Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ajian Lembu Sekilan dalam Konteks Era Disrupsi Teknologi

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
26/12/2023
in Headline
Ajian Lembu Sekilan dalam Konteks Era Disrupsi Teknologi

Lembu Sekilan merupakan ajian keramat yang dimiliki para Ulama dan Kiai Tanah Jawa. Di Era Disrupsi Teknologi seperti saat ini, kedigdayaan Lembu Sekilan ternyata masih kontekstual terhadap zaman.

Berbicara ilmu kanuragan, tak akan pernah bisa dipisahkan dari ajian keramat Lembu Sekilan. Serupa ajian legendaris lain seperti, Waringin Sungsang, Rawarontek atau Gelap Ngampar, Lembu Sekilan merupakan ajian yang amat ditakuti para penjajah.

Sudah masyhur jika penjajah Belanda dan Jepang bakal nangis sambil pipis di tempat, ketika berhadapan dengan sosok yang memiliki ajian Lembu Sekilan. Lha gimana tidak; wong dibedil mbleset dan dimeriam mbendal, Je.

Lembu Sekilan merupakan tameng ghaib yang tak bisa ditembus senjata. Jangankan cuma disakiti hatinya dipedang; dibedil, dibom, dimeriam pun, orang yang punya Lembu Sekilan bakal tetap santuy ~

Lembu Sekilan mampu menghentikan pergerakan senjata di area aman tubuh pemiliknya. Istilahnya, setiap senjata yang menyerang, bakal mandeg sekilan atau berhenti tepat se-telapak tangan dari posisi tubuh yang diserang.

Buat kamu yang lagi belajar kritis, harusnya tanya begini: lha kalau yang dipakai nyerang adalah bom atau meriam? Bukankah jarak sekilan (se-telapak tangan) masih terjangkau radiasi panas? Minimal kesampluk selongsong peluru kan sakyt ~

Iya, tapi itu pemahaman anak kritis exacta berkacamata tebal yang saat berangkat sekolah bawa tas kayak mau pindahan rumah. Buat anak kritis yang biasa-biasa saja, pasti tahu bahwa kata sekilan hanyalah kiasan.

Bisa jadi, sekilan yang dimaksud adalah ilusi ruang dan waktu. Di mana, ketika penjajah Belanda atau Jepang mau mengirim bom, mereka goblok ndadak sehingga tak mampu memetakan di mana posisi objek serang.

Bisa jadi, sekilan adalah efek semu yang ditimbulkan gaya sentrifugal ketika pemilik Lembu Sekilan melakukan gerak melingkar menjauhi pusat sasaran. Sehingga, saat mau memantik peluru, tiba-tiba objek sasaran mengalami perubahan sudut 180 derajat.

Intinya, ajian Lembu Sekilan merupakan ajian yang membuat senjata tak mampu mendekat. Ini yang membuat para penjajah pusing. Alih-alih mau nembak, lha wong yang ditembak siapa aja bingung, Je. Masak mau nembak si dia yang sudah punya pasangan pasukan sendiri wqwq.

Ini alasan kenapa Kiai-kiai dan para ulama zaman dulu, selalu memiliki ajian Lembu Sekilan. Sebab, ajian tersebut untuk ageman senjata saat berdakwah. Ini kontekstual terhadap zaman. Sehingga saat berdakwah, tak diserang musuh atau penjajah.

Masyhur di kalangan para santri, kisah saat ponpes Mbah As’ad Syamsul Arifin Situbondo mau dibom penjajah menggunakan pesawat, ternyata penjajah keliru melepas bom ke hutan. Bisa jadi, ini bagian dari konsep ilusi optik Lembu Sekilan.

Atau, saat Mbah As’ad Situbondo membuat pasukan Jepang bingung, saking bingungnya sampai lari tunggang langgang gara-gara beliau membaca wirid Rotibul Haddad saat perjalanan ke Jember. Bisa jadi, itu sebagai efek Lembu Sekilan yang mampu membuat pemiliknya licin dan tak tersentuh.

Belum lagi kisah Mbah Abbas Buntet Cirebon yang mampu menjatuhkan pesawat di medan tempur November 1945. Tiap kali ada pesawat yang bersiap mengirim amunisi ke arah pasukan Hizbullah, tiba-tiba meledak jatuh. Pesawat-pesawat itu seperti tak diizinkan mendekat ke arah Mbah Abbas dan pasukan Hizbullah, alih-alih mengirim bom dan amunisi.

Dulu, tiap kali saya mendengar kisah kedatangan Mbah Abbas dan Mbah Bisri menuju Medan Tempur Surabaya, saya selalu merinding. Tak pelak, saat nonton Avenger: Infinity War dan sampai pada scene Thor Arrives at the Battle of Wakanda, yang ada di kepala saya dalah Mbah Abbas dan Mbah Bisri datang ke Surabaya untuk membantu Mbah As’ad dan para Kiai yang ada di Surabaya.

Perang di Era Disrupsi Teknologi

Di era perubahan besar-besaran (disrupsi) teknologi seperti saat ini, konsep medan perang sudah berganti. Perang yang sebelumnya identik kokang senjata di sebuah lapangan, kini cukup mengokang jari di atas tuts smartphone sebagai perang urat saraf (Psywar) di media sosial (medsos).

