Perjalanan riset dari Dandangilo (Bojonegoro) menuju Janjang (Blora), ibarat menyambung tali yang terputus, atau menyusun papan jembatan yang telah lama bobrok dan terabaikan.
Setelah berkunjung dan melakukan pengamatan di Desa Dandangilo (Bojonegoro), tim Ekspedisi Naga Api melanjutkan riset lapangan ke Desa Janjang (Blora). Dua tempat ini, secara literatur, merupakan saksi atas lahirnya industrialisasi minyak bumi di kawasan Blok Cepu (Blora – Bojonegoro). Maka sebuah keberuntungan ketika tim ekspedisi mampu mengunjungi pintu gerbang eksplorasi migas ini.
Seperti anatomi tubuh Naga yang memang berbentuk memanjang, Ekspedisi Naga Api berupaya memolorkan tubuh untuk menjadi tali penaut dua sumber energi purba ini. Perjalanan dari Dandangilo (Bojonegoro) menuju Janjang (Blora), ibarat menyambung tali yang terputus, atau menyusun kembali papan jembatan yang lama terabaikan.
Ekspedisi Naga Api merupakan bagian dari Serial Literasi Geopark
Desa Janjang terletak di Kecamatan Jiken, Blora. Lokasinya memang cukup dekat dengan Dandangilo, Kedewan, Bojonegoro. Desa Janjang berada di sebelah barat Dandangilo. dan berada di sebelah utara Desa Ledok, Kecamatan Sambong, Blora. Sama seperti Dandangilo, Desa Ledok merupakan titik mula industrialisasi minyak bumi.
Di Desa Janjang, tim ekspedisi berkunjung ke Situs Janjang, sebuah puncak perbukitan yang dipenuhi tiga amatan sekaligus; biodiversitas, geodiversitas, dan cultural diversitas. Sebagai bukit yang tinggi, posisi Janjang sangat strategis sebagai titik pengamatan. Di tempat ini, tim ekspedisi bisa mengamati Dandangilo (Bojonegoro) dan Ledok (Blora) sekaligus. Artinya, tim ekspedisi mengamati dua “leluhur” industrialisasi Blok Cepu.
Dalam buku Janjang: Saksi Bisu Minyak Bumi Blora (2025), Totok Supriyanto menjelaskan bahwa Janjang merupakan saksi perpisahan Distrik Telang dengan Blora di awal abad ke-19 M, sekaligus saksi penyatuan Blora dengan Distrik Panolan, yang dulunya adalah wilayah Jipang (Bojonegoro). Janjang berada di tengah-tengah antara sumur minyak bumi Dandangilo (Distrik Telang) dan sumur minyak bumi Ledok (Distrik Panolan).
Distrik Telang (Tinawun) dulunya masuk kawasan Blora. Dan Distrik Panolan dulunya masuk wilayah Jipang (Bojonegoro). Saat ini, Distrik Telang/Tinawun (menjadi Malo) berada di kawasan Jipang (Bojonegoro). Sementara Distrik Panolan (menjadi Cepu) berada di kawasan Blora. Inilah metode kolonial dalam memutus “jembatan” kebudayaan. Dan Janjang adalah saksi atas pemutusan ini.

Dalam konteks zonasi geologi Cekungan Jawa Timur Utara, Janjang merupakan batas antara Zona Rembang Utara dan Zona Rembang selatan. Sementata dari konteks konsesi pertambangan Residensi Rembang, Desa Janjang menjadi batas antara dua wilayah konsesi pertambangan. Yaitu konsesi Telang (Tinawun / Bojonegoro) dan konsesi Panolan (Cepu/Blora).
Secara literatur, di Residensi Rembang, pertama kali konsesi minyak bumi ada di dua tempat. Yaitu Konsesi Panolan (Blora) dan Konsesi Tinawun (Bojonegoro). Ledok adalah sumur minyak bumi pertama yang dikelola Belanda di wilayah Blora. Sementara Dandangilo adalah sumur minyak bumi pertama yang dikelola Belanda di wilayah Bojonegoro.
Konsesi Tinawun (Bojonegoro) adalah lahan tambang dengan luas 30.232 bahu yang batas wilayahnya seluas wilayah Distrik Tinawun, Kabupaten Bojonegoro, Residensi Rembang. Konsesi ini dimulai pada 21 Januari 1895. Sementara Konsesi Panolan (Blora) adalah lahan seluas 11.977 bahu, yang berada di Distrik Panolan, Kabupaten Blora, residensi Rembang. Konsesi ini ditetapkan Hindia Belanda pada 30 September 1896.
Dan Janjang, desa yang kami kunjungi ini, adalah saksi atas kelahiran geliat minyak bumi di dua lolasi itu. Yaitu sumur Dandangilo Tinawun (Bojonegoro) dan sumur Ledok Panolan (Blora). Janjang juga menjadi saksi bagaimana dua lokasi itu diubah posisinya. Dandangilo Tinawun yang dulunya Blora diubah jadi wilayah Jipang (Bojonegoro). Sementara Ledok Panolan yang dulunya Jipang (Bojonegoro) diubah jadi wilayah Blora.
Tim Ekspedisi Naga Api menyadari bahwa yang paling kejam dari sebuah kolonisasi adalah pemisahan yang dulu bersatu. Perceraian yang dulu bersama. Dan terputusnya jembatan antara dua kawasan “Medang Kamulan” ini. Dan atas alasan inilah, Naga Api lahir kedunia sebagai “tali” yang kembali menyapanya.
Dan seperti anatomi tubuh Naga yang memang berbentuk memanjang, Ekspedisi Naga Api berupaya memolorkan tubuh untuk menjadi tali penaut dua sumber energi purba ini. Perjalanan dari Dandangilo (Bojonegoro) menuju Janjang (Blora), ibarat menyambung tali yang terputus, atau menyusun papan jembatan yang telah lama bobrok dan terabaikan.








