Forum Rembug Desa di Desa Sendangharjo Ngasem yang diselenggarakan Bojonegoro Institute (BI) bekerjasama dengan Ford Foundation pada (4/9/2025), tak hanya menggali potensi. Namun juga memetakan kerentanan desa.
Pada kegiatan digelar di Balai Desa Sendangharjo yang dihadiri Dosen Universitas Padjajaran Bandung, Noer Fauzi Rachman PhD sebagai narasumber ini, dihadiri warga desa secara lengkap. Mulai dari Kepala Desa Sendangharjo, para Perangkat Desa, Karang Taruna, Kelompok Perempuan, serta Tokoh Sesepuh Desa setempat.
Forum Rembug Desa kali ini, merupakan agenda kedua. Sebab, sebelumnya sudah pernah dilakukan. Jika sebelumnya fokus pada penggalian potensi desa, pada kegiatan ini fokus pada peta aspek kerentanan desa. Khususnya pada bidang ekonomi, sosial, dan budaya, mengunakan alat pengukuran Sustainable Livelihood Approach sering disingkat (SLA).

Pada diskusi kali ini, Tim BI memaparkan hasil penemuan aspek potensi desa yang telah diteliti sebelumnya. Temuan potensi ini, kemudian diperjelas dan direspon masyarakat, untuk kemudian dianalisis sebagai dokumen data-data penting.
Melalui pembuatan Kalender Musim, Tim BI juga menggali kerentanan desa, utamanya alam konteks kebencanaan maupun aspek ekonomi. Khususnya pada musim-musim di mana pengeluaran cukup besar, sementara nihil pendapatan.
“Dengan menggali potensi serta memetakan kerentanan, menjadi alat ukur penting untuk melihat kondisi desa Sendangharjo” Ucap Direktur BI, AW Saiful Huda.
Saiful Huda mengatakan, sesuai data Damisda 2024, Desa Sendangharjo merupakan desa ring 2 kawasan Migas. Bahkan, di lokasinya terdapat geosite andalan yang telah ditetapkan Unesco. Namun, jumlah masyarakat miskinnya berada di peringkat kedua Bojonegoro.
“Hal ini membuat kami penasaran. Apa benar potensi sebesar itu tak mampu memberi dampak bagi desa?” ungkapnya.
Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung, Noer Fauzi Rachman PhD yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini, membahas kekuatan dan kelemahan potensi lokal dalam menempuh kemajuan desa. Khususnya kemajuan di bidang ekonomi. Ada dua hal penting yang dia garisbawahi terkait kondisi desa.
“Ada dua masalah yang dialami desa-desa saat ini. Keduanya adalah Kepaten Obor dan Kecanduan Beli” kata dosen akrab disapa Om Oji tersebut.
Kepaten Obor, menurut dia, adalah kondisi di mana warga desa terputus dan tidak mengetahui potensi desanya sendiri. Baik dalam hal sejarah maupun corak budaya. Karena itu, desa yang Kepaten Obor semacam ini, akan sulit memajukan desanya. Sebab, kondisinya gelap.
“Bagaimana mau maju, berjalan saja susah, kegelapan soalnya gak punya obor” Ungkapnya.
Selain itu, Kecanduan Beli menjadi masalah berikutnya. Saat ini, di tengah meningkatnya market place (ruang belanja online), banyak warga desa suka membeli sesuatu dari luar desanya. Kemudahan beli ini, memicu berbagai komoditas asli desa tidak dimunculkan. Sehingga, sirkulasi uang selalu keluar.
“Masalah kecanduan beli di luar ini, harus ditekan dengan cara mencari dan memunculkan komoditas asli desa tersebut” Imbuhnya.
Sementara Kades Sendangharjo, Yus Kariyanto mengucap twrimakasih atas temuan serta materi penting dalam kegiatan tersebut. Pihaknya akan berupaya keras untuk memunculkan dan mem-valuasi bermacam potensi positif desa di wilayahnya, untuk dipertebal dalam kegiatan rutin warga.
“Misalnya pembentukan pasar keistimewaan lokal yang dijelaskan pemateri. Itu perihal penting yang selama ini belum pernah kami coba” Ucap dia.
Yus Kariyanto menjelaskan, Desa Sendangharjo memang memiliki banyak potensi. Namun, karena ketidaktahuan dan belum tergerak untuk memberdayakannya, sehingga potensi itu seperti tak tampak. Karena itu, Forum Rembug Desa ini dianggap penting sebagai pemantiknya.








