Hobi nonton bola dan hobi bernyanyi memang beda. Tapi, dari perbedaan itu, lahirlah suporter bola. Tanpa dua hobi yang berbeda tersebut, mustahil ada suporter bola yang suka bernyanyi di atas tribun.
Beda adalah niscaya. Generasi bisa berlanjut karena adanya lawan jenis yang beda jenis kelamin. Ingat, tanpa adanya perbedaan, di dunia ini tidak akan pernah ada istilah mantu-mantuan dan besan-besanan.
Nabs, beda itu sangat penting. Selain membikin hidup kian warna-warni, perbedaan adalah syarat mutlak berputarnya kehidupan. Tanpa adanya perbedaan, dunia bakal dipenuhi banyak kekacauan.
Banyak sekali perbedaan di dunia ini. Mulai dari perbedaan kecil hingga perbedaan yang besar. Mulai dari yang remeh, hingga yang tidak remeh. Peradaban dan kehidupan dibangun dari adanya perbedaan peran manusia.
Coba bayangkan, andai di dunia ini, semua orang jadi PNS dan pegawai kantoran, lalu siapa yang memperbaiki aspal jalan? Andai semua orang jadi kuli bangunan, lalu siapa yang berjualan?
Coba imajinasikan, andai di dunia ini, semua orang adalah perempuan, lalu bagaimana generasi bisa berkelanjutan? Andai di dunia ini, semua orang adalah lelaki, yaelah, ya enggak enak lah — nggak ada yang memotivasi untuk bangun pagi buat ngejar cinta.
Beda itu harus. Jika tidak ada perbedaan, justru ada yang aneh dengan kehidupan. Musik saja bisa enak didengar karena adanya perbedaan nada dan bermacam-macam alatnya. Kompetisi sepakbola bisa digelar hanya karena adanya lawan yang berbeda klub.
Fakta terkait pentingnya perbedaan di atas, harusnya mampu bikin kita abai pada masalah-masalah perbedaan. Terlebih urusan beda pandangan politik. Sebab, beda itu niscaya. Sehingga beda pandangan politik (harusnya) bukan menjadi masalah yang besar.
Saat ini, terutama di Indonesia, segala sesuatu selalu dihubung-hubungkan dengan urusan beda pilihan dan pandangan politik. Seolah-olah, pandangan politik itu sangat penting dan berdampak pada urusan dunia-akhirat. Padahal, enggak blas.
Oke, jika memang pandangan dan pilihan politik kita beda dengan orang lain. Tapi, bukankah perbedaan itu sifatnya personal dan tidak harus digembar-gemborkan? Mbok ya biasa saja. Boleh beda tapi nggak boleh blayer-blayer.
Saling bermusuhan hanya karena beda pandangan politik itu sama saja kayak pengen nikah tapi nggak mau mengakui adanya orang lain selain diri sendiri. Lha gimana mau menikmati malam pertama coba?
Oke, jika ada yang beralasan mau menikahi diri sendiri. Ehtapi, sejak kapan sih kamu berani melawan kesendirian? Lha wong melihat mantan berpacaran sama orang lain saja mau pingsan gitu kog, pakai sombong segala. Hmm
Dalam konteks jejodohan, misalnya. Perbedaan itu sebuah kenikmatan. Perbedaan hobi, agama, kelas sosial, hingga jenis makanan favorit, tentu tetap bisa berjodoh — asal memang ada cinta dan kecocokan di dalamnya.
Kamu yang hobinya nonton bola, sangat mungkin berjodoh dengan sosok yang tidak paham sepakbola sama sekali. Sebaliknya, kamu yang hobinya bernyanyi, bisa jadi jodohnya justru orang yang hobi nonton bola dan tak terlalu suka bermusik.
Sebab, jauh-jauh hari, Tuhan sudah menyiapkan skenario bahwa nonton bola dan bernyanyi adalah cikal bakal lahirnya suporter. Tanpa ada dua hobi yang berbeda itu, mustahil ada suporter bola di muka bumi ini. Mustahil ada suporter yang bernyanyi di atas tribun.
Nabs, yuk kita memaklumi perbedaan. Sebab dengan memaklumi perbedaan, kita bakal menyambut hadirnya pernikahan. Eh, perdamaian maksudnya.








