Nama Haditha cukup populer di dunia fiksi horor Indonesia. Konsistensinya di ranah fiksi klenik, membuat nama pria asal Bojonegoro itu kerap diperbincangkan di forum-forum diskusi hingga jaringan katalogisasi buku, Goodreads.
Jika ada pertanyaan siapa penulis Bojonegoro generasi milenial yang cukup dikenal, nama Haditha mungkin bisa disodorkan. Celakanya, meski Haditha banyak dikenal di kalangan segmen fiksi horor Indonesia, tak banyak yang tahu jika dia tumbuh besar di Padangan, Bojonegoro.
Hingga 2019 ini, Haditha telah menulis setidaknya 8 novel horor, 3 novel fantasi, dan 1 Kumcer. Nama Haditha kian mendominasi keyword “fiksi klenik” pasca 3 novel horornya diterbitkan penerbit mayor (Elex Media dan Bukune).
Meski mengaku tak banyak yang tahu dia berasal dari Bojonegoro, pria yang kini bermukim di Tangerang itu mengatakan, kerap memasukkan unsur Bojonegoro di hampir tiap karyanya. Meski, tentu saja, tampak samar. Sesamar klenik itu sendiri.
Tengok saja novel berjudul Karung Nyawa. Novel yang cukup populer di kalangan penikmat fiksi klenik tersebut, hampir 100 persen bertemakan Bojonegoro. Baik dari nama tempat, nama tokoh, hingga bahasa yang digunakan.

Bahkan, Karung Nyawa merupakan modifikasi tentang cerita rakyat Ketok Gulu (Toklu) — urban legend bernafas horor yang sangat populer bagi masyarakat Bojonegoro bagian barat. Utamanya Kecamatan Padangan dan Purwosari.
Toklu merupakan legenda mistis berwujud pemulung yang mencari kepala anak-anak. Di kawasan Padangan maupun Purwosari Bojonegoro, dulu, jika ada anak kecil yang nakal, pasti orang tuanya akan bilang: “awas lho, ngko digoleki Toklu.”
Kisah legenda itulah yang dimodifikasi Haditha menjadi novel berjudul Karung Nyawa. Selain kerap menyebut tempat-tempat di Bojonegoro, Haditha juga memasukkan nama-nama tokoh yang cukup lucu dalam novel itu.
Sebut saja Johan Oman, Zan Zabil Tom Tomi, Janet Massayu dan Tarom Gawat. Saat saya cecar dengan pertanyaan siapa mereka? sambil tertawa, Haditha menjawab jika nama-nama itu adalah modifikasi dari nama teman-temannya sendiri.
Unsur Bojonegoro dalam Karung Nyawa cukup tebal. Tak hanya memperkenalkan tempat. Tapi juga dialog khas. Bahkan, penomoran bab pun, menggunakan angka siji, loro, telu, papat dan seterusnya.
Secara tak langsung, buku ini membranding Kota Bojonegoro. Sebab, dibaca banyak masyarakat secara nasional. Karena terjual di jaringan toko buku besar dari Jakarta hingga Balikpapan. Karung Nyawa, bahkan, menjadi koleksi di Perpustakaan Umum Surabaya.
Kepada Jurnaba.co, penulis bernama lengkap Haditha Mohamad itu membocorkan semua kisah tentang perjalanannya meniti karir sebagai penulis di ranah fiksi klenik dan apa alasan di balik pemilihan lokasi Bojonegoro yang ada di tiap karyanya.
“Saat hampir selesai menulis Karung Nyawa, saya sudah merencanakan novel-novel yang akan saling terkait,” ucap Haditha.
Awal mula punya ide membikin novel Karung Nyawa, dia kepikiran legenda Toklu. Haditha masih ingat betul. Teror rumor tentang Toklu sempat membuatnya takut keluar rumah siang-siang. Dia penasaran, adakah selain dia yang ingat Toklu? Terutama masyarakat Padangan, Purwosari dan sekitarnya. Haditha sudah mencoba browsing, tapi tak ketemu.
“Mungkin memang sudah tugas saya untuk memunculkan Toklu ke khalayak lebih luas. Yaitu melalui novel,” kata dia.
Dalam penyusunan plot cerita, dia mengaku menemui kejutan-kejutan. Dia tidak begitu langsung menyusun plotnya hingga selesai. Dia menikmati prosesnya. Menyusun kepingan-kepingan yang bisa saling terkait, sehingga muncul gambaran besar.
Dia memutuskan salah satu kepingan penyusunnya adalah tema pesugihan. Sebab, ada salah satu rumor tentang Toklu yang berkaitan dengan pesugihan. Terkait hal itu, dia konfirmasikan langsung ke teman SD-nya bernama Jabil, anak Purwosari. Sebuah nama yang akhirnya dia masukkan sebagai tokoh dalam novel.
Tak hanya itu, dia juga memasukkan contoh pesugihan-pesugihan lain yang bisa berkelindan cocok dengan karakter-karakter yang diduga menjadi dalang pembunuhan.
Dari semua judul yang sudah Haditha tulis selama ini, Karung Nyawa adalah judul yang prosesnya paling asyik. Dia mengaku sayang pada novel ini. Di novel tersebut, dia benar-benar menemukan ciri khas. Horor komedi tapi serius.
Alasan menulis dengan setting tempat Bojonegoro
Haditha sering memasukkan Bojonegoro ke dalam karyanya bukan tanpa alasan. Selain ingin bernostalgia, dia sadar jika tempat tinggalnya di Bojonegoro, punya banyak misteri. Dan sialnya, belum pernah ada yang mengangkatnya. Dia pun terpanggil untuk menuliskan.
Dia tak menarget apa-apa dari pemilihan setting tempat di Bojonegoro. Dia hanya ingin agar Bojonegoro masuk dalam novel. Sebab, dia mengakui jika masih jarang yang memakai Bojonegoro sebagai setting cerita novel. Terlebih, dia berasal dari Bojonegoro.
“Jadi, ketika membuat deskripsi setting, saya bisa benar-benar membayangkannya secara akurat dan itu bisa membuat pembaca ikut merasakan betapa nyatanya setting lokasi cerita,” tuturnya.
Haditha sudah punya passion menulis sejak SMP. Tapi, waktu itu, masih setengah-setengah. Kala itu, bacaan dia baru Harry Potter dan Lord of The Ring. Itupun, katanya, gak kelar-kelar mbacanya.
Tahu-tahu, dia ada ide menulis. Sebetulnya, idenya plagiat. Cerita sekolah sihir ala-ala Harry Potter. Karena belum punya komputer, dia pun menggunakan mesin ketik orang tuanya untuk menulis cerita pertamanya.
“Saya menulis tiga halaman sinopsis ide pertama saya menggunakan mesin tik. Tapi sampai bertahun kemudian ide itu tidak kunjung jadi naskah utuh.”
Haditha sempat memamerkan bakal naskah itu pada gurunya kala bersekolah SMK. Waktu itu, guru yang dia pameri berkata, “Kamu cocok jadi penulis. Lanjutkan.” Hingga bertahun kemudian, dia masih belum kunjung jadi penulis.
Haditha mulai benar-benar menulis pada 2010. Waktu itu, dia sedang menjalani pelatihan akademik di suatu pabrik ban di Bekasi. Dia merasa bosan bukan main ketika di suatu materi, instrukturnya meninggalkan ruangan begitu saja dan membiarkan peserta belajar sendiri.
Akhirnya, demi membunuh rasa bosan itu, dia iseng menulis sebaris dua baris lalu berkembang jadi paragraf dan tahu-tahu dapat satu bab. Hanya dalam beberapa jam saja.
“Entah kena sihir apa saya waktu itu. Saya tidak sangka, kepenginan menulis terwujud di saat itu.” Katanya.
Naskah yang lahir saat membunuh rasa bosan itu, terus dia lanjutkan. Dan dalam tiga bulan, draf kasar novel pertamanya jadi. Berbentuk Novel fantasi. Mulai dari situ, dia benar-benar niatkan diri untuk menggeluti dunia kepenulisan.
“Saya beli buku banyak, bahkan bela-belain mengutang ke teman sampai jadi masalah,” katanya sambil tertawa.
Dia sadar. Untuk menulis, dia butuh asupan. Asupannya berupa buku yang sesuai dengan genre yang dia minati: fantasi. Karena itu, dia mulai memperbanyak pembacaan buku-buku bertema fantasi.
Haditha mengakui, sebagai penulis pemula, tantangannya berat. Godaan untuk menulis novel kedua begitu besar, sementara PR untuk merevisi novel pertama belum beres.
Selama hampir tiga tahun setelah menulis novel pertama, dia belum juga menelurkan novel lain. Novel pertama yang masih prematur itu dia paksa cetak mandiri dan coba tawarkan ke teman-temannya. Sambutannya positif, tapi kurang menarik perhatian.
“Saya coba tulis ulang lagi. Hasilnya masih belum memuaskan. Saya putuskan untuk berhenti dulu, baca lebih banyak buku.” Ucap pria 28 tahun itu.
Menemukan genre yang tepat: Horor!!
Haditha mengakui, percikan inspirasi, awalnya datang dari pacarnya, saat sedang berdiskusi. Setelah itu, dia langsung kebanjiran ide menulis horor. Meski napasnya horor, dia tetap sisipkan elemen fantasi. Sebab, dia belum sepenuhnya bisa meninggalkan genre fantasi.
“Dulu saya besar di Jawa Timur, tepatnya di Bojonegoro. Kota itu cukup kental dengan misteri. Demi melancarkan plot cerita baru itu, saya menapak tilas ke masa lalu. Ke tempat saya tinggal dulu semasa kecil.” Ungkapnya.
Tak hanya tempat. Bahkan, karakter-karakter yang muncul, Haditha comot dari nama asli orang-orang sekitar. Suasana horor pedesaannya pun dapat. Selagi menulis judul pertama itu, munculah sebuah semesta horor yang bisa dia jadikan landasan untuk karya-karya berikutnya.
“Sebuah semesta gaib yang berparalel dengan dunia gaib yang kita kenal selama ini. Dunia lain yang lain. Gila benar-benar gila. Mulai dari sini saya mendapatkan disiplin menulis yang efektif. Dalam satu tahun saya bisa menyelesaikan tiga sampai empat judul draf novel. Peristiwa membanggakan ini dimulai di tahun 2014.” Katanya.
Setelah itu, kata Haditha, novel-novel yang bernapaskan horor, lahir dari buah pikirnya. Hampir semua novel horor yang dia bikin, mayoritas mengambil tempat cerita di Bojonegoro. Sesungguhnya, itu lebih karena dia kangen dan ingin bernostalgia.
“Nostalgia yang tepat adalah dengan menuliskannya. Karena, hal itu akan jadi abadi.” Imbuhnya.
Jika dihitung, sejak 2014 sampai 2019 ini, Haditha sudah menulis setidaknya 8 novel horor, 3 novel fantasi, 1 Kumcer. Karya yang sudah terbit adalah Karung Nyawa (2018, Bukune), Tapak Setan (2018, Elex Media), dan Dalam Kurung (2018, Bukune).
Untuk judul-judul lain yang lebih lama, dia terbitkan mandiri melalui Google Playstore seperti: Sumur Hitam, Anak Pohon, Astral Travel Agent dan Nagaraga.
“Saya namakan genre yang saya usung ini sebagai Fiksi Klenik. Karena di setiap garis utama cerita bernapaskan klenik.” Tegasnya.
Masa depan Fiksi Klenik
Haditha mengatakan jika dia bakal tetap menulis kisah-kisah tak biasa. Genrenya bisa campur baur. Saat ini, dia mengaku sedang senang-senangnya membikin cerita horor yang absurd tapi tetap mengerikan.
Terkait masa depan fiksi klenik, dia percaya, selama masih ada penggiat klenik, dan segmen masyarakat yang masih memperbincangkannya, semua akan baik baik saja. Dan justru bakal menarik minat penulis untuk menyelami genre tersebut.
Meski terkesan malu-malu, Haditha mengaku jika sejumlah rumah produksi mulai membicarakan novel horornya untuk dibikin film. Meski, dia masih merahasiakan itu.
Haditha memprediksi jika fiksi klenik bakal tetap diminati. Bahkan, penulis-penulis dengan tema horor juga bakal bermunculan. Tapi, dia berharap klenik yang diangkat ke cerita horor adalah hal-hal segar yang belum tertuang sebelumnya.
Sebab, dia meyakini jika masih banyak isu klenik yang belum diangkat. Karena itu, para penulis harus piawai mengemas isu klenik ke dalam cerita, biar tidak menjemukan.








