Suasana hangat penuh keakraban sangat terasa pada Forum Limolasan yang dihelat pada (22/7/2024), di sisi timur area Jembatan Sosrodilogo Bojonegoro. Majelis jagong ilmiah di malam purnama penanggalan hijriyah itu, membincang Pangeran Sosrodilogo sebagai penerus Brahmana Bojonegoro.
Baca Juga: Limolasan, Membaca Kebudayaan Islam di Gunung Jali Tegiri
Bojonegoro sebagai Kota Brahmana, tercatat sejumlah prasasti. Terhitung sejak era Raja Airlangga (1041 M), Raja Wisnuwardhana (1248 M), dan Raja Hayam Wuruk (1358 M). Spirit penyatuan khas Para Raja inilah, yang kelak dihidupkan kembali oleh Raden Sosrodilogo pada momentum Perang Jawa (1825 – 1830 M).
Mengenal Sosrodilogo sekadar sebagai nama jembatan tentu kurang elok dan tidak sopan. Sebab, Raden Sosrodilogo merupakan Pahlawan Besar Perang Jawa. Ipar dari Pangeran Diponegoro tersebut, merupakan Brahmana Bojonegoro yang muncul pada abad 19 M.
Majelis Limolasan sengaja digelar di area jembatan Sosrodilogo, untuk mengenang lebih dekat sisi kepahlawanan Sang Brahmana. Ini penting agar nama Sosrodilogo tak sekadar identik jembatan. Tapi juga identik penyambung semangat Para Brahmana Bengawan.

Dengan semangat cahaya bulan, para pegiat Limolasan mendedar sisi empiris Raden Sosrodilogo sebagai seorang pejuang. Kegiatan itu sengaja dilakukan di lokasi yang tak jauh dari Jembatan Sosrodilogo. Ini untuk merasakan dari dekat, betapa besarnya kiprah dan jasanya.
Raden Sosrodilogo punya jasa besar dalam menjaga marwah Bojonegoro sebagai Kota Brahmana. Bahkan, jasa itu masih terasa hingga saat ini. Terbukti, namanya menjadi jembatan yang rela dipijak sebagai titik tumpu untuk mengantar bermacam kepentingan para pengendara.
Wajib diketahui, Bojonegoro dikenal Tanah Brahmana sejak abad 11 M. Jauh sebelum nama Bojonegoro diciptakan Jendral Belanda, Bojonegoro sudah masyhur sebagai Tanah Brahmana. Dan keberadaan Sosrodilogo yang muncul pada abad 19 M, merupakan estafet kepahlawanan para Brahmana tersebut.
Bojonegoro sebagai Kota Brahmana, tentu terbukti secara literatur prasasti. Brahmana di sini, memiliki makna khusus sebagai status Para Bijak Bestari. Para Brahmana selalu hadir di Bojonegoro dalam berbagai zaman. Mulai zaman Hindu-Budha hingga Islam.
Bojonegoro dihuni banyak para Brahmana sejak zaman Mpu Kasaiwan dan Mpu Kasogatan. Bahkan di zaman masuknya Islam, Bojonegoro juga dihuni banyak figur Birohmana Waliyullah yang ditandai sejak Syekh Jumadil Kubro menancapkan tongkat dakwah di Puncak Gunung Jali.
Keberadaan para Brahmana inilah, yang konon menyebabkan presiden tak berani memasuki wilayah Bojonegoro. Ini tentu empiris dan ilmiah dan faktual. Tak ada presiden yang mau ke Bojonegoro. Selain sungkan, tentu takut terpeleset licinnya minyak Bojonegoro yang bisa dengan mudah menjungkalkan posisinya.
Raden Sosrodilogo merupakan bagian dari tradisi Para Brahmana Bojonegoro. Keberadaannya sebagai panglima besar Perang Jawa (1825 – 1830 M), adalah tradisi musalsal yang telah dilakukan Para Brahmana pada periode sebelumnya.
Forum Limolasan yang dipandegani dan dihadiri para jurnalis, penulis, seniman, dan budayawan muda dari Bojonegoro dan Blora ini, berupaya memunculkan spirit primordialisme kedaerahan dari para tokoh besar, di antaranya tokoh besar dari abad 19 M bernama Raden Sosrodilogo ini.
Majelis Limolasan adalah agenda jagong ilmiah di malam purnama penanggalan hijriyah. Limolasan menjadi forum yang mencari ibrah dari masa silam, mengkontekstualisasikannya pada masa sekarang, sekaligus membangun ancang-ancang untuk masa depan.








