Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Batuan Karst: Pilar Ekologi Lembah Kendeng

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
05/06/2025
in JURNAKOLOGI
Batuan Karst: Pilar Ekologi Lembah Kendeng

Batuan Karst Lembah Kendeng (Jurnaba.co)

Batuan Karst merupakan bentang alam  penjaga keseimbangan ekologis di kawasan Lembah Kendeng (Bojonegoro). Kami menyebutnya entitas alam yang khowas. 

Bojonegoro merupakan Lembah Kendeng yang punya peran historis hampir di setiap zaman. Dari zaman Kuno, Hindu-Budha, maupun Islam. Meski namanya pernah diganti — untuk menghilangkan jejak kebesarannya — ia tetap tanah bertuah yang diberkahi bermacam kearifan bumi.

Secara geografis, Bojonegoro dataran diapit Pegunungan Kendeng di bagian selatan dan utaranya. Dua lajur Pegunungan Kendeng ini, membentang dari Margomulyo sampai Sekar (Kendeng Utara bagian Selatan), dan melintang dari Kedewan sampai Trucuk (Kendeng Utara bagian utara).

Sementara di bagian dalamnya, terdapat lintasan kanal air purba terpanjang di Pulau Jawa: sungai Bengawan. Bojonegoro berperan strategis karena jadi wilayah terpanjang yang mendominasinya. Tepat di atas sempadannya, terdapat sejumlah titik situs megalitikum.

Dengan posisi geografis semacam itu, sebuah keniscayaan ketika Lembah Kendeng ini jadi inkubator peradaban, tempat bagi Para Begawan (Wiku, Brahmana, maupun para Wali). Ia jadi “ruang taut” antara manusia dengan alam, yang oleh ilmu modern masa kini, disebut dengan istilah Ekologi.

Dataran Lembah Kendeng ini dikenal memiliki tanaman Jati Alam yang cukup melimpah. Pada abad 19 M, Nederlands Oost (1857) mencatat Lembah Kendeng ini dengan penuh kekaguman sebagai kawasan yang di mana mata memandang, akan menjumpai pohon Jati Alam kokoh tegak berdiri.

Baris perbukitan yang memagarinya, menyimpan komoditas mutiara hitam yang keberadaannya disinggung sejak abad 9 M. Pada abad 20 M, Witkamp (1917) membuat laporan, masyarakat Lembah Kendeng sudah memiliki metode kuno dalam mengambil dan mengelola minyak bumi.

Batuan Karst Lembah Kendeng

Satu entitas alam amat penting yang berada di Perbukitan Kendeng Bojonegoro, adalah bentang alam berupa Batuan Karst. Namun tak seperti minyak bumi ataupun hutan jati, nasib bentang alam Batuan Karst di Bojonegoro tak begitu menarik perhatian.Tapi bagi kami, Batuan Karst adalah pilar utama pembelajaran.

Batuan Karst menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan alternatif Suluk Geobiculta yang kami susun. Tentu, kami mempelajari dan menyusun berbagai teorema atas keberadaan bentang alam Batuan Karst ini, dalam berbagai perspektif penelitian.

Batuan Karst, bisa disebut khazanah alam paling awet yang pernah dimiliki Bojonegoro. Ia berdiri tegak selama berabad-abad silam. Namun, sikap liar manusia juga berpotensi merusaknya. Karena itu, kami membangun mekanisme perlindungan melalui kaidah pendidikan. Sehingga keberadaannya tetap memberi manfaat keilmuan.

Suluk Geobiculta: Belajar Sepanjang Masa

Di Laboratorium Sotasrungga, kami mempelajari banyak hal tentang bermacam fungsi Batuan Karst. Terutama peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kawasan Karst adalah penyerap air hujan yang dapat membuatnya jadi sumber mata air tawar bersih.

Sesuai data LIPI (sekarang bagian dari BRIN), satu kawasan Karst bisa menyediakan hingga 30 sumber mata air. Sumberan air inilah yang dapat digunakan mendukung pertanian dan perkebunan. Maka bukan kebetulan ketika Laboratorium Sotasrungga dipenuhi banyak sumber mata air.

Baca Juga: Ekspedisi Sotasrungga dan Tafakuran Mata Air 

Batuan Karst juga jadi habitat penting bagi sejumlah flora dan fauna. Di Laboratorium Sotasrungga, masih banyak kami temui Batuan Karst yang mampu menopang pepohonan besar. Bentang alam Karst mungkin ditemui di sejumlah tempat. Tapi, Karst yang mampu menopang pohon besar, cukup sulit ditemui di sembarang tempat. Dan Laboratorium Sotasrungga, satu di antara yang sulit itu.

Usfri Rarandra, Agronomis UGM Jogjakarta yang ikut dalam kegiatan riset Suluk Geobiculta bercerita, dalam teori Geologi, bentang alam Batuan Karst adalah dasar laut yang terangkat ke atas. Maka bukan kebetulan jika tekstur batuan karst akan mengingatkan kita pada tekstur karang di lautan.

