Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mantiqut Tayr dan Merak Hijau dari Utara

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
01/02/2026
in JURNAKULTURA
Mantiqut Tayr dan‎ Merak Hijau dari Utara

Mantiqut Tayr (Mughal)

‎Membaca Mantiqut Tayr dan Merak Hijau sebagai garis alegori-kosmologis — sebuah lintasan makna yang menjahit perjalanan batin, simbol alam, dan keselarasan kosmik.

Mantiqut Tayr (Musyawarah Burung) merupakan alegori-sufistik yang ditulis sufi besar Persia, Fariduddin Attar, pada 1177 M. Berkisah tentang musyawarah para burung dalam mencari Raja Sejati yang mereka sebut sebagai Simurgh. Seperti namanya yang Mantiq, logika kerap dipenuhi ego yang indah nan berlapis kepentingan serupa bulu Merak. Dalam tradisi sufistik Persia, Burung Merak melambangkan keindahan lahiriah, kesadaran dan keakuan yang terselubung pesona diri.

Burung Merak tidak jahat dan buruk, tapi terlalu menyadari bahwa ia indah dan harus selalu diperhitungkan. Sejumlah manuskrip dari era Timurid Persia dan Mughal India, menjadikan Burung Merak sebagai visual utama dalam Mantiqut Tayr. Meski sesungguhnya, Burung Merak hanya salah satu tokoh yang dijumpai Burung Hudhud untuk melakukan perjalanan spiritual. Burung Merak, dalam konteks kisah Mantiqut Tayr, menjadi simbol atas ego yang teramat halus.

Mantiqut Tayr: Burung merak dan rombongan para burung saat berada di atas bukit yang menyimpan bara cahaya (Persian)

Dalam Mantiqut Tayr, perjalanan burung-burung menuju Simurgh adalah proses menanggalkan ego. Dan Burung Merak, adalah simbol rintangan awal: spiritualitas yang masih terpikat citra diri. Baru setelah melewati Tujuh Lembah peleburan ego, para kawanan burung itu akhirnya menemukan Simurgh sang Raja Sejati, yang ternyata sudah berada di dalam diri mereka sendiri.

‎Mantiqut Tayr bukan kitab tarekat,‎ tapi ruh kultural yang mengalir di banyak tarekat besar. Mantiqut Tayr tidak bersifat sektarian, tidak eksklusif, dan tidak terikat mazhab tertentu. Sehingga bisa diterjemah ke budaya mana pun. Mantiqut Tayr mengalir dan mengembara, mengikuti jalur kafilah Sufi pengelana—  melintasi Samudera Hindia dan menembus Laut Jawa.

Merak Hijau dari Utara

‎Abad 12 M.  Tepat di saat Mantiqut Tayr ditulis, Kerajaan Jenggala, imperium dari utara, masih menjaga marwah Para Pendahulunya, bahwa sungai terpanjang di Pulau Jawa, tetap dipenuhi para Begawan, Brahmana, dan rumpun masyarakat berwatak egaliter, adaptatif, dan dialogis. Kerajaan Jenggala menjadi representasi dari Jawadwipa — koridor perdagangan maritim nusantara yang kosmopolit dan terbuka: episentrum perlintasan manusia.

‎Di Perbukitan Kapur yang asketis, Merak Hijau kerap menjadi simbol atas ruang transisi, titik pertautan, sekaligus dialektika antara lama dan baru, sunyi dan riuh, atau pegunungan dan pesisiran. Ia hadir bukan sebagai penguasa lanskap, melainkan penanda keselarasan yang rapuh namun terus bertahan — semacam keindahan yang tumbuh, justru dari berbagai keterbatasan.

Merak dalam relief candi zaman Medang

Dalam tradisi Budhis, Merak dipahami sebagai simbol transformasi spiritual. Ia melambangkan keajaiban batin: mampu menyerap racun dan menjadikannya kebijaksanaan. Dalam kisah-kisah simbolik, Merak diyakini mampu memakan tanaman beracun tanpa terluka—sebuah metafora tentang kesadaran yang tidak menolak kenyataan, tapi memilih untuk mengolah kenyataan itu menjadi welas asih dan kejernihan.

Maka sebuah keniscayaan ketika Pusaka Penyatuan Jawa ditancapkan pada 1246 M, Merak Hijau adalah burung yang dengan gagah berani bertengger di atas pohon Kamal Pandak. Membentangkan kedua sayapnya — memberi naungan peneduh di kedua sisi dan menyerap walak bumi untuk mengubahnya menjadi cakra manfaat bumi.

‎Meski belum ada kontak langsung antara Mantiqut Tayr dengan Jawa pada zaman Kerajaan Jenggala, keduanya berada dalam gelombang spiritualitas yang seirama: para Sufi yang berjalan menembus Tujuh Lembah kelenyapan ego, dan para Brahmana yang menapaki jalan Sunya — Sufi yang menuju Fana, Brahmana yang menuju Sunyata. Dan serupa Bukit Kapur di tepi Bengawan, Jawadwipa telah memiliki kesiapan spiritual untuk kelak, pada abad 14 M, menyerap dan mengolah tasawuf  menjadi Sufisme Jawi.

Tags: Makin Tahu IndonesiaMantiqut TayrMerak Hijau Bojonegoro
Previous Post

PAC IPNU–IPPNU Dander Bojonegoro Guncang Tabu Sejarah Lewat Diskusi Genosida 1965

Next Post

Ibnu Athaillah Sakandari: Ahli Fiqih yang "Mencuri" Rahasia Langit

BERITA MENARIK LAINNYA

Skateboard Bojonegoro Makin Diminati, Anggota Komunitas Bertambah Usai Kejuaraan Nasional
JURNAKULTURA

Skateboard Bojonegoro Makin Diminati, Anggota Komunitas Bertambah Usai Kejuaraan Nasional

06/09/2026
Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia
JURNAKULTURA

Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

27/08/2026
Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez
JURNAKULTURA

Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

25/08/2026

Anyar Nabs

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

15/09/2026
Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

Ironi Lulusan Sarjana di Desa: Ketika Gelar Kalah Pamor dari Menantu Juragan dan Abdi Negara

14/09/2026
Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro

Pameran Temporer 2026: Membuka Jejak Peradaban Bojonegoro

13/09/2026
Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian

Peradaban Islam Bengawan: Dari Catatan hingga Kesenian

12/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: