Dangkop Kontemporer senantiasa hidup sebagai musik akomodatif yang menampung segenap gejolak problematika manusia Indonesia. Codangdut ergo sum!
Bagaimana idiom-idiom dalam musik dangdut membentuk musik modern yang kita kenal dan dengarkan sekarang? Perubahan status musik dangdut dari vernakular ke budaya mapan, serta popularitas dangdut di belantika musik sebagai contoh sempurna untuk membicarakan signifikansi dari musik kelas bawah dalam kebudayaan kita.
Musik terus beranak pinak dan dilanggengkan. Namun, setiap musik memiliki nasib yang beragam. Sebagian darinya ada yang dikenang dan abadi. Namun, juga tak jarang bernasib naas, seperti berhenti pada satu putaran saja, atau berakhir sebagai tumbal promosi gerai makanan cepat saji.
Tapi, dangdut Jawa atau dangdut koplo (dangkop) kontemporer kebal dari ancaman dan tantangan di kancah musik Indonesia. Ketika platform mayor label kian redup, ragam dangdut Jawa tetap bersinar cerah di antara masyarakat akar rumput.
Dangkop Kontemporer menjadi menarik karena menawarkan oase di kala musik arus utama terlalu utopis. Irama dangdut seolah mengajak audiens untuk terlibat, bahwa apa yang mereka dengar adalah apa yang mereka alami sehari-hari. Dengan kata lain, lirik dalam musik dangdut membawa diksi kehidupan masyarakat Indonesia yang senyatanya.
Dangkop Kontemporer senantiasa hidup sebagai musik akomodatif yang mampu menampung segenap gejolak problematika manusia Indonesia.
Apabila tidak memiliki uang, tinggal mendengar lagu Gali Lobang Tutup Lobang, pun bila suka nongkrong hingga malam hari, dapat mendengar Begadang. Jika sedang patah hati tak selayaknya menjadi murung tapi bisa mendengarkan cidro sambil bergoyang.
Senarai tentang bagaimana musik arus bawah membentuk musik mapan akan sangat panjang jika kita coba menulis rentetan peristiwa itu disini. Lagu Dangkop Didi Kempot adalah bukti sederhana. Mengangkat dan menggandrungi yang kalah dari arus utama yang selama ini dianggap terlalu pongah.
Di sana, mereka merayakan musik dan sukacita, ataupun hidup dan juga gagal yang mengikutinya. Apa saja, asal bisa berteriak menyanyikan lagu yang di lantunkan sambil bergoyang dengan yang lainnya.
Analoginya bisa dilihat pada kaum milenial yang mengatasnamakan dirinya “Sobat Ambyar” mengeluh karena kehabisan tiket dan tak dapat melihat konser musik Didi Kempot di Sunan Hotel Solo, pada 19 September 2019.
Maklum, tiket yang disedikan hanya 1800 lembar, sementara yang mengakses dan mencoba membeli secara online lebih dari 76000 akun. Akibatnya, server panitia sempat mengalami gangguan karena derasnya pengunjung.
Tak ada yang bisa memungkiri ini. Gelaran dangdut selalu menyedot massa besar. Bahkan di dekade sebelumnya hingga sekarang dangdut menjadi pilihan partai politik dalam berkampanye. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menarik massa.
Dalam banyak peristiwa politik, massa besar menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kedigdayaan suatu kelompok. Meskipun massa yang datang pada kampanye dengan hiburan dangkop belum tentu memilih partainya.
Begitu populernya dangkop, ia menjadi konsumsi bagi banyak kalangan, lintas kelas, agama maupun etnis. Namun, stigma dangdut sebagai musik murahan tak pernah bisa lepas.
Refleksi dari eksistensi musik vernakular ini adalah omong-kosong. Terkadang saat kita punya privilege bisa mendengarkan musik yang dilabeli sebagai musik mapan kelas atas, kemudian kita akan dengan mudah melakukan aksi dengan menghakimi musik vernakular sebagai seni rendahan, dangkal, atau murahan.
Dan menganggap hanya layak masuk keranjang sampah, sebab dengan kecenderungan preferensi personal, penilaian jelek atau bagus, tinggi atau rendah, adiluhung atau kitsch, pada akhirnya cuma jadi perkara selera. Dan perkara selera adalah sesuatu yang sulit diukur.
Tentu saja penghakiman selera ini omong kosong belaka. Sampai terbukti sebaliknya, penghakiman angkuh kita terhadap musik vernakular adalah sebentuk aksi nonsense seorang snob, dan ini tidak akan membawa kita kemanapun selain debat dangkal.
Setidaknya, musik dangdut mencoba melawan klaim tentang ukuran selara sebuah musik. Penentu klaim itu selama ini seringkali berada dalam kuasa segelintir orang yang dipandang memiliki otoritas dominan untuk menentukan hierarki musik mana yang layak dan tak layak didengar. Dikotomi antara budaya dominan dan vernakular.
Dangdut sebenarnya musik yang identik masyarakat pinggiran. Berawal dari musik kaum gypsy, dangdut adalah sebentuk kesakitan bagi kuping para aristokrat masyarakat perkotaan. Seiring berjalannya waktu, dan imbas dari tren musik yang mengubah pola kebudayaan, musik dangdut malih rupa dari vernakular menjadi budaya mapan.
Sebagaimana yang sering terjadi, gerakan yang awalnya sekadar menjadi sub-kultur alternatif itu justru menjadi bagian dari arus utama itu sendiri, bahkan melampauinya. Akibatnya, muncul ruang gerakan baru, dan pada titik kebuntuan, yang terjadi malah berusaha mendaur ulang masa lalu.
Didi Kempot adalah contoh kasus yang ideal. Lagu-lagu yang selama ini menjadi sangat populer itu justru telah lama ia ciptakan dan nyanyikan, yang awalnya dianggap kuno, ndeso dan kampungan dibandingkan, misalnya, musik pop. Tetapi, lagunya kini bergerak melampaui musik pop itu sendiri.
Peristiwa itu terjadi di kala musik pop, atau musik sejenis lainnya mengalami kebuntuan dari gaya baru, menjemukan alias membosankan. Tidak sedikit hal-hal yang dipandang remeh-temeh di hari ini, kemudian memiliki nilai jual tinggi di kemudian hari.
Perhatikan saja bahasa dalam lagu-lagu mutakhir dalam musik dangdut terutama dangdut bahasa Jawa. Tidak jarang tatanan bahasanya awut-awutan, melabrak kaidah kebakuan berbahasa, dioplos dengan berbagai ragam bahasa, Jawa-Indonesia-Inggris.
Dangdut menjadi menarik karena menentang dominasi selera arus utama yang melulu tentang ukuran yang indah. Menyanyi dengan patokan estetika yang telah terbakukan. Musik menjadi matematis. Standarisasi yang demikian menutup celah bagi munculnya variasi dan gaya lain di luar itu.
Sobat Ambyar, SadBoy, Sadgirl menjadi sekian nama penggemar musik vernakular yang secara aklamatif menggandrungi lagu-lagu bertema patah hati ala Didi Kempot. Munculnya istilah di atas seolah serupa tangan yang menarik tubuh dari pengapnya rasa kesendirian dan kesepian galau karena cinta. Mereka berani, dengan lantang mengakui bahwa dirinya disakiti, dikhianati dan diduakan.
Bahasa kaum milenial memang tak memerlukan dalih-dalih yang ribet dan ruwet. Eksistensi diri tidak lagi ditentukan dari keberhasilan dan kesuksesan, tapi juga kegagalan dan kegamangan hidup. Sobat Ambyar adalah contoh ideal tentang hal itu.
Bagi kaum milenial, mengategorikan diri sebagai Sobat Ambyar atas lagu-lagu Didi Kempot, serupa berbangga di atas kepiluan. Idiom Sobat Ambyar lahir dari kejenuhan atas ketidakmampuan generasi lampau mendefinisikan dirinya saat dilanda kegalauan yang puncak.
Meski disebut sebagai musik arus pinggir, ragam dangdut Jawa terbukti jadi the most popular music in Indonesia. Semua gejolak yang lekat berbau melankolia itu ditampung dalam sebuah wadah musik dengan tujuan utama: bahwa kesedihan perlu juga dirayakan dengan bergoyang bersama-sama. Codangdut ergo sum!








