Kabupaten Bojonegoro dilintasi sungai Bengawan Solo. Ini menyebabkan Bojonegoro kerap terkena banjir. Keberadaan jalan tanggul Bojonegoro mampu hadang air sekaligus jadi akses lintasan.
Tanggul dibuat di samping trotoar jalan. Namun, terdapat pula tanggul tinggi yang dibuat memanjang. Tanggul ini bukan hanya sebagai penahan air luapan Bengawan Solo. Sebab, ia juga berfungsi sebagai akses jalan.
Panjang tanggul yang terdapat di Bojonegoro mencapai panjang hampir 4 kilometer dan melewati 4 desa di Bojonegoro. Jalan di atas tanggul ini dibagi menjadi 2 bagian.
Pertama, Jalan Kapten Rameli merupakan bagian tanggul yang ada di dua desa, Kelurahan Ledokkulon dan Ledokwetan. Jalan ini berbentuk melingkar di sepanjang bantaran Bengawan Solo. Mulai dari depan Gedung Serbaguna Bojonegoro hingga Masjid Al-Furqon Ledokkulon.
Dari gapura Jalan Kapten Rameli, permukaan jalan beraspal hingga pertigaan Musala Darul Ulum. Kondisi jalannya pun pecah-pecah seperti bibir kekurangan vitamin C.
Bagi pengendara yang lewat jalan ini, perlu berhati-hati. Butuh penglihatan mata elang agar bisa menghindari lubang jalan. Namun, kondisi jalan cukup lebar dan bisa dilalui mobil.
Setelah melewati Musala Darul Ulum, kondisi jalan mulai menyempit. Pavingnya berantakan seperti gigi burung kakak tua hinggap di jendela.
Bagian tengah mulai menggunduk dan banyak rumput yang tumbuh menjulang menantang awan. Akan tetapi, pemandangan yang terlihat di jalan ini, mampu membayarnya.
Suasana desa begitu terasa. Terdapat beberapa kandang sapi milik warga yang bisa dijumpai. Pemandangan hijau rerumputan juga menghiasai Lapangan Bola Also.
Di sampingnya, terdapat sungai purba terpanjang di Pulau Jawa. Ya, itulah sungai Bengawan Solo. Jalan ini sangat indah untuk dinikmati di sore hari. Namun, harus berhati-hati saat malam hari. Karena banyak lubangnya.
Kedua, jalan di tanggul sungai ini membelah tiga desa, yaitu Kelurahan Ledokkulon, Desa Kauman dan Kelurahan Klangon.
Jalan membentang mulai dari Kantor Kelurahan Ledokkulon mengarah ke selatan hingga masuk ke Jalan MH. Thamrin. Ujung jalan ini berada di depan Polres Bojonegoro.
Berdasarkan peta Google, jalan ini masih belum memiliki nama. Kedua ujung bagian jalan pun tidak terdapat plang nama jalan. Meski begitu, di sepanjang jalan terdapat bagian rumah penduduk yang tampak padat.
Pemukiman banyak berada di Desa Kauman dan Kelurahan Klangon. Sisanya masih terdapat semak belukar yang mirip hutan kecil. Itu berada di wilayah Kelurahan Ledokkulon.
Kondisi jalan berpaving sudah mulai bergelombang dan semburat. Hampir mirip seperti kodok yang siap meloncat ke berbagai arah. Rumput ilalang yang tinggi tumbuh di kanan-kiri dan bagian tengah. Jika tidak berhati-hati, pengguna jalan bisa terperosok ke bagian samping tanggul.
Pada sore hari, banyak anak-anak kecil bermain. Terdapat pula beberapa lapangan kecil yang biasa digunakan bermain sepak bola. Karena cukup banyak semak belukar, pemandangan terkesan dengan suasana alam yang begitu hijau.
Bisa Diberdayakan Sebagai Aset Wisata
Jalan tanggul Bojonegoro sangat cocok untuk berolahraga sambil rekreasi. Pasalnya, jalan ini tidak banyak dilalui kendaraan bermotor. Hanya sesekali saja. Itu pun motor, bukan mobil.
Jalan tanggul Bojonegoro ini cukup unik. Sebenarnya, jalan ini sangat cocok dijadikan rute bersepeda saat sore hari. Namun, kondisi jalan yang kurang baik membuat kurang nyaman.
“Kalau mau dimaksimalkan untuk wisata atau jalur bersantai tentu sangat bisa,” kata Muhdany, salah seorang warga.
Dia menjelaskan, jarang ada lokasi memiliki tanggul yang bisa dilintasi banyak kendaraan. Selain itu, jaraknya cukup panjang. Bahkan, di sebelah sisinya ada pemandangan sungai.
Nabs, andai pemerintah kreatif, tentu jalan tanggul Bojonegoro bisa dimaksimalkan jadi aset ruang bersantai dan berolahraga. Bahkan, bisa jadi aset wisata.








