa bagi-bagi buku pdf gratis di whatsapp dengan dalih sebagai alat pengusir kebosanan, atau dengan alasan yang dianggap mulia: memberikan akses bacaan sebagai upaya meningkatkan literasi.
Semua hal itu saya pikir sah-sah saja, kecuali, bagi-bagi buku gratis tanpa seizin penulis dan penerbit. Sebab di titik tak biasa itu, saya pikir konteksnya seperti tengah melanggengkan perampokan dalam masa krisis. Dan itu, sayangnya, jahat sekali.
Selayaknya sikap kemanusiaan yang mulia yang dicontohkan Hoylaerts, tentu saja kita bisa melakukan hal-hal yang memiliki dampak. Tindakan paling minimal barangkali mengurangi beban kerja dokter, dengan cara di rumah, atau menerapkan standar protokol yang berlaku.
Secara apple to apple, mungkin kita bisa berdebat soal mana yang lebih berdampak dari semua sikap itu. Namun, di masa krisis seperti ini, perdebatan tidak terlalu penting. Dan mengutip ulasan panjang Yuval Noah Harari, dalam Financial Times, kita perlu solidaritas dan kerja sama global.
Yang perlu digarisbawahi dan diberi keterangan tebal: apapun langkah kecil kita, memiliki dampak dan pengaruh.
**
Menjelang siang, kawan saya yang tengah melakukan karantina mandiri di Jakarta, Iqbal, meminta tolong untuk menyebarkan informasi penting. Isinya adalah, ia mau membagi-bagikan 10 pcs masker secara gratis kepada siapa saja. Hanya, ia meminta yang butuh masker itu menanggung ongkos kirimnya.
Di tengah situasi tak biasa itu, saya menanyainya berulang kali: Masker tersebut gratis? Dan dijawab iya oleh Iqbal.
Saya mengulanginya sampai berkali-kali, dan dijawabnya dengan mantab sekali lagi: iya. Kemudian dia mengajak saya untuk membuat gerakan serupa. Tapi apa daya, saya meminta maaf belum sanggup untuk ikut menyemarakkan aksi tersebut.
“Tidak apa-apa, kamu tetap bisa melakukan hal yang lain,” katanya.
“Memang apa? Sejauh ini, saya belum melakukan apapun,” saya menjawab.
“Tulisanmu (mengenai upaya menghentikan aksi membagikan buku pdf ilegal) sangat berpengaruh. Berkat itu mereka menghapus itu semua. Itu langkah yang baik.”
Mungkin benar. Apapun langkah kecil kita, memiliki dampak dan pengaruh. Bahkan jika itu sekadar tulisan yang menentramkan dan membesarkan hati.
Saya tercekat dan terdiam sesaat, sembari membayangkan: mungkinkah perasaan ini yang dirasakan Hoylaerts di kehidupan barunya? Betapa damai sekali. (*)








