Gunung Pandan Bojonegoro sudah sepantasnya menjadi pusat konservasi ekologi dan tlatah edukasi kebudayaan berbasis literatur. Ekspedisi Pugawat Pandan berupaya memulainya.
Bojonegoro diapit dua berkah alam berupa Pugawat Pandan dan Naditira Bengawan. Secara natural, masyarakat Bojonegoro adalah pengendali gunung dan bengawan. Dan itu dimulai sejak era sebelum zaman Medang. Artinya, spirit ekologi masyarakat Bojonegoro sudah mendarah-daging sejak ribuan tahun silam.
Untuk mengetahui seberapa tua peradaban Pandan, kita bisa melihat banyaknya Lingga Patok yang berada di sejumlah sisi Gunung Pandan. Lingga Patok merupakan identitas utama masyarakat pra sejarah — mereka yang hidup sebelum sebelum abad 5 M, era pra- Hindu Budha.
Lingga Patok menjadi bukti penting keberadaan peradaban kuno di kawasan Pandan. Satu di antara gugusan Lingga Patok itu, berada di Desa Kedaton, Klino, Sekar. Di sesela perbukitan yang berada di Desa Kedaton, masih ditemukan sejumlah Lingga Patok yang menjadi bukti awal keberadaan manusia.

Baca Juga: Bojonegoro Nadikerta, Denyut Nadi Nusantara
Pada abad 10 M, Bojonegoro (Jipang) sisi utara, khususnya lintasan Bengawan berpagar bukit Kendeng, menjadi wilayah yang dimuliakan Raja Dyah Baletung (898-910), sang penguasa Medang. Di sana, sang raja memuliakan sebuah tempat bernama Sotasrungga.
Seperti diceritakan Prasasti Telang dan Sangsang, Raja Dyah Baletung berupaya membangun keseimbangan ekologis di antara sungai dan pegunungan, melalui berbagai intervensi berbasis kemasyarakatan. Maka bukan kebetulan, kemajuan di wilayah Bengawan berbanding lurus kemajuan di kawasan Pegunungan.
Gunung Pandan merupakan gunung purba yang menjadi puncak tertinggi barisan Pegunungan Kendeng. Jika pada zaman Dyah Baletung (898-910) saja kawasan ini sudah cukup diperhitungkan, tak heran jika di zaman-zaman setelahnya (termasuk Pu Sindok dan Airlangga), kian menjadi latar utama dalam bermacam babak dinamika zaman.
Terbukti, gunung yang juga dikenal dengan nama Pugawat ini, disinggung dalam sejumlah prasasti. Termasuk Pucangan (1041), dan ynag lebih belakangan, Prasasti Sekar dan Prasasti Pamintihan. Dalam Prasasti Pucangan Sanskerta (1041 M), menyebut lokasi ini pernah menjadi pusat pendhermaan suci yang dibangun Raja Erlangga di awal pendirian Medang Kahuripan (1019 M).

Fakta ini dibuktikan adanya patung Brahma raksasa setinggi 14 m, yang dikenal Kiai Derpo. Sayangnya, patung Brahma diduga tertinggi di Pulau Jawa ini, dihilangkan oknum. Selain itu, banyaknya prasasti zaman Pu Sindok (929 – 947 M) ditemukan di lereng Gunung Pandan, juga jadi fakta pendukung. Mengingat, Pu Sindok adalah leluhur dari Raja Erlangga.
Pu Sindok memiliki nama lengkap Dyah Sindok Sri Isanawikrama. Ia pendiri Wangsa Isana. Keberadaan simbol-simbol Wangsa Isana di sekitar lereng Gunung Pandan, tak hanya menunjukan besarnya pengaruh Pu Sindok dan Raja Erlangga. Lebih dari itu, menggambarkan kuatnya semangat ekologi. Sebab, “Isana” berarti kekuatan alam (ekologi).

