Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kesenian Njipangan, Menginisiasi Munculnya Budaya Bengawan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
09/07/2024
in JURNAKULTURA
Kesenian Njipangan, Menginisiasi Munculnya Budaya Bengawan

Sandur: Seni Islam Kuno khas Tlatah Njipangan, yang hingga kini masih bertahan.

Festival Candra Benawa menginisiasi kembali munculnya kesenian Islam kuno yang lahir dari rahim Bengawan. Seni peninggalan Para Wali Njipangan. 

Festival Bengawan bertajuk Candra Benawa Getas yang dihelat pada 5 – 6 Juli 2024 di sungai pembatas Bojonegoro (Jawa Timur) dan Blora (Jawa Tengah) itu, bertujuan menginisiasi munculnya kembali Budaya Bengawan. Kebudayaan Njipangan yang telah lama dilupakan.

Festival Candra Benawa berlangsung di 5 titik sepuh di Kabupaten Bojonegoro dan Blora. Di antaranya adalah Ngloram, Payaman, Jipang, Tebon, dan Getas. Kelima desa itu, masyhur sebagai titik paling keramat di tengah Bojonegoro dan Blora, yang dulu bernama Tlatah Jipang.

Baca Juga: Candra Benawa, Menjaga Kelestarian Budaya Bengawan 

Peradaban Jipang terdeteksi sejak zaman Raja Airlangga (1041 M). Kemudian dipertegas pada zaman Singashari (1248 M). Dan diperkuat zaman Majapahit (1358 M). Diukir Airlangga, Wisnuwardhana, dan Hayam Wuruk sekaligus. Fakta kewilayahan Jipang (Blora dan Bojonegoro), masih bertahan hingga tahun 1800 M.

Pada tahun 1358 M, Maha Raja Majapahit, Raja Hayam Wuruk, memuliakan Tlatah Jipang dengan membuat sebanyak 18 titik Naditirapradeca (pelabuhan sungai) di Tlatah Jipang. Membentang dari Jipang Hulu (Margomulyo – Menden) sampai Jipang Hilir (Baureno – Rengel).

Dari data di atas, terdapat fakta bahwa tiga Maha Raja Nusantara (Raja Airlangga, Raja Wisnuwardhana, dan Raja Hayam Wuruk), begitu menghormati para Brahmana Jipang, sebagai pengendali ritme Bengawan. Ini bukti bahwa Bojonegoro dan Blora sebagai Wangsa Bengawan.

Pada era kedatangan Islam, Tlatah Jipang tercatat sebagai wilayah yang cukup awal mengenal Islam (abad 14 M). Data ini tercatat pada History of Java, Hikayat Banjar, hingga Tarikh Aulia. Sumber tersebut menyebut, Tlatah Jipang jadi lokasi dakwah para Brahmana Islam seperti Syekh Jimatdil Kubro (Mbah Jimat Tegiri), Kramat Songo Jipang, hingga Sunan Ngudung Loram.

Tlatah Jipang mengalami masa kejayaan Bengawan sejak era Hindu Budha. Ketika kemudian Islam datang, Bengawan juga masih jadi entitas penting yang dirawat dan dimuliakan. Para Waliyullah menjadikan Bengawan sebagai pusat dakwah sekaligus simbol tumbuh kembangnya ajaran Islam.

Islam masuk Tlatah Jipang secara damai tanpa konflik. Para Brahmana Islam (Waliyullah)  membangun zawiyah (padepokan) di pinggir sungai Bengawan, berdampingan dengan tradisi keyakinan lama. Dari persinggungan itu, seni budaya Islam pun tercipta dengan tanpa menghilangkan kearifan sebelumnya.

Jedoran merupakan kesenian Islam kuno khas Tlatah Njipangan yang rentan alami kepunahan.

Bermacam kesenian Islam khas Bengawan pun lahir di Bumi Njipangan. Di antara kesenian Islam yang lahir di Bumi Njipangan adalah Kesenian Sandur Njipangan, Barongan Njipangan, Jedor Njipangan, Kentrung Njipangan, Emprak Njipangan, hingga Berjanjen Njipangan. Sumber Belanda menyebut kesenian itu sebagai kesenian Islam Kuno khas Masyarakat Bengawan.

Tak semua jenis kesenian Njipangan itu lestari. Sandur bertahan di Bojonegoro, Barongan bertahan di Blora. Sementara Jedor, Kentrung, dan Berjanjen Njipangan masih ada, tapi mengalami perubahan bentuk. Berjanjen yang semula seni teaterikal berbasis puji-pujian, kini sekadar puji-pujian saja, tanpa menyertakan unsur teaterikalnya.

Candra Benawa dihelat pada 5 – 6 Juli 2024 ini, bertujuan utama memunculkan kembali bermacam kesenian Islam khas Tlatah Njipangan, seni peninggalan Para Wali Jipang. Ini alasan utama festival itu menampilkan Seni Sandur sebagai penyimpul antara Jedoran Bojonegoro dan Barongan Blora. Ketiganya merupakan kesenian Islam Kuno yang lahir dari rahim Peradaban Bengawan.

Tags: Candra BenawaKebudayaan BengawanMakin Tahu IndonesiaSeni Islam Kuno
Previous Post

BI Dorong Kebijakan Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi  

Next Post

Mengingat Bengawan, Merawat Fakta Kejayaan

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa

Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa

21/06/2026
Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

20/06/2026
Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

19/06/2026
Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

18/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: