Ilfil dan stigma punya kedekatan yang mesra. Ilfil memicu paradigma dan stigma mengabadikannya. Itu alasan kenapa otak mudah mengingat keburukan orang lain dan sulit mencari kebaikannya, meski sudah berupaya.
Orang yang sering tidak konsisten dengan apa yang diucapkan, dan tidak tuntas dalam menjalankan komitmen, tentu bakal memicu lahirnya rasa ilfil dari orang lain, terlepas sebaik apapun kualitas orang tersebut dalam bekerja.
Mereka yang peran hidupnya sering tak bisa diharapkan, dan kerap hilang di tengah jalan saat kerjaannya ditunggu-tunggu, sesungguhnya sedang menggali lubang ilfil untuk mengubur dirinya sendiri dalam kubangan stigma buruk.
Dua paragraf di atas, contoh bagaimana embrio ilfil bisa lahir di semesta pekerjaan dan profesional. Sedang untuk semesta sosial dan personal, jumlah contohnya bisa meningkat hingga berlipat-lipat.
Keilfilan personal bisa lahir dari perihal sepele hingga perihal tidak sepele. Proses mencari perhatian misalnya, bisa memicu rasa ilfil jika dilakukan secara keliru dan berlebih. Kondisi ini bisa diamati dari berbagai sudut pandang.
Mereka yang sering telat saat menyepakati janji pertemuan, bisa jadi hanya sedang mencari perhatian. Celakanya, yang didapat bukan perhatian. Justru melahirkan rasa ilfil bagi mereka yang menunggu.
Mereka yang kerap tak jelas saat diberi tugas, bisa jadi hanya sedang mencari perhatian. Sialnya, bukan perhatian yang didapat. Justru melahirkan stigma buruk berupa sikap tak bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
Menampakkan obsesi berlebih terhadap sesuatu, yang diniati untuk pamer dan memelihara eksistensi, misalnya, memang kelihatan keren. Kelihatannya saja sih, tapi sesungguhnya enggak. Sebab hanya membikin ilfil orang lain.
Daftar contoh penyebab rasa ilfil secara personal tentu bisa lebih panjang dari alun-alun Kota Ngawi atau ruas tol Jagorawi. Nabsky tentu bisa mencari dan mengingat-ingatnya sendiri.
Ilfil tentu serapan dari bahasa Inggris illfeel yang artinya muak atau tidak suka. Sesuai KBBI, ilfil merupakan perasaan kecewa akibat mengetahui keburukan seseorang. Padahal, sebelum mengetahui keburukan itu, tak ada masalah apa-apa. Ilfil juga dilekatkan dengan frasa ilang feeling.
Bedebahnya, sekecil apapun rasa ilfil yang sempat terlahir, lekatan buruknya bisa sangat awet dan sulit hilang, meski sudah mati-matian berupaya menghilangkannya. Sebab, diam-diam, stigma sudah mulai berperan di dalam otak kita.
Saat kita sudah ilfil pada sesuatu, misalnya, teramat sulit mengubah pandangan tersebut. Apalagi, pemicu sikap ilfil itu sering diulangi hingga berulang-ulang. Tentu, tempelan stigma kian abadi.
Nabs, sesuai kaidah KBBI, stigma merupakan ciri negatif yang menempel pada diri seseorang. Layaknya kulit pada tubuh manusia, ia melekat dan berada. Sebab, cukup sulit untuk merevisinya.
Ilfil dan stigma punya kedekatan yang mesra. Ilfil memicu paradigma dan stigma mengabadikannya. Itu alasan kenapa otak mudah mengingat keburukan orang lain dan sulit mencari kebaikannya, meski sudah berupaya.








