Tulisan ini dibuat di tengah gonjang-ganjing transfer Cristiano Ronaldo dari Juventus ke Manchester City. Pasalnya, kepindahan CR7 ke Man City akan menghadirkan geger geden.
CR7 yang sekarang kita kenal sebagai salah satu pesepakbola terbaik sejagat, menjadi terkenal berkat polesan Sir Alex di Manchester United.
Di penghujung musim 2012/2013 lalu, Sir Alex Fergusson memutuskan untuk pensiun sebagai pelatih Manchester United. Setelah puluhan tahun, di bawah asuhan Fergie, melewati masa indah dengan raihan trofi, fans Manchester United tidak siap menerima kenyataan tersebut.
Terbukti, sewindu semenjak ditinggal Fergie, MU menjadi klub medioker. Jangankan bersaing merebut gelar, masuk empat besar saja terseok-seok.
Tepat setelah Fergie pensiun, Sammi Hardwick mengampanyekan gerakan bertajuk Bring Ronaldo Home. Gerakan berbasis crowd-funding untuk satu tujuan utama bersama: Membawa pulang CR7 dari Real Madrid ke Manchester United.
Menurut gerakan ini, CR7 adalah juru selamat MU yang telah ditinggalkan Fergie. Gerakan ini tidak berhasil, dan sampai saat ini, CR7 tidak menjadi pemain MU.
Tidak ada yang meragukan kemampuan CR7. Raihan trofi, baik individu maupun klub, menjadi bukti sahih akan hal itu. Memiliki CR7 di antara deretan sebelas pemain di lapangan tentu adalah impian. Tetapi saat ini, membawa CR7 kembali ke MU bukanlah suatu keputusan tepat.
Pertama tingginya gaji CR7 adalah kendala utama. Barangkali hanya klub dengan kucuran dana minyak seperti Man City dan PSG yang sanggup memenuhinya. MU di tangan Ole Gunnar Solskjaer tengah merampingkan neraca gaji pemain agar lebih stabil dan tidak menciptakan kesenjangan. Ole berhasil melakukan itu. Karena itu, merekrut CR7 akan mengacaukan lagi restrukturisasi gaji pemain MU.
Kedua, meski CR7 masih bisa menunjukkan penampilan yang oke di atas lapangan, tetapi saat ini usianya telah menginjak 36 tahun. Alih-alih mengeluarkan biaya besar dengan merekrutnya, akan lebih bijak, MU merekrut pemain sesuai kebutuhan tim yang sekarang.
Mafhum diketahui jika di bawah Ole, MU sedang membangun ulang skuatnya. Kepingan pemain, terutama di posisi gelandang bertahan, lebih prioritas.
Ketiga, diberitakan bahwa Ole bersama Direktur Sepakbola MU, menyepakati satu nama untuk direkrut musim mendatang: Erling Haaland. Haaland yang masih muda akan menjadi investasi menarik dan jangka panjang.
Ole dan Haaland pernah memiliki masa indah ketika di Malmo. Tentu, hal ini tidak mudah. Klub peminat Haaland banyak dan tentu harga selangit. Maka, lebih baik menabung sekarang untuk jor-joran musim mendatang.
Meski demikian, jujur saja, jika benar CR7 setuju pindah ke Man City, sebagai fans akan sangat sulit menerima. Apalagi mengingat bagaimana Fergie menganggap CR7 adalah anak kesayangannya. Anak kesayangan Fergie pindah ke klub sebelah yang dijuluki Fergie sebagai tetangga berisik. Sulit diterima.
Tahun 2009 lalu, Carlos Teves pindah dark MU ke Man City menajdi kabar yang menghebohkan. Pihak MU menilai permintaan pihak Teves delusional dan ketinggian, sementara pihak Teves menilai tawaran MU terlalu rendah dan tidak menghargai kontribusi sang pemain. Dua tahun bersama MU, Teves berhasil meraih gelar Liga Inggris dan Liga Champions.
Tidak adanya kata sepakat, menyebabkan hal ini terjadi: Carlos Tevez pindah ke Manchester City. Billboard besar bertuliskan Welcome to Manchester menyambut kepindahan Carlos Teves ke rival sekota terpampang jelas di sudut kota Manchester.
Pindah ke Man City, Teves berhasil pula meraih trofi juga materi yang sepadan dengan keinginannya. Satu hal yang tidak didapatkannya adalah respek. Respek dari pendukung MU, juga respek dari pendukung Man City.
Di akhir musimnya di Man City, insiden Teves dengan Roberto Mancini membuat klub dan fans geram serta kehilangan respek. Hal yang kemudian membuat Carlos Teves pindah ke Juventus.
Pindah ke Man City, sebagai pesepakbola profesional, CR7 akan mendapatkan jumlah gaji yang diinginkannya. Begitu pula bicara soal trofi, jujur saja, skuat Man City lebih memiliki peluang besar dibanding MU untuk urusan meraih trofi. Pelatihnya juga lebih berpengalaman juara dibanding pelatih MU. Materi dan trofi tidak akan jadi soal jika CR7 pindah ke Man City.
Satu-satunya hal yang akan menjadi soal adalah hal ini: Kehilangan respek dari fans MU. Julukan legenda klub akan menguap dan lenyap. Selamat datang di Manchester (lagi), CR7!








