Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Gunung Jali: Mercusuar Sidi Jamaluddin Kubro di Blora dan Bojonegoro

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
30/01/2024
in Cecurhatan
Gunung Jali: Mercusuar Sidi Jamaluddin Kubro di Blora dan Bojonegoro

Mercusuar Cahaya: Gunung Jali Tegiri, Padangan.

Melalui Gunung Jali, Sidi Jamaluddin (Mbah Jumadil Kubro) membangun pondasi dan ekosistem yang kuat bagi kehadiran Islam di zaman-zaman berikutnya. 

Saat Gus Dur menyebut wilayah Cepu Bojonegoro (Jipang Padangan) sebagai prototype toleransi dan kebebasan beragama di Nusantara, tentu itu bukan omong kosong belaka. Tapi terdapat hikmah pelajaran yang terkonfirmasi berbagai data dari masa silam.

“Syahdan, terdapat ular raksasa yang kepalanya berada di Gresik dan ekornya di Solo. Tepat di bawah lehernya, organ vital paru dan jantung berada. Jika terjadi permasalahan di bagian vital, akan memicu bencana akibat kepala dan ekornya bergerak. Seorang Wali kemudian datang menancapkan tongkat ‘Baldatun Thoyyibatun’ di bagian paru dan jantung ular raksasa itu, agar kepala dan ekornya tak memicu gerak bencana.”

Mitologi bencana di atas, jadi legenda kolektif masyarakat di bantaran Bengawan, terutama di bantaran Jipang (Blora – Bojonegoro). Jika Bengawan di-analogikan sebagai ular raksasa, posisi Jipang Padangan memang tepat di bagian paru dan jantungnya. Bukan hulu. Bukan tengah. Tapi hilir bagian luar (bawah leher) tepat.

Mercusuar Dakwah

Gunung Jali merupakan nama kuno dari Tegiri Tebon (bagian dari lokasi yang disinggung Gus Dur). Jali bermakna jagung. Tebon berarti jagung. Gunung Jali berarti tempat tinggi yang dipenuhi tanaman jagung. Sebuah tempat yang kelak dikenal dengan Bukit Tegiri Tebon. Di hampir banyak dongeng tentang Syekh Jumadil Kubro, Gunung Jali adalah satu-satunya lokasi dakwah yang berbasis literatur ilmiah.

 

Gunung Jali, disebut sebagai lokasi dakwah Mbah Jumadil Kubro, History of Java (hal:127).

Nama Gunung Jali muncul dalam History of Java, sebagai lokasi dakwah Mbah Jumadil Kubro. Diceritakan, di tempat itulah Sunan Ampel ber-tabaruk pada sang kakek. Lalu muncul pertanyaan, benarkah Sunan Ampel menangi masa hidup Mbah Jumadil Kubro? Ini hanya soal paradigma saja. Seperti kita saat ini, tabaruk (sowan) tak harus ketemu fisik. Terlebih bagi Amirul Aulia, itu sangat mungkin.

Terlepas dari itu, terdapat hikmah penting terkait kehadiran Mbah Jumadil Kubro di kawasan tersebut (Bukit Tebon dan sekitarnya). Hikmah ini berhubungan langsung dengan apa yang disebut Gus Dur sebagai prototype toleransi dan Kebebasan Beragama di Nusantara.

Baca Juga: Mesigit Tebon, Peradaban Islam Sebelum Wali Songo di Bojonegoro 

Bukit Tebon merupakan anjungan di atas aliran sungai Bengawan Solo. Lokasinya berada di tengah antara wilayah Maribong dan wilayah Jipang. Sebelum Mbah Jumadil Kubro datang ke lokasi tersebut, Maribong dan Jipang sudah dikenal sebagai lokasi peribadatan keyakinan lama. Di sana, ajaran “tauhid” sudah berjalan kuat.

Imperium Sungai 

Prasasti Maribong (1248 M / 1264 M) yang dikeluarkan Raja Wisnuwardhana (Kerajaan Singashari), menulis: wilayah Maribong yang semula bagian dari Jipang, jadi tanah perdikan dan pusat peribadatan. Ini bukti Jipang dan Maribong merupakan wilayah kuno yang ada sejak era Kerajaan Kahuripan hingga Medang Kamulan.

Prasasti Maribong (1264 M).

Prasasti Maribong menyatakan bahwa pada 1264 M, Raja Wisnuwardhana menganugerahi wilayah Maribong sebagai tanah perdikan (bebas pajak). Kawasan ini menjadi perdikan karena dianggap tanah istimewa dan dijadikan sebagai pusat peribadatan masyarakat Hindu.

