Sejak abad 9 M, Zabag Al Jawi (Nusantara) sudah sangat masyhur sebagai Negeri Emas. Banyak para penjelajah Arab yang kagum pada Nusantara. Di antara kekaguman itu, terangkum dalam Kitab Al-Masalik Wa Al-Mamalik karya Ibnu Khurdadhbih.
Abul Qasim bin Ahmad bin Khurdadhbih alias Ibnu Khurdadhbih (820 – 912 M) merupakan sejarawan, geografer, dan penulis sastra berbangsa Persia. Ia merupakan penulis buku fenomenal berjudul Al-Masalik Wa Al-Mamalik —sebuah buku perjalanan yang merangkum kondisi geografis Zabaj Al Jawi (Nusantara) abad 9 M.
Baca Juga: Catatan Pengembara Arab tentang Zabaj Al Jawi (2)
Ibnu Khurdadhbih lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya Gubernur Thabaristan. Pada awal abad ke-9 M, ayahnya menorehkan beberapa prestasi. Atas prestasi itu, keluarganya menjalin kedekatan dengan Khalifah Al-Mu’tamid Al-Abbasi (870-892 M). Atas kedekatan itu pula, Ibnu Khurdadhbih diangkat Al-Mu’tamid sebagai kepala Jawatan Pos di Provinsi Al-Jibal.
Posisinya sebagai kepala Jawatan Pos inilah, yang kelak memudahkan Ibnu Khurdadhbih dalam melakukan perjalanan dan menulis kitab Al-Masalik wa Al-Mamalik, yang ditulis antara (842 M – 885 M), dalam rangka memenuhi permintaan seorang pangeran Abbasi. Kitab Al Masalik adalah catatan penting dalam konteks geografi dunia.

Al-Masalik Ibnu Khurdadhbih, bahkan menjadi rujukan para penjelajah pada generasi berikutnya. Di antara tokoh-tokoh besar yang menjadikan Al Masalik sebagai rujukan adalah; Al-Idrisi, Al-Fairuzabadi, Ibnu Khaldun (dalam Muqaddimah-nya), Ibnu Hajar Al-’Asqalani (dalam Fath Al-Bari-nya), dan banyak lagi penulis-penulis lainnya.
Untuk diketahui, ada dua kitab penjelajahan berjudul Al Masalik wa Al Mamalik. Selain karya Ibnu Khurdadhbih, geografer muslim lain yang bernama Al Istakhri (w. 957 M) juga menulis kitab dengan judul sama. Hanya, Ibnu Khurdadhbih lebih dulu.
Salinan kitab Al Masalik Ibnu Khurdadhbih yang sempat terlacak, adalah terjemahan berbahasa Perancis oleh De Goeje pada 1889 M. Kemudian pada 2017, Arsyad Mokhtar menerjemahkannya ke dalam Bahasa Melayu. Di antara bagian penting dalam Kitab Al Masalik wa Al Mamalik adalah deskripsi tentang Zabaj Al Jawi (Nusantara).
Zabaj dalam Deskripsi Ibnu Khurdadhbih
“…Sedangkan raja Zabij digelari Maharaja. Di kerajaannya ada sebuah pulau yang disebut Barthayil. Sepanjang malam terdengar suara genderang dan nyanyian dari pulau itu. Para pelaut mengklaim jika dajjal berasal dari pulau itu. Setiap hari, pajak yang terkumpul di tangan Maharaja ini mencapai dua ratus man emas. Sang Maharaja lalu melebur emas itu menjadi sebuah batangan dan meletakkannya di air. Tumpukan emas batangan di air itu adalah baitul malnya”
“…Di Pegunungan Dzabaj terdapat kapur. Negeri ini memiliki keajaiban-keajaiban yang tak terbatas jumlahnya, yaitu sebuah negeri di bagian Timur Jauh India. Ia juga menjelaskan nama-nama panggilan raja yang berbeda-beda antara satu negeri dengan lainnya. Raja Irak disebut Kisra, Raja Romawi Kisra, Raja di Dzabaj disebut dengan Maharaja..”
Kata Zabaj dalam literatur di atas, merupakan istilah untuk Jawa dan Sumatra secara khusus, dan Kepulauan Nusantara secara umum. Kitab Al Masalik ditulis antara (842 M – 885 M). Dan pada zaman ini, Nusantara memiliki “dua tanduk” di tengah lautan, dua tanduk yang masyhur dikenal sebagai Sriwijaya (Sumatra) dan Medang (Jawa).








