Berada di lingkungan yang tak jauh dari mata air dan bergelimang air, tentu menjadi berkah bagi masyarakat desa Kemiri Kecamatan Malo untuk tak jauh-jauh dari air, meski lokasinya pelosok.
Jaraknya yang jauh dari perkotaan atau keramaian menjadikan Desa ini sebagai salah satu desa yang masih sering dilabeli sebagai kawasan pelosok.
Untuk berkegiatan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus “Ngos-Ngosan” menyeberang perahu ke Kecamatan Purwosari atau ke Kecamatan Kasiman. Perjalanan air lebih cepat dibanding darat.
Di samping itu, banyak warga yang memilih transportasi air untuk mempercepat aktivitasnya. Menggunakan Perahu melalui bantaran sungai Bengawan Solo, bahkan menjadi keseharian warga Desa Kemiri.
Transportasi air inilah, Nabs, yang sejak dulu sudah ada dan terus digunakan. Dalam prasasti Jawa Kuno, setidaknya sejak abad X masehi, dicatat dalam buku “Early Tenth Century Java From The Inspirastion” karya Antoinette M. Barrett Jones.
Selain itu, dalam Prasasti Canggu yang dikeluarkan Hayam Wuruk menyebutkan, beberapa desa ditetapakan sebagai desa perdikan (Sima). Yakni berkenan untuk pembuatan penyebrangan dikedua sisi sungai Bengawan Solo.
Desa-sesa di pingir Bengawan Solo ditetapkan menjadi Sima sebagai imbalan atas kewajiban untuk menyeberangkan penduduk dan pedangang secara cuma-cuma pada masa itu.
Beberapa diantaranya ada di sekitar Bojonegoro dan Tuban.
Bahkan sampai saat ini masih bisa dijumpai nama-nama tersebut yang kemudian diangkat menjadi nama kecamatan atau desa. Di antaranya, Padangan, Malo dan Kanor.
Nama Malo sendiri merupakan nama yang terekam dalam Prasasti Canggu, merupakan nama toponim pelabuhan di Bengawan Solo dan kini masih melekat menjadi ibukota Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro.
Di Desa Kemiri, selain suasana masih sangat asri, masyarakatnya juga masih sering menggunakan transportasi air. Terutama perahu kecil. Sebab, untuk pergi ke Purwosari atau Kasiman — dua kecamatan terdekat — jauh lebih cepat, bahkan dibanding ke Malo sendiri.








