Batuan Karst merupakan bentang alam penjaga keseimbangan ekologis di kawasan Lembah Kendeng (Bojonegoro). Kami menyebutnya entitas alam yang khowas.
Bojonegoro merupakan Lembah Kendeng yang punya peran historis hampir di setiap zaman. Dari zaman Kuno, Hindu-Budha, maupun Islam. Meski namanya pernah diganti — untuk menghilangkan jejak kebesarannya — ia tetap tanah bertuah yang diberkahi bermacam kearifan bumi.
Secara geografis, Bojonegoro dataran diapit Pegunungan Kendeng di bagian selatan dan utaranya. Dua lajur Pegunungan Kendeng ini, membentang dari Margomulyo sampai Sekar (Kendeng Utara bagian Selatan), dan melintang dari Kedewan sampai Trucuk (Kendeng Utara bagian utara).
Sementara di bagian dalamnya, terdapat lintasan kanal air purba terpanjang di Pulau Jawa: sungai Bengawan. Bojonegoro berperan strategis karena jadi wilayah terpanjang yang mendominasinya. Tepat di atas sempadannya, terdapat sejumlah titik situs megalitikum.
Dengan posisi geografis semacam itu, sebuah keniscayaan ketika Lembah Kendeng ini jadi inkubator peradaban, tempat bagi Para Begawan (Wiku, Brahmana, maupun para Wali). Ia jadi “ruang taut” antara manusia dengan alam, yang oleh ilmu modern masa kini, disebut dengan istilah Ekologi.
Dataran Lembah Kendeng ini dikenal memiliki tanaman Jati Alam yang cukup melimpah. Pada abad 19 M, Nederlands Oost (1857) mencatat Lembah Kendeng ini dengan penuh kekaguman sebagai kawasan yang di mana mata memandang, akan menjumpai pohon Jati Alam kokoh tegak berdiri.
Baris perbukitan yang memagarinya, menyimpan komoditas mutiara hitam yang keberadaannya disinggung sejak abad 9 M. Pada abad 20 M, Witkamp (1917) membuat laporan, masyarakat Lembah Kendeng sudah memiliki metode kuno dalam mengambil dan mengelola minyak bumi.
Batuan Karst Lembah Kendeng
Satu entitas alam amat penting yang berada di Perbukitan Kendeng Bojonegoro, adalah bentang alam berupa Batuan Karst. Namun tak seperti minyak bumi ataupun hutan jati, nasib bentang alam Batuan Karst di Bojonegoro tak begitu menarik perhatian.Tapi bagi kami, Batuan Karst adalah pilar utama pembelajaran.
Batuan Karst menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan alternatif Suluk Geobiculta yang kami susun. Tentu, kami mempelajari dan menyusun berbagai teorema atas keberadaan bentang alam Batuan Karst ini, dalam berbagai perspektif penelitian.
Batuan Karst, bisa disebut khazanah alam paling awet yang pernah dimiliki Bojonegoro. Ia berdiri tegak selama berabad-abad silam. Namun, sikap liar manusia juga berpotensi merusaknya. Karena itu, kami membangun mekanisme perlindungan melalui kaidah pendidikan. Sehingga keberadaannya tetap memberi manfaat keilmuan.

Di Laboratorium Sotasrungga, kami mempelajari banyak hal tentang bermacam fungsi Batuan Karst. Terutama peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kawasan Karst adalah penyerap air hujan yang dapat membuatnya jadi sumber mata air tawar bersih.
Sesuai data LIPI (sekarang bagian dari BRIN), satu kawasan Karst bisa menyediakan hingga 30 sumber mata air. Sumberan air inilah yang dapat digunakan mendukung pertanian dan perkebunan. Maka bukan kebetulan ketika Laboratorium Sotasrungga dipenuhi banyak sumber mata air.