Faktanya, beberapa tahun silam, di puncak bukit Pegunungan Kendeng Bojonegoro pernah ditemukan fosil-fosil binatang laut seperti fosil kerang laut, fosil kuda laut, dan yang cukup fenomenal, fosil ikan hiu. Ini jadi alasan Bojonegoro dipenuhi sumber minyak bumi — yang tak lain adalah Energi Fosil.

Perhatian Usfri tertuju pada banyaknya pepohonan besar yang bisa hidup di atas Batuan Karst. Menurutnya, hal itu fenomena menarik yang wajib jadi pelajaran penting. Terutama, keberadaan pohon ficus raksasa yang bisa hidup di atas Batuan Karst. Selain langka, ini juga jadi subjek penting untuk dipelajari Suluk Geobiculta.

Baca Juga: Poneglyph, Metode Berkomunikasi dengan Pohon 

Usfri mencontohkan, pohon sawit juga dikenal memiliki kemampuan menyerap air dalam jumlah besar per hari. Kata dia, pohon sawit mampu menyerap 600 liter air per hari, per pohon. Tapi, faktanya akar sawit dangkal. Bahkan kemampuannya dalam bertahan hidup juga kurang.

Pertautan pohon dengan  Batuan Karst (Geobiculta, Jurnaba)

Sementara pohon ficus punya kemampuan menyedot (menaikkan air) ultra besar. Bahkan, pohon ficus memiliki enzim akar yang mampu mengikat air. Akarnya mampu bergerak luas dan dalam. Dan wajib diketahui, ukuran akar pohon ficus 3 kali lipat ukuran batangnya. Ini menjadikan ficus sebagai “jetpump” yang tak tertandingi pohon lain.

“Pohon ficus itu penyerap air. Dan di sini, kita menyaksikan dia bisa hidup di atas Batuan Karst selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Tentu ini pelajaran penting” Ucapnya.

Guru sekaligus pembimbing Suluk Geobiculta, Noer Fauzi Rachman PhD menyatakan, bagi pepohonan, gizi yang terkandung dalam Batuan Karst tak sama dengan gizi yang terkandung dari dalam tanah. Sebab, tanah bersifat dinamis dan bisa mudah berubah tempat. Sementara Batuan Karst bersifat statis dan tak mudah berpindah tempat.

“Ini alasan kenapa di Sotasrungga, pohon ficus bisa hidup ratusan, atau bahkan ribuan tahun di atas Batuan Karst” ucap Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung itu.

Secara global, lahan Batuan Karst meliputi 7 hingga 10 persen total lahan dunia. Dan Indonesia memiliki kawasan Karst mencapai lebih dari 15,4 juta hektar. Artinya, Indonesia negara kepulauan yang memiliki kawasan Karst tersebar di hampir semua pulau-pulau besar dari Sumatra sampai Papua (Taharu et al., 2006).

Kami bersyukur karena masih menjumpai Batuan Karst di Lembah Kendeng. Terlebih, ia punya fungsi penting menjaga keberlangsungan ekosistem. Kami berupaya menjaga kelestarian Batuan Karst itu, dengan mengabadikannya sebagai pilar pendidikan alternatif Geobiculta. Sehingga ia dijaga sembari dipelajari.

Tags: Batuan KarstKERISKELOKALaboratorium SotasrunggaMakin Tahu IndonesiaSuluk Geobiculta
Previous Post

Mengapa Shalat Subuh Terdiri dari Dua Rakaat?

Next Post

Memaknai Idul Adha, Lebih dari Sekadar Menyembelih Hewan Kurban

BERITA MENARIK LAINNYA

Ketika Ilmu Lebih Berharga Dari Sebutir Nangka: Humor dan Hikmah Pencurian (1)
JURNAKOLOGI

Ketika Ilmu Lebih Berharga Dari Sebutir Nangka: Humor dan Hikmah Pencurian (1)

18/07/2025
Sarang Agroekologi: Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati
JURNAKOLOGI

Sarang Agroekologi: Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati

19/03/2025
Pohon Jogotirto, Kesaktian Hidrologis Para Penjaga Bumi
JURNAKOLOGI

Pohon Jogotirto, Kesaktian Hidrologis Para Penjaga Bumi

24/02/2025

Anyar Nabs

Alas Institute dan Komunitas MAPAK Sukosewu Kampanyekan Sedekah Sampah Melalui Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Alas Institute dan Komunitas MAPAK Sukosewu Kampanyekan Sedekah Sampah Melalui Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

16/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026
‎Abdulloh Umar: Menghidupkan Malam di Lima Hari Terakhir Ramadan

‎Abdulloh Umar: Menghidupkan Malam di Lima Hari Terakhir Ramadan

15/03/2026
Deregulasi: Tanpa Basis Sosial, Advokasi Hanya Retorika

Deregulasi: Tanpa Basis Sosial, Advokasi Hanya Retorika

14/03/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: