Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Berimajinasi dengan Menyenangkan

A. Farid Fakih by A. Farid Fakih
28/12/2019
in JURNAKULTURA
Berimajinasi dengan Menyenangkan

Ada gurat senyum tak biasa yang terpaksa saya tunjukan hari-hari ini. Pemicunya memang tak main-main: tulisan mulia dari Bung Wahyu Rizqiawan berjudul Membaca Lebih Mulia Dibanding Menulis yang terbit beberapa hari lalu.

Tulisan itu secara seksama membahas permasalahan di lingkaran literasi, yang dengan kesimpulan amatir, saya persingkat menjadi: persoalan seorang penulis dan aktivitas membaca yang tak kunjung paripurna.

Setelah membaca, saya tak punya pilihan lain selain mengangguk berkali-kali. Bung benar soal realita menulis tanpa membaca. Dan saya pikir di era kiwari, hal macam itu terlalu banyak, dan semakin lama rasanya begitu menyebalkan.

Zen RS, bekas editor at large Tirto.id pernah bilang, penulis yang baik semestinya adalah seorang pembaca yang baik pula. Dan bacaannya sebaiknya lebih banyak ketimbang tulisan yang dia buat.

Sebab terlalu banyak menulis tanpa membaca akan menelurkan proses-proses daur ulang, dan lambat laun hal itu hanya akan menghasilkan onggokan sampah.

Akhir-akhir ini saya menyadari itu. Rasanya malu bukan kepalang ketika naskah yang telah saya ketik diperiksa oleh Bung. Sebab, ia harus repot-repot membaca sampah yang tengah saya hasilkan akibat tidak membaca secara teratur dan signifikan. Oh, maafkan saya, Bung.

Kadang saya berpikir, apakah perasaan seperti ini juga dirasakan oleh penulis lain? Atau jika tidak, bagaimana seseorang tetap bisa percaya diri menulis tanpa bekal memadai dari aktivitas membaca?

**

Dengan membaca, tentu, kita bisa memperoleh banyak hal. Satu di antara yang paling berguna adalah meningkatnya kekayaan ragam rupa imajinasi kita.

Kita tahu, imajinasi adalah bekal berharga untuk memulai suatu tindakan, yang belakangan tampaknya kian memudar. Itu saya kira terjadi karena berkurangnya asupan membaca, dan minimnya kemampuan menganalisa suatu informasi.

Pada laman media sosialnya, jurnalis kawakan yang juga pendiri WatchDoc, Dandhy Dwi Laksono berkali-kali menyebut bahaya besar dari menurunnya imajinasi seseorang (atau dalam konteks ini, pemerintah). Ia mencontohkan salah kebijakan yang terjadi di sektor pariwisata di Mentawai dan tempat-tempat lainnya, oleh sebab imajinasi yang miskin.

Atau, dalam konteks lain, dampak penting imajinasi perlu dipahami lebih luas. Seorang pembaca yang rakus, amat mungkin memiliki modal memadai untuk urusan menentukan sebuah keputusan.

Sebab, di kepala mereka terdapat beragam alternatif dari pelbagai informasi yang telah dikunyah. Sehingga, saat seseorang disodori pilihan Hitam atau Putih, ia tak buru-buru memilih salah satu. Melainkan bisa keduanya, tidak sama sekali, atau bahkan memilih pilihan lain berdasarkan analisa dari kerja-kerja otaknya.

**

Bung, pada titik yang tak disadari, telah membuka jendela literasi yang berharga untuk kita (terutama saya). Lewat uraiannya yang memukau itu, kita memahami bahwa skill menulis saja tidak cukup, dan kemampuan membaca amat penting kedudukannya dan menjadi modal utama dan berguna yang perlu disematkan pada diri-sendiri.

Saya mungkin belum mencapai titik istimewa itu. Membaca bagi saya masih menjadi proses pemulihan jiwa yang perlu saya lakukan terus-menerus. Dan setiap hari, tenaga untuk memulihkan diri tak kunjung juga naik kelas ke tingkatan yang lebih baik.

Mungkin jika Bung tak menulis uraian itu, saya tak kunjung bisa menuntaskan naskah ini. Maka, seandainya naskah ini layak muat, saya ingin menyampaikan terima kasih sebanyak mungkin. Karena tanpanya, saya tak akan bisa berimajinasi sejauh ini.*

Tags: ImajinasiLiterasimembaca buku
Previous Post

Vertical Garden Bojonegoro dan Jin Bandung Bondowoso

Next Post

Padangan - Baureno: Batas Kota dan Peradaban Lama yang Istimewa

BERITA MENARIK LAINNYA

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Alkemis Kebudayaan
JURNAKULTURA

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

29/09/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas

Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas

17/10/2026
Festival Lantung Hadirkan Kesenian Lokal, UMKM Desa Ikut Bergeliat

Festival Lantung Hadirkan Kesenian Lokal, UMKM Desa Ikut Bergeliat

16/10/2026
Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

Kedung Lantung Diresmikan: Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya

16/10/2026
Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

15/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: