Pondok Pesantren Al-Mutamakin di Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, menggelar Halaqoh Pesantren bertema “Transformasi Pesantren di Era Digital: Tantangan dan Peluang” pada Jumat malam, 28 November 2025.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB ini diikuti puluhan santri dan sejumlah komunitas. Forum tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk membekali generasi pesantren menghadapi arus perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Acara dibuka oleh perwakilan pesantren, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dari dua narasumber. Mereka adalah Nashir Falachuddin, S.E. dari Lembaga Kajian Seni Budaya dan Keislaman serta Ahmad Ahsanul Minan, S.E. dari Lakpesdam PC NU Bojonegoro.
Dalam paparannya, Nashir menjelaskan tantangan utama yang dihadapi pesantren di era digital. Mulai dari keterbatasan infrastruktur, adaptasi kurikulum, hingga persoalan etika bermedia yang berdampak pada kehidupan santri.
Ia juga menyinggung risiko lain seperti distraksi gawai, penurunan minat membaca kitab kuning, serta perubahan pola interaksi di lingkungan pesantren. Meski demikian, Nashir menegaskan bahwa digitalisasi bukan ancaman, melainkan perubahan yang harus dielola dengan bijak.
Sementara itu, narasumber kedua, Ahmad Ahsanul Minan, menyoroti peluang besar yang dapat dimanfaatkan pesantren melalui teknologi digital. Di antaranya penguatan dakwah digital, perluasan akses ilmu pengetahuan, hingga pengembangan ekonomi pesantren berbasis online.
Ia menekankan bahwa digitalisasi harus tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren. Menurutnya, era digital justru membuka ruang baru bagi dakwah, kolaborasi, dan kemandirian pesantren jika dikelola secara tepat.