Di era ini pula, konsep luka dan senjata mengalami perubahan wujud. Senjata bukan pedang atau bedil, tapi cukup tulisan yang diketik menggunakan jari. Tulisan itu memang tak mampu menyerang fisik manusia. Tapi, entah kenapa, mampu memicu memar dan luka.

Luka yang disebabkan medsos bukan luka fisik. Tapi lebih pada luka psikis yang kelak kita kenal sebagai Psikosomantik (penyakit yang tak ditimbulkan luka fisik). Sialnya, dari Psikosomantik inilah bermacam luka fisik ikut-ikutan menyerang.

Saat ini, kau tak perlu serang-serangan senjata untuk memicu luka. Cukup buka medsos dan baca pertengkarannya, niscaya, bakal ada perkara yang membuatmu merasa terluka, meski sesungguhnya kamu tak tahu apa-apa dan hanya membacanya.

Keberadaan medsos dengan potensi luka dan tamparan senjata yang menyerang sisi psikologis manusia, sudah sepatutnya membuat kita punya tameng psikologis berupa ajian Lembu Sekilan agar tak mempan diserang.

Lembu Sekilan yang Unik

Dulu, dulu sekali, saat masih sekolah, saya pernah dipanggil bapak dan tiba-tiba, beliau bertanya, “awakmu gelem tak-ijazahi Lembu Sekilan?”. Tentu saya kaget. Sebab, saya dan adik-adik saya tak pernah diperbolehkan belajar kanuragan, di saat semua keponakan kami boleh.

Bapak bercerita jika Lembu Sekilan itu, kalau digambarkan, sifatnya kalis atau licin atau fleksibel. Maksudnya, sejenis kemampuan untuk membuat tubuh tak bisa disentuh, apalagi dikenai serangan. Atau dalam istilah awam, kita menyebutnya sebagai kebal senjata.

Dan untuk mencapai kemampuan itu, kata Bapak, caranya cukup dengan “jangan pernah kecewa pada orang lain, apa pun yang terjadi.” Saya langsung tercengang saat mendengarnya, dan tak berani bilang qobiltu karena bingung cara mengamalkannya wqwq

Saya sempat mengira, ijazah itu berwujud sholawat seperti biasa. Sebab, bapak sering berpesan jika siapapun yang di hatinya menyimpan sholawat, petir tak akan pernah berani mendekat. Sebab, petir sungkan sama Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Jika petir saja sungkan, apalagi yang lain.

Tapi ternyata ijazah Lembu Sekilan waktu itu adalah lelakon. Sebuah laku untuk tidak kecewa. Kata bapak, mereka yang tak mudah kecewa, tubuhnya akan selalu aman dari luka dan rasa sakit. Sebab tak pernah bisa dilukai, karena tak pernah memiliki indikator luka berupa rasa kecewa.

Begitulah, hakekat Lembu Sekilan, kata beliau, adalah kemampuan untuk tak mudah kecewa pada orang lain. Orang yang sudah demikian, niscaya tidak akan mudah sakit. Contohnya ulama dan kiai-kiai pada umumnya. Dan untuk memiliki kemampuan Lembu Sekilan, cukup dengan: jangan mudah kecewa pada orang lain.

Lembu Sekilan di Era Disrupsi Teknologi

Untuk tidak kecewa di era medsos, tentu perkara yang sulit. Banyak perkara yang harusnya cukup dihadapi politisi, tapi karena kita ikut membacanya, kita jadi merasakan luka yang sama. Padahal, dengan ikut merasa kecewa, tentu membuka potensi adanya Psikosomantik.

Dan Psikosomantik, sialnya, kerap diboncengi berbagai macam penyakit lain yang kadang berwujud pilek hingga penyakit-penyakit berseri yang namanya aneh-aneh dan sering dipolitisasi itu.

Sehingga, cara menghindari dan mengendalikan rasa kecewa akibat medsos pun, nafsi-nafsi tergantung masing-masing orang.

Teknik menghindari dan mengendalikan rasa kecewa akibat medsos itulah yang saya maksud sebagai Lembu Sekilan di Era Disrupsi. Laku ini ada banyak bentuk dan wujudnya, tapi tujuannya adalah meminimalisir rasa kecewa.

Beberapa contoh diantaranya; tidak main medsos blas (ini terlalu ekstrim), main medsos tapi jarang-jarang, atau main medsos hanya untuk jualan madu saja wqwq. Intinya, mengurangi medsos dan memperbanyak melihat keindahan alam. Meski, itu tidak mudah.

Tags: Ajian Lembu SekilanLembu SekilanLembu Sekilan di Era Medsos
Previous Post

Uswah Belajar yang Jadi Tantangan Keluarga

Next Post

Abbas bin Firnas, Sang Polimatik Andalusia Penemu Mesin Penerbangan Pertama

BERITA MENARIK LAINNYA

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari
Headline

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari

17/08/2024
Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara
Headline

Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara

12/07/2024
5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu
Destinasi

5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu

07/05/2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: