Berapa hasil dari 3 × 4?
Sebagian besar dari Anda, tanpa berpikir panjang, akan langsung menjawab 12. Namun, pernahkah Anda membayangkan sesuatu ketika menghitung 3 × 4? Ataukah itu hanya hasil dari menghafal tabel perkalian semasa SD dulu?
Tanpa sadar, pembelajaran di kurikulum kita telah mencetak mesin, alih-alih manusia. Sekarang, jika saya bertanya berapa hasil dari 14 × 17, maka sebagian besar dari Anda akan langsung menulis perkalian bersusun:
14
17
–––– ×
98
14
–––– +
238
Ini, sebenarnya, tak ubahnya dengan Anda menghitung menggunakan kalkulator. Mekanistik. Pernahkah Anda bertanya, kenapa bilangan 14 di bawah 98 harus lebih menjorok ke kiri satu digit? Kenapa ia tidak ditulis sejajar dengan 98?
Saya yakin, sewaktu SD Anda tidak pernah merasa perlu untuk menanyakan ini ke guru Anda. Ketika sudah besar, Anda hanya mengulangi apa yang pernah Anda lakukan sewaktu kecil. Guru SD pun saya yakin hampir seluruhnya merasa tak punya kewajiban untuk menjelaskan kenapa. Padahal kata tanya itu adalah yang paling mendasar untuk berkembangnya pemikiran dan pemahaman yang lebih komprehensif. Suatu esensi menjadi manusia.
Baiklah, jika Anda sekarang tertarik untuk menjawab kenapa, akan saya jelaskan di sini.
14 × 17 itu sama dengan 17 × 14. Yang kedua dapat dituliskan sebagai (10 + 7) × (10 + 4). Selanjutnya, Anda dapat menghitung sebagai (10 × 10) + (10 × 4) ditambah (7 × 10) + (7 × 4), atau 140 ditambah 98.
Perhatikan bahwa sebenarnya, Anda menambahkan 98 dengan 140, bukan dengan 14. Itulah kenapa saat menulis 14 dalam perkalian bersusun, ia dituliskan satu digit lebih ke kiri dibanding 98 karena ada nol yang tidak ditulis di belakang 14.
Jean Piaget, dalam karyanya “To Understand is to Invent: The Future of Education” yang terbit tahun 1948, dan diterjemahkan pada 1973, telah menekankan bahwa pembelajaran adalah proses aktif di mana anak-anak membangun pengetahuan mereka sendiri. Ini yang kemudian disebut sebagai konstruktivisme dalam dunia pendidikan. Sayangnya, dalam kenyataannya, sejak kecil kita telah dimekanisasi oleh lingkungan dan sekolah, alih-alih dibangun oleh mereka. Bahkan dalam ihwal sesederhana mengalikan dua bilangan.
PR siapakah ini? Saya akan kembalikan jawabannya pada Anda.