Baca Juga: Ekspedisi Sotasrungga dan Tafakuran Mata Air
Batuan Karst juga jadi habitat penting bagi sejumlah flora dan fauna. Di Laboratorium Sotasrungga, masih banyak kami temui Batuan Karst yang mampu menopang pepohonan besar. Bentang alam Karst mungkin ditemui di sejumlah tempat. Tapi, Karst yang mampu menopang pohon besar, cukup sulit ditemui di sembarang tempat. Dan Laboratorium Sotasrungga, satu di antara yang sulit itu.
Usfri Rarandra, Agronomis UGM Jogjakarta yang ikut dalam kegiatan riset Suluk Geobiculta bercerita, dalam teori Geologi, bentang alam Batuan Karst adalah dasar laut yang terangkat ke atas. Maka bukan kebetulan jika tekstur batuan karst akan mengingatkan kita pada tekstur karang di lautan.
Faktanya, beberapa tahun silam, di puncak bukit Pegunungan Kendeng Bojonegoro pernah ditemukan fosil-fosil binatang laut seperti fosil kerang laut, fosil kuda laut, dan yang cukup fenomenal, fosil ikan hiu. Ini jadi alasan Bojonegoro dipenuhi sumber minyak bumi — yang tak lain adalah Energi Fosil.
Perhatian Usfri tertuju pada banyaknya pepohonan besar yang bisa hidup di atas Batuan Karst. Menurutnya, hal itu fenomena menarik yang wajib jadi pelajaran penting. Terutama, keberadaan pohon ficus raksasa yang bisa hidup di atas Batuan Karst. Selain langka, ini juga jadi subjek penting untuk dipelajari Suluk Geobiculta.
Baca Juga: Poneglyph, Metode Berkomunikasi dengan Pohon
Usfri mencontohkan, pohon sawit juga dikenal memiliki kemampuan menyerap air dalam jumlah besar per hari. Kata dia, pohon sawit mampu menyerap 600 liter air per hari, per pohon. Tapi, faktanya akar sawit dangkal. Bahkan kemampuannya dalam bertahan hidup juga kurang.

Sementara pohon ficus punya kemampuan menyedot (menaikkan air) ultra besar. Bahkan, pohon ficus memiliki enzim akar yang mampu mengikat air. Akarnya mampu bergerak luas dan dalam. Dan wajib diketahui, ukuran akar pohon ficus 3 kali lipat ukuran batangnya. Ini menjadikan ficus sebagai “jetpump” yang tak tertandingi pohon lain.
“Pohon ficus itu penyerap air. Dan di sini, kita menyaksikan dia bisa hidup di atas Batuan Karst selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Tentu ini pelajaran penting” Ucapnya.
Guru sekaligus pembimbing Suluk Geobiculta, Noer Fauzi Rachman PhD menyatakan, bagi pepohonan, gizi yang terkandung dalam Batuan Karst tak sama dengan gizi yang terkandung dari dalam tanah. Sebab, tanah bersifat dinamis dan bisa mudah berubah tempat. Sementara Batuan Karst bersifat statis dan tak mudah berpindah tempat.
“Ini alasan kenapa di Sotasrungga, pohon ficus bisa hidup ratusan, atau bahkan ribuan tahun di atas Batuan Karst” ucap Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung itu.
Secara global, lahan Batuan Karst meliputi 7 hingga 10 persen total lahan dunia. Dan Indonesia memiliki kawasan Karst mencapai lebih dari 15,4 juta hektar. Artinya, Indonesia negara kepulauan yang memiliki kawasan Karst tersebar di hampir semua pulau-pulau besar dari Sumatra sampai Papua (Taharu et al., 2006).
Kami bersyukur karena masih menjumpai Batuan Karst di Lembah Kendeng. Terlebih, ia punya fungsi penting menjaga keberlangsungan ekosistem. Kami berupaya menjaga kelestarian Batuan Karst itu, dengan mengabadikannya sebagai pilar pendidikan alternatif Geobiculta. Sehingga ia dijaga sembari dipelajari.








