Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Saat Hanna Fransisca Menemuiku di Dapur

Ahmad Hasan Saifurrisal by Ahmad Hasan Saifurrisal
11/05/2020
in Fiksi Akhir Pekan
Saat Hanna Fransisca Menemuiku di Dapur

Kulihat Hanna Fransisca meruap bersama asap pedupaan. Sementara aku memandang patung Dewi Kwan Im di bilik sembahyang.

Hari-hari biasanya adalah hari yang gaduh: kepanikan jalan dan semburan asap gila, makian orang-orang yang dilanda kemacetan, suara klakson, serta terik matahari*.

Kini segalanya telah bermuara dalam sunyi. Jalanan mulai sepi. Setiap orang lebih memilih meringkuk dalam kamar dengan cahaya layar gawai menyinari wajah mereka hampir sepanjang hari dan petang.

Beberapa yang lain mencoba menemukan kenikmatan yang berbeda. Aku memilih untuk meracik bumbu atau menguleni adonan di dapur. Mencobai resep bakpao tionghoa. Mencumbui tungku pembakaran. Memanggil dewa dapur. Menanam benih kayu. Mengeruk tanah arang. Menciumi asap perjamuan**.

Di saat semacam itulah, aku berdialog dengan Hanna Fransisca. Dia bukan dewa dapur, hanya penyair dengan konde Tionghoa.

“Jadi sejak kapan kau mengenalku?” Hanna yang muncul tiba-tiba bak hantu itu melempar pertanyaan.

“Sejak 2012,” jawabku sambil menggambar titik tegak di tengah adonan bakpao.

“Itu adalah saat penerbit meluluskan tiga bukuku.”

“Ya. Kumpulan puisi Benih Kayu Dewa Dapur, kumpulan cerpen Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina, dan naskah drama Kawan Tidur. Aku jatuh cinta padamu melalui yang pertama.”

SEEETTT!

Hanna bergerak cepat mengambil 100 butir merica, bawang, kecap asin, bara api, tusuk besi, cuka, garam, pisau jagal, kecap manis, tambang, dan kipas angin***.

“Tolong jangan pakai doa pencabut nyawa!” sergahku. “Kalau minyak zaitun tak mengapa. Tapi kita tidak tengah memasak kambing, Hanna. Ini bakpao.”

“Mengapa tidak doa pencabut nyawa? Atau bolehkah doa pencabut karya? Bukankah itu memang tahun terakhirku menerbitkan buku? Setelah itu, aku lebih dikenal di berita sebagai ibu rumah tangga yang membandari judi togel,” protes Hanna.

“Kau memang terlalu keren. Membuka karier dengan Konde Penyair Han yang menyabet penghargaan kumpulan puisi terbaik Kompas 2010, lantas menutupnya dengan terlibat kriminalitas.”

“Aku tidak sekeren itu.”

“Tentu saja! Aku lebih suka pada doa penumbuh karya. Suara warga keturunan Tionghoa tentang kekerasan terhadap etnisnya pada 1998 telah memikatku. Berkat benih kayumu, seksualitas dalam sebuah karya sastra jadi begitu berisi, bukan sekadar seksi. Kau adalah penulis terbaik di ranah itu.” Aku mengangkat bakpao putih dari pemanggang.

“Diamlah, Mei, Tuhan tak pernah menjelma ular berbisa. Ia tak pernah menjelma cinta, yang membuat kita tiada****.” Suara itu kian sayup di ujung kalimat.

Kulihat Hanna meruap bersama asap pedupaan. Aku memandang patung Dewi Kwan Im di bilik sembahyang.

“Puisimu bukan hanya soal penggugatan dan seksualitas, tapi juga ihwal ketuhanan yang mengayomi,” gumamku sendiri sembari menggigiti bakpao daging babi.

*mengutip gambaran Hanna Fransisca dalam pembuka bukunya, Benih Kayu Dewa Dapur.
**mengambil judul bab dalam Benih Kayu Dewa Dapur.
***mengutip puisi Kambing Guling.
****mengutip puisi Ular.

Tags: FanfictionFiksiHanna Fransisca
Previous Post

Ria Risti, Merajut Asa Lewat Program Beasiswa Banyu Urip

Next Post

Giras, Puasa dan Malam hari di Surabaya

BERITA MENARIK LAINNYA

Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025
Kharisma Kiai Darmin
Fiksi Akhir Pekan

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 
Fiksi Akhir Pekan

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

15/05/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026
Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: