Bojonegoro kerap dijuluki sebagai Summer City (Kota Musim Panas). Fakta ini, jadi modal penting untuk membikin laboratorium Pembangkit Listrik Tenaga Sumuk Surya (PLTS).
City of Summer, begitu ucap para pelancong luar saat mengunjungi Bojonegoro. Frasa City of Summer, memang celoteh berbasis fakta empiris. Buktinya, sampai tulisan ini ditulis, Bojonegoro memang terasa sumer alias panas atau sumuk.
Sumuk di Bojonegoro tergolong unik dan khas. Tak peduli musim hujan atau musim panas. Rasa sumuk bisa tiba-tiba datang begitu saja, mirip cinta pada pandangan pertama tanpa aba-aba. Dan dengan cara yang cukup mengagetkan, mirip notifikasi tagihan.
Namun Jurnaba selalu percaya, sumuknya Bojonegoro adalah bagian penting dari inkubasi peradaban. Ini tidak guyon. Tapi beneran. Suasana sumuk, diakui atau tidak, telah membentuk mentalitet masyarakat Bojonegoro menjadi kian matang.
Istilah “matang” di sini, bukan berarti kondisi yang selalu siap dikonsumsi politisi lho ya, bukan itu. Tapi kondisi yang menjadikannya semakin bijaksana. Asal tidak kematengen sampai gosong, sumuk Bojonegoro masih bisa ditolerir sebagai trigger inovasi kok.
Baca Juga: Pembangkit Listrik Tenaga Kesedihan
Pada akhir 2024, tepatnya pada Oktober hingga November, Bojonegoro didaulat secara sahih sebagai kawasan dengan suhu tertinggi. Paling panas di Jawa Timur, bahkan Jawa secara umum — prestasi yang prestisius tentu saja.
Berdasar data Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu maksimum harian di Bojonegoro saat itu capai 37,2 derajat celsius. Pada Agustus 2025 ini, suhu maksimum harian di Bojonegoro capai 33 hingga 34 derajat celcius. Hmmm
Inkubator Penetasan
Sebagai media think-tank Berhaluan Hijau, Jurnaba memaknai sumuknya Bojonegoro sebagai medium pembelajaran. Kami kerap meneliti sumuknya Bojonegoro dalam paradigma medium inkubasi. Ingat penetasan telur? ya, sumuknya Bojonegoro mirip inkubasi penetasan telur ayam.
Inkubator penetasan, umumnya terdapat komponen pengatur suhu yang dapat menunjang telur-telur menetas menjadi anakan yang sehat. Suhu penetasan ideal antara 37 hingga 39 derajat Celsius. Dalam rentang suhu ini, embrio bisa berkembang baik dengan pertumbuhan yang normal.
Suhu terlalu tinggi (di atas 37) dapat menyebabkan penetasan menghasilkan anak ayam lemah atau cacat. Suhu terlalu rendah (di bawah 37) dapat menghambat pertumbuhan embrio menjadi stunting. Nah, suhu ideal yang direkomendasikan adalah 37,5 – 37,8 derajat celcius. Ya, suhu penetasan ideal adalah 37 derajat celcius.
Nabs, ingat nggak, saat Bojonegoro didaulat sebagai wilayah terpanas pada 2024 silam, suhu maksimum hariannya capai 37 derajat celcius lho. Artinya, ini suhu paling ideal untuk penetasan telur. Jadi kita sebagai telur-telur peradaban ini ((ciiee telur peradaban)) sudah berada pada suhu yang tepat untuk menjadi generasi yang kuat.
Itu tadi cuma analogi sederhana sih, Nabs. Jangan dimasukin hati. Intinya, dalam berbagai kondisi dan cuaca, kita harus selalu meng-inkubasi diri — terus melakukan pengembangan diri. Dalam konteks dekonstruksi Jurnaba, segala keadaan harus bisa dibaca dalam berbagai sudut pandang.
Melalui kaidah dekonstruksi, Jurnaba sangat meyakini bahwa luasnya sudut pandang, akan memberi banyak insight penting, sekaligus bakal nge-drive kita menuju sikap nan bijaksana. Termasuk kebijaksanaan dalam membaca potensi sumuk di Bojonegoro.
PLTS City of Summer
Pembacaan Jurnaba pada potensi sumuk di Bojonegoro, sesungguhnya sudah pada tahap inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Sumuk (PLTS), atau yang lebih umum kita sebut sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Suasana sumuk harusnya tetap memberi manfaat bagi masjarakat.
Jika kita berani mengakui Bojonegoro sebagai Kota Minyak — bahkan diam-diam kerap mengglorifikasinya — kita juga harus berani dong menerima dan mengakui secara elegan, bahwa suasana sumuk di Bojonegoro ini memang endemik. Biar fair. Dengan demikian, bermacam inovasi strategis, pastinya bisa dimunculkan.
Dalam konteks Bojonegoro, paling utama adalah inovasi dalam membangun ekosistem listrik dari langit — tenaga bersumber Matahari yang merupakan fasilitas dari Tuhan. Ngomong-ngomong soal fasilitas listrik dari Tuhan, PLN santai dulu ya wqwq ~
Kawan-kawan kami dari Institute for Essential Services Reform (IESR), sejak lama mendorong adanya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berbasis atap rumah, dalam memenuhi kebutuhan energi masa depan. Menurut IESR, sebagai andalan mengejar bauran 23% energi terbarukan di tahun 2025, PLTS atap ditargetkan bisa terpasang mencapai 3,6 Giga Watt (GW).
Pembuatan PLTS atap diatur Peraturan Menteri kok. Permen ESDM No 49 Tahun 2018, mengatur tentang penggunaan sistem PLTS atap oleh konsumen PT PLN. Permen ini memperbolehkan instalasi PLTS atap tersambung jaringan, dengan kapasitas PLTS atap maksimum 100 dari daya terpasang, diukur dari kapasitas inverter.
Nah, artinya, kita boleh dong coba-coba bikin PLTS atap, minimal di tempat nongkrong atau di pos ronda dulu, misalnya. Ini penting untuk menunjukan bahwa bikin PLTS atap itu nggak dosa, namun dilandasi Permen, bahkan diperkuat Dalil Langit. Dan yang terpenting, PLN nggak kehilangan peran kok. Tetap bisa berperan. Hehe
Sebagai kawasan yang secara geografis dan atmosferly sangat mendukung adanya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Bojonegoro harus berani mengawali adanya PLTS. Nggak perlu mewah-mewah, yang penting ada dulu. Diawali dulu. Siapa tahu, nanti jadi PLTS percontohan. Keren kan.
Ekosistem PLTS atap, bisa dimulai dalam skala pribadi atau komunitas. Tidak perlu mewah-mewah. Tidak perlu gagah-gagah. Yang penting lumintu dan barokah. Sejumlah circle Jurnaba juga telah melakukannya dalam skala kecil. Ini dilakukan dalam rangka membangun sebuah ekosistem.
Bojonegoro sebagai sobat mentari (maksudnya kawasan sumuk), harus berani dong jadi kota yang bisa ditauladani terkait pemanfaatan berkah alam berupa suasana panas ini. Alih-alih mengutuk suasana, kita harus memeluk, menerima, untuk kemudian mengambil manfaat yang baik darinya ~








