Pride of Identity atau kebanggaan terhadap identitas, akhir-akhir ini memang menjadi masalah. Sebab, banyak yang memusuhi liyan hanya karena beda identitas. Namun, Pride of Identity ternyata sangat penting bagi proses city branding.
Nabs, ingat nggak, pas kita main ke luar kota, ketemu sama orang baru, dan ditanya asal kita dari mana? Lalu, orang baru itu bertanya tentang apa kekhasan dan keunikan yang ada di kota asal kita?
Dan kita, dengan penuh kebanggaan, bercerita tentang berbagai keunikan dan kekhasan potensi lokal yang ada di daerah kita. Disadari atau tidak, itu bagian dari Pride of Identity lho, Nabs.
Dan Pride of Identity, kau tahu, adalah ujung tombak dari city branding. Meski, tentu saja, tidak semua memahami itu. Dan lebih parahnya lagi, Pride of Identity di Kota Bojonegoro belum terlalu kuat dan masih harus dimaksimalkan.
Saat musim liburan tiba, misalnya, kita masih sering mendapati masyarakat Bojonegoro lebih memilih berwisata ke luar kota — tentu, ini hak prerogatif bagi wisatawan. Tapi, tidak ada salahnya juga kan kita membanggakan tempat-tempat yang ada di Bojonegoro.
Sebab, public relation (PR) terbaik dalam urusan city brand adalah masyarakat kota itu sendiri. Alasannya, mereka yang (seharusnya) lebih mengenal. Dan punya kemampuan menceritakan dengan baik.
Logikanya sederhana: jika masyarakat lokal saja tidak pernah bercerita tentang potensi kotanya sendiri, bagaimana orang luar kota bisa percaya akan potensi tersebut? Karena itu, masyarakat lah yang seharusnya bercerita tentang apa yang ada di Kota Bojonegoro.
Guy Kawasaki — dalam The Art of Starting — mengatakan, branding harus dimulai dari mantra atau janji suci yang diucapkan di dalam hati dan berulang-ulang. Branding, tak bisa diciptakan dalam setahun atau dua tahun. Apalagi, dalam semalam dua malam seperti yang sering diucapkan para motivator.
Itu artinya, proses branding butuh waktu cukup lama. Dan berkelanjutan. Proses branding yang lama dan berkelanjutan, kita tahu, tentu hanya bisa dilakukan masyarakat lokal. Mengingat, masyarakat lokal telah lama hidup di daerah.
Sedang proses yang berkelanjutan, tentu juga bisa dilakukan masyarakat. Sebab, kebanggaan masyarakat akan sebuah kota, sudah secara otomatis bisa mentransfer pemahaman pada orang lain. Itu alasan kenapa city branding sangat berhubungan dengan Pride of Identity.
Pengembang Program Ekowisata di PT. Ekowisata Kreatif Indonesia (Ekotifa), Afrodita Indrayana mengatakan, Pride of Identity memang menjadi hal pokok dari proses branding kota.
Alasannya, kebanggaan masyarakat akan sebuah kota, sudah secara langsung, bakal membuat kota lebih terkenal.
“Dari Pride of Identity ini, masyarakat sendiri lah yang akan membranding sebuah kota,” kata pemuda lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.
Afro mengatakan, Pride of Identity memicu masyarakat bisa bercerita perihal apa-apa saja yang ada di kotanya. Bahkan, proses bercerita itu, tanpa settingan. Sehingga, proses marketing pun berjalan secara natural.
Pride of Identity atau kebanggaan terhadap identitas, akhir-akhir ini memang menjadi masalah. Sebab, banyak yang memusuhi liyan hanya karena beda identitas. Namun, Pride of Identity ternyata sangat penting bagi proses city branding.
“Memiliki Pride of Identity sudah secara otomatis mampu membranding kota sendiri. Sedang semaksimal apapun proses branding, tanpa Pride of Identity tentu bakal sulit,” imbuh dia.
Bahkan, city branding bisa berjalan secara natural, asal masyarakat setempat sudah memiliki Pride of Identity terhadap Kota Bojonegoro. Karena itu, sudah selayaknya masyarakat Bojonegoro memiliki Pride of Identity.