Raja Erlangga yang merupakan bagian dari Wangsa Isana, terkenal sangat menguasai pengendalian alam. Ia dikenal figur pembangun ekosistem dan pengelola sumber daya. Raja Erlangga, bahkan masyhur pemimpin besar yang memiliki kebiasaan membangun bendungan air.
Ada banyak prasasti zaman Pu Sindok (Medang) di Bojonegoro. Hal itu dilengkapi literatur tentang Raja Erlangga (Medang Kahuripan). Artinya, pengaruh Wangsa Isana begitu kuat di Bojonegoro. Masyarakat Bojonegoro sepatutnya berkarakter Wangsa Isana, cenderung mampu mengendalikan dan mengelola Sumber Daya Alam.
Spirit Wangsa Isana
Secara geografis, Bojonegoro wilayah yang sangat istimewa. Lokasinya dibingkai dua entitas alam yang sangat kuat: Pugawat Pandan dan Naditira Bengawan. Daratan Bojonegoro diapit energi mineral Pugawat dan energi air Naditira. Sementara peradabannya, tumbuh di antara sumber mineral dan sumber air. Ini alasan utama ia menjadi titik “Banyu Urip”.
Kebesaran Pugawat Pandan dicatat dalam bait 31 sampai 33 Prasasti Pucangan Sanskerta (1041 M). Bahwa pendhermaan suci Pugawat, dibangun Erlangga pasca ia melewati pralaya di Lwaram (Jipang). Sementara kejayaan Naditira Bengawan dicatat dalam Prasasti Canggu (1358 M). Bahwa 17 titik pelabuhan sungai telah dibangun Hayam Wuruk di Bojonegoro. Lokasinya membentang dari Baureno sampai Margomulyo.
Ada cukup banyak anak sungai yang menjadi penyambung antara Pugawat Pandan dan Naditira Bengawan. Jumlahnya sekitar 8 anak sungai berhulu di Gunung Pandan, bermuara di Sungai Bengawan. Mereka menyambung Pugawat dan Naditira. Anak sungai ini mirip 8 lengan gurita yang menggambarkan 8 penjuru arah mata angin (Nawadewata).
Penemuan sejumlah prasasti era Pu Sindok, termasuk patung Siwa beserta Lapik Padmanya, juga tak jauh dari lokasi anak sungai. Ini jadi indikasi kuat bahwa sejak era Pu Sindok hingga Raja Erlangga, anak sungai punya peran besar sebagai distributor kesejahteraan antara Pugawat Pandan dan Naditira Bengawan.
Bukti-bukti literatur di atas menunjukan bahwa sejak Pu Sindok memindah Medang Jawa Tengah menuju Jawa Timur (929 M), disusul Raja Erlangga membangun pendhermaan Pugawat Pandan (1019 M), hingga Raja Hayam Wuruk membangun Naditira Pradeca (1358 M), Bojonegoro dihuni Wangsa Isana — masyarakat berperadaban tinggi yang tak hanya mampu menulis prasasti, tapi juga ahli melakukan pemetaan dan mitigasi.
Mengembalikan Pugawat Pandan
Seperti halnya Sungai Bengawan, Kawasan Gunung Pandan merupakan aset Bojonegoro yang nasibnya tak terurus sama sekali. Padahal, Gunung Pandan punya nilai historis, value keindahan, dan fungsi produktivitas bagi masyarakat Bojonegoro secara umum.

Savana maha luas dipenuhi banyak anak gunung dan sumber mata air, harusnya menjadikan ekosistem Gunung Pandan sebagai pusat edukasi dan wisata ekologi di Bojonegoro. Ia spesial. Ada banyak objek riset dan penelitian yang bisa dikembangkan di kawasan Gunung Pandan. Minimal, kegiatan konservasi ekologi.
Gunung Pandan dikelilingi banyak anak gunung dan sumber mata air. Di antaranya; Gunung Lawang, Gunung Kendil, Gunung Baung, Gunung Gudeg, Gunung Godek, Gunung Gemblung. Selain itu juga Sendang Nanas, Sendang Banyu Urip, Sendang Banyu Wedang, Sendang Sela Gajah, Sendang Plantiran, dan masih ada yang lainnya.

Kebesaran dan kejayaan Gunung Pandan Bojonegoro terdeteksi sejak masa Raja Erlangga (1019 M). Di mana, masyarakat dari “8 penjuru mata angin” berdatangan ke Gunung Pandan dengan penuh rasa takjub. Data ini bisa kita baca pada bait ke-33 Prasasti Pucangan bagian Sanskerta.
Tugas kita saat ini, adalah membawa esensi kejayaan masa lalu Gunung Pandan itu, pada konteks masa kini, untuk mempersiapkan kejayaan masa depan. Sebuah kejayaan yang memberi manfaat positif bagi masyarakat Bojonegoro yang hidup hari ini dan hari kemudian.
Gunung Pandan Bojonegoro sudah sepantasnya menjadi pusat konservasi ekologi dan tlatah edukasi kebudayaan berbasis literatur. Ia simbol kejayaan Bojonegoro pada abad 11 M. Ekspedisi Pugawat Pandan yang akan dilaksanakan Institut Bumi Budaya, adalah upaya kecil untuk memulainya.