Prasasti itu menyebut secara jelas bahwa wilayah Maribong dan sekitarnya, termasuk Tegiri Tebon (Bojonegoro); kemudian wilayah Jipang dan sekitarnya, termasuk Ngloram (Blora); adalah satu kesatuan imperium maha besar yang pernah disatukan Raja Wisnuwardhana.

Kemudian disusul Prasasti Canggu (1358 M) yang dikeluarkan Raja Hayam Wuruk (Kerajaan Majapahit), menyebut nama-nama pelabuhan sungai pusat ekonomi di wilayah bantaran sungai Bengawan Solo. Di antara titik lokasinya tepat di wilayah bantaran sungai Jipang-Maribong.

Artinya, wilayah ini sangat penting dan krusial. Ia memiliki peran penting sejak Singashari dan Majapahit. Ia tak hanya diperhatikan pusat kekuasaan sebagai “keramat peribadatan”. Tapi juga dijaga para abdi negara sebagai gerbang ekonomi dan “kejayaan istana”.

Maribong dalam prasasti itu, kini masuk bantaran sungai Dusun Merbong Ngraho (Bojonegoro), menghadap bantaran sungai Desa Loram hingga Desa Jipang (Blora). Maka bukan kebetulan ketika Gunung Jali (Bukit Tebon) terletak di antara empat titik itu. Sebuah tempat yang kelak dipilih Mbah Jumadil Kubro untuk menancapkan tongkat dakwah.

Menumbali Jipang Padangan

Sidi Jamaluddin datang ke wilayah Jipang Padangan di era pemerintahan Ratu Tribuwana Tunggadewi (Majapahit). Dan bertempat di sebuah lokasi yang dikenal dengan Gunung Jali (Bukit Tebon). Thomas Raffles dalam History Of Java menyebut posisi Mbah Jumadil Kubro dengan istilah: “established himself on Gunung Jali”.

Sidi Jamaluddin alias Syekh Jumadil Kubro datang ke Jipang Padangan pada masa keemasan Majapahit. Artinya, lokasi Gunung Jali masih jadi pusat peribadatan dan punjer perekonomian. Sehingga dakwahnya pun tak mudah. Mengingat, di era kejayaan Majapahit, ada dua golongan besar yang berkuasa: Kaum Siwaisme dan Kaum Brahmanisme (Hindu).

 

Yoni peninggalan Kaum Siwaisme yang ada di Desa Tebon Padangan

Gunung Jali dipenuhi para Hajaran Rata (petugas agama) Majapahit. Di antara mereka dikenal dengan Mpu Kasaiwan (Pemimpin Siwaisme) dan Mpu Kasogatan (Pemimpin Brahmanisme). Selain memiliki pengaruh besar di wilayah yang mereka jaga, kedua tokoh ini juga dikenal punya kemampuan adikodrati.

Di Gunung Jali, Mbah Jumadil Kubro berhadapan secara langsung dengan dua entitas berkekuatan besar itu. Tentu tak mudah memasukan syariat baru pada tokoh-tokoh penting yang sudah memiliki keyakinan kuat pada ajaran lama. Namun, kehadiran beliau di pusat ekonomi dan pusat peribadatan, tentu sebuah metode dan strategi khusus.

Di tempat dan momen inilah, Sidi Jamaluddin mengajarkan pelajaran sangat penting dan berharga yang, oleh Gus Dur, disebut dengan toleransi dan kebebasan beragama. Beliau tak “berperang” dengan dua entitas besar tersebut. Tapi melengkapi dan menyempurnakannya.

Menurut Gus Dur, di wilayah itu, beliau hidup berkebun dan bertani. Ia menanggalkan identitas asal (Arab) untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat. Bahkan kelak, Mbah Jumadil Kubro juga membuka pemukiman muslim di tengah mayoritas umat Hindu (Siwaisme dan Brahmanisme).

Ruang Inkubasi Sufistik

Totok Supriyanto, ahli semiotika dan peneliti dari Bumi Budaya menyebut, Sidi Jamaluddin datang ke Gunung Jali (Bukit Tebon) punya maksud khusus. Ia datang di pusat peribadatan dan punjer perekonomian. Jika hanya bersyiar individual, tentu akan memilih lokasi yang berada di tepi kekuasaan.

Kedatangan Sidi Jamaluddin di Gunung Jali (Bukit Tebon) untuk membangun pondasi (menumbali) ekosistem. Sehingga yang didatangi adalah pusatnya. Ini ditujukan untuk “mbukak dalan”  pondasi komunal bagi persebaran islam di era berikutnya.

Menurut Totok, Gunung Jali (Bukit Tebon) yang kala itu dipenuhi para penganut Hindu, juga jadi ruang inkubasi sufisme islam. Semacam ruang penyesuaian metode dakwah. Ini alasan beliau tak menjauhi ajaran lama, tapi melengkapi dan menyempurnakan ajaran lama tersebut agar sesuai syariat.

Kaum Siwaism yang cenderung suka syukuran (pesta), dan Kaum Brahmanisme yang suka berderma (tumpengan), kelak dilengkapi unsur doa-doa oleh Sidi Jamaluddin. Ini alasan utama saat upacara pernikahan atau hajatan, pasti ada unsur pesta, tumpeng, dan doa-doa.

Secara semiotis, unsur api dari Siwaisme dan unsur air dari Brahmanisme, tak dihilangkan begitu saja. Beliau justru melengkapi kedua unsur itu dengan kesejukan. Secara tidak langsung, Mbah Kubro mengganti istilah “Wisnu” sebagai pembawa kesejukan, dengan istilah “Rahmat” saking Pengeran.

Semiotika “Rahmat” ini kelak digambarkan History of Java sebagai kedatangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) ke Gunung Jali (Bukit Tebon) untuk sowan Sidi Jamaluddin dengan sebuah keterangan: “His arrival at that particular periode had been predicted by The Prophet (SAW)”. 

Metode islam sufistik yang dicontohkan Sidi Jamaluddin ini, kelak jadi standar dan pakem bagi para Wali dalam menyebarkan islam di Kesultanan-kesultanan yang ada di wilayah Nusantara. Termasuk tokoh-tokoh yang tergabung dalam Majelis Wali Songo.

Mitologi Ular Raksasa

Kedatangan Sidi Jamaluddin membawa visi Rahmat. Bahwa islam datang bukan membawa perang, tapi harus membawa kemajuan ilmu dan perekonomian. Ini alasan beliau memilih Gunung Jali sebagai titik tolak dakwah. Mengingat, kawasan itu jadi pusat ekonomi di Jipang Padangan.

Mitologi bencana dan ular raksasa yang masyhur di wilayah bantaran, juga lebih ke arah perlindungan dan kemajuan ekonomi. Sebab, wilayah Jipang kala itu sudah jadi pusat perputaran ekonomi. Ini alasan tiap kerajaan memberi perhatian khusus pada wilayah tersebut. Khususnya dalam sumber daya alam (jati maupun minyak bumi).

Kala itu, Pelabuhan Jipang menjadi pelopor kemajuan ekonomi berbasis arus bengawan. Ini terbukti dari banyaknya kayu jati (sebagai bahan perahu) dan minyak mentah yang sudah ramai dikirim ke Pelabuhan Lasem. Karena itu, bangkit-mundurnya kejayaan Jipang Padangan memberi dampak besar bagi hulu (Solo) dan hilir (Gresik).

Pelabuhan Jipang Padangan adalah representasi syair Keramat Giri yang berbunyi: Etan kali kulon kali, tengah tengah tanduran pari. Kanan-kiri sungai Bengawan Solo sebagai pusat peradaban. Sementara di tengah sungainya jadi lokasi utama transportasi perekonomian.

Sidi Jamaluddin datang ke pusat Jipang Padangan dan bertempat di Gunung Jali (Bukit Tebon) untuk menancapkan tongkat Baldatun Thoyyibatun. Ini ditujukan agar proses persebaran islam secara komunal terus berjalan. Sementara putaran ekonomi juga bergerak tanpa gangguan.

Lebih dari itu, apa yang dilakukan Sidi Jamaluddin di Gunung Jali (Bukit Tebon) adalah proses membuka lahan (Kebon Agung) bagi para penyebar islam di era berikutnya. Sebab, jika “pusatnya” sudah bisa dikuasai, akan lebih mudah bagi para penerus (Turi-turi Putih) berikutnya untuk memperlebar lahan lebih luas.

Ini jadi alasan utama, kenapa kelak banyak penyebar islam yang berada di wilayah Jipang Padangan. Sebab, tanahnya sudah ditancapi (ditumbali) tongkat Baldatun Thoyyibatun oleh Mbah Jumadil Kubro. Sehingga proses penyebaran “Turi-turi Putih” bisa membentuk “Kebon Agung” yang mampu bergerak lintas zaman.

 

Wallahu A’lam Bishowab 

Tags: Bukit TebonGunung JaliJipang PadanganMakin Tahu IndonesiaMbah Jumadil KubroNagari Jipang
Previous Post

500 Days of Summer dan Memahami Bahaya Laten Breadcrumbing

Next Post

Purnama di Kalimati (2)

BERITA MENARIK LAINNYA

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: