Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Dzawin Nur dan Bagaimana Ia Menyembunyikan Kesedihan

Septiani Favika Putri by Septiani Favika Putri
26/12/2019
in JURNAKULTURA
Dzawin Nur dan Bagaimana Ia Menyembunyikan Kesedihan

Dari Dzawin Nur, saya tahu bahwa luka paling sulit disembuhkan dan paling tak bertanggung jawab bagi seorang anak, adalah perceraian kedua orang tua.

Dzawin Nur Ikram atau akrab dipanggil Dzawin Nur. Namanya mulai dikenal banyak orang, pasca mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia season 4 (SUCI 4) pada 2014, dan berhasil meraih juara 3.

Tidak sampai di situ saja, setelah berhasil meraih juara 3 di SUCI 4, Dzawin mengikuti kompetisi Maha Raja Lawak, sebuah kompetisi paling besar yang ada di Malaysia, dan ia juga berhasil meraih juara 3.

Pemuda lulusan pesantren ini, waktu di pondok, sering mengeluh karena dia hanya makan nasi dengan krupuk dan sambal, ya seperti itulah kehidupan di pesantren. Sementara dia mengira, di rumah ibunya sedang makan dengan lauk yang enak.

Setiap ibunya mengunjunginya ke pesantren, yang dibawa oleh ibunya pasti hanya nasi, kerupuk dan sambal, yang dimasukkan plastik tentengan warna hitam. Dzawin selalu membatin “itu mah sama saja dengan lauk di pesantren”.

Sampai terkadang bukan merasa senang karena ibunya datang, justru Dzawin merasa malu dengan teman-temannya. Karena biasanya teman-temannya dijenguk menggunakan mobil sedangkan ibunya hanya naik ojek.

Sampai akhirnya, setelah lulus, Dzawin baru menyadari, semenjak bercerai dengan bapaknya, ibunya tidak pernah beli baju dan lain-lain, bahkan ibunya hanya makan nasi yang dicampur air putih dan garam karena uangnya habis untuk menyekolahkannya.

Dzawin yang kuliah di UIN Jakarta Ciputat, dari semester satu harus susah payah bekerja, karena uang kiriman yang pas-pasan.

Dengan kehidupan yang seperti itu, sehari-hari ia selalu mengutuk bapaknya, saat ia lulus dari pesantren, bapaknya terkena stroke dan Dzawin masih benci dan tidak mau merawat.

Ada yang bilang padanya: Win, berbakti sama orang tua, dari pada nyesel, mumpung masih hidup. Namun Dzawin menganggap itu pesan klise. Hingga suatu hari ada yang menelponnya: Win, pulang. Bapak jatuh dari kamar mandi, sekarang lagi di ICU.

Padahal, siang itu, Dzawin harus tampil di salah satu stasiun televisi, dan tidak bisa langsung pulang, karena malamnya harus tampil lagi. Meski keadaan bapaknya lagi di dalam ICU, Dzawin harus tetap profesional.

“Karena penonton tidak mau tahu, sesedih apapun kita, yang mereka inginkan hanyalah lucu dan bisa menghibur” kata Dzawin di salah satu chanel YouTube.

Setelah sempat menjenguk bapaknya di ICU dengan tubuh penuh lilitan kabel, dua hari setelah itu, Dzawin dapat kontrak di Makasar. Dan ketika pulang dari Makasar, bapaknya sudah wafat. Nahasnya, dua hari kemudian, Dzawin dapat kontrak stand up lagi, dan harus membuat orang tertawa, sementara ia sedang berduka.

Dzawin sempat ingin berhenti menjadi stand up comedian. Karena merasa hina. Sebab dia harus membuat orang tertawa, sementara ia sedang menangis. Namun, niat tersebut ia urungkan. Karena menyadari harus ngapain lagi selain stand up, ia khawatir tidak bisa makan dan justru malah menyusul bapaknya ~

Alasan dia tetap bertahan adalah ibunya. Karena ia ingin mengajak ibunya berangkat umroh. Dzawin ingin menemani ibunya. Dzawin ingin membahagiakan ibunya. Dari Dzawin, saya belajar banyak.

Saya belajar bahwa luka paling sulit disembuhkan dan paling tak bertanggung jawab bagi seorang anak adalah perceraian orang tua. Dengan keadaan tak tahu menahu, si anak harus menjadi korban dan menanggung banyak beban.

Tags: Dzawin NurStand Up Comedy IndonesiaSUCI
Previous Post

Indie, Edgy dan Betapa Tricky-nya menjadi Berbeda

Next Post

Resolusi 2020 dan Energi yang Terus Bergerak

BERITA MENARIK LAINNYA

Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah
JURNAKULTURA

Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah

23/07/2026
Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

PC PMII Bojonegoro Dorong Integrasi Sistem Air Kabupaten

PC PMII Bojonegoro Dorong Integrasi Sistem Air Kabupaten

30/07/2026
Alas Institute dan Mahasiswa Bojonegoro Satukan Langkah Wujudkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Alas Institute dan Mahasiswa Bojonegoro Satukan Langkah Wujudkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

29/07/2026
Warga Leran dan Sukoharjo Gotong Royong Bangun Jalan, Perkuat Akses Ekonomi Kalitidu

Warga Leran dan Sukoharjo Gotong Royong Bangun Jalan, Perkuat Akses Ekonomi Kalitidu

29/07/2026
Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu

Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu

29/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: