Senori dan Singgahan memiliki hubungan dengan Padangan, utamanya dalam Triloka Benawa — tiga pangkalan perahu yang bersanad genealogis dari zaman ke zaman.
Kawasan Tuban Selatan, utamanya Senori, Singgahan, dan Bangilan dikenal sebagai kawasan identik pesantren salaf. Di wilayah ini juga muncul banyak nama ulama intelektual seperti KH Munawwar Sendang, KH Abul Fadhol Senori, KH Masyhuri Senori, KH Misbah Mustofa Bangilan, Kiai Djoned Senori, Kiai Syarbini, hingga KH Muslih Tanggir.
Sejak awal abad 20 M, kawasan Senori dan Singgahan sudah banyak dipenuhi pesantren salaf hingga pesantren formal. Tak heran jika dari kawasan tersebut, muncul banyak nama-nama besar para mushonif dan intelektual. Keberadaan pesantren, secara tak langsung, membentuk ekosistem yang mentradisi pada kehidupan sehari-hari.
Dalam kaidah sosial, Pesantren Tradisional (Pesantren Salaf) bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan tatanan hidup yang diikat tradisi keilmuan klasik, spiritualitas, dan relasi sosial yang bertumbuh secara organik dalam kehidupan masyarakat. Tak heran keberadaannya kerap membentuk sebuah ekosistem.

Ekosistem Kepesantrenan, dalam hal ini, adalah keseluruhan tatanan hidup pesantren yang terhubung dan saling menopang— baik manusia, nilai, praktik, maupun ruang hidupnya— dalam membentuk tradisi pendidikan, spiritualitas, dan sosial. Ekosistem Kepesantrenan hidup secara alami, berlapis, dan berkelanjutan.
Keberadaan ekosistem ini, bukan dibangun oleh sistem administrasi modern, melainkan oleh tradisi, adab, dan keteladanan. Ini alasan Senori dan Singgahan, sejak lama dikenal sebagai kawasan yang memiliki Ekosistem Kepesantrenan cukup kuat. Terbukti dari banyaknya pesantren yang ada di sana.
Dari semua pesantren berada di wilayah Senori dan Singgahan, ada tiga pondok pesantren sepuh yang memiliki pengaruh besar hingga kini, dan menjadi induk dari mayoritas pesantren di kawasan tersebut. Di antaranya adalah (1). Pondok Sendang (Senori), (2). Pondok Jatisari (Senori), dan (3). Pondok Tanggir (Singgahan).
Hubungan dengan Padangan

1. Ponpes Sendang Senori
Ponpes Mansyaul Huda Sendang Senori yang didirikan KH Munawwar bin As’ad bin Muhyiddin juga memiliki hubungan dengan Padangan. Meski lahir di Lajo Kidul Singgahan, kakek KH Munawwar yang bernama Kiai Muhyiddin berasal dari Padangan. Ia dikenal dengan nama Kiai Muhyiddin Padangan. Hal ini terkonfirmasi catatan Kasepuhan Padangan, yang menyebut nama Kiai Muhyiddin Padangan sebagai dzuriyah Kesultanan Pajang, yang secara genealogis mempertautkan KH Munawwar As’ad dengan Syekh Abdul Jabbar Singgahan, Syekh Sambu Lasem, dan Syekh Sabil Padangan.
KH Munawwar, pendiri Ponpes Sendang, memang lahir di Lajo Kidul Singgahan. Namun, beliau datang ke Sendang Senori karena diambil menantu oleh Kiai Syahid Senori. Sejak diambil mantu Kiai Syahid Senori, Mbah Munawwar memutuskan berdakwah di Senori, dan mendirikan Ponpes Mansyul Huda yang berlokasi di Sendang Senori. Keberadaan pondok pesantren tersebut, kelak dikenal sebagai Ponpes Sendang.
2. Ponpes Jatisari Senori
Kiai Abdul Mukti berasal dari Padangan. Bersama keluarganya, ia bermigrasi ke Desa Jatisari Senori sebagai seorang carik. Di Desa Jatisari, Kiai Abdul Mukti dikenal dengan Carik Kuntho. Untuk mengembangkan Islam, Carik Kuntho menikahkan putrinya yang bernama Nyai Sulminah dengan lelaki dari Sedan Rembang yang bernama Kiai Syahid. Setelah menjadi menantu Carik Kuntho, Kiai Syahid beserta istrinya mukim di tempat mertuanya untuk berdakwah. Menantu Carik Kuntho yang berasal dari Desa Sedan Rembang ini, kelak dikenal dengan nama Kiai Syahid Senori.
Kiai Syahid Senori adalah mertua dari Kiai Munawwar Sendang. Selain memiliki menantu Kiai Munawwar Sendang, Kiai Syahid Senori juga menikahkan putrinya yang bernama Nyai Aminah dengan Kiai Masyhuri dari Lasem. Kiai Masyhuri dari Lasem inilah, figur ulama pendiri Ponpes Jatisari Senori, dalam rangka melanjutkan perjuangan mertuanya yang bernama Kiai Syahid Senori.
Di sini terlihat bahwa Kiai Syahid Senori merupakan tokoh penting pembangun ekosistem Senori. Beliau mampu mengumpulkan Kiai Munawwar Sendang dan Kiai Masyhuri Lasem sebagai dua menantu yang kelak, menjadi bagian dari penerus perjuangan dakwah di Senori. Dan apa yang diperjuangkan Kiai Syahid Senori, adalah melanjutkan perjuangan mertuanya lagi, yakni: Carik Kuntho alias Kiai Abdul Mukti Padangan.
3. Ponpes Tanggir Singgahan
KH Mushlich Abdul Karim, pendiri Ponpes Roudhotut Tholibin Tanggir Singgahan, memang lahir di Jambangan, Kenduruan, Tuban — di rumah sang ayah. Namun dari garis ibunya, Nyai Mu’isyah binti Murtadho, KH Mushlich merupakan cucu dari Kiai Murtadho bin Syihabuddin Padangan, yang merupakan dzuriah Syekh Abdul Jabbar Jojogan. Kiai Mushlich Tanggir bagian dari keluarga besar Bani Syihabuddin Padangan yang bertaut-genealogi pada Syekh Abdul Jabbar Nglirip Jojogan.
Rantai Triloka Benawa
Triloka berarti tiga wilayah. Benawa bermakna perahu. Triloka Benawa merupakan tiga kawasan perahu yang terdiri dari Padangan, Lasem, dan Jojogan sebagai tiga “safinah” pangkalan dakwah pada abad 17 M —- era Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Jojogan. Dalam konteks jejaring dakwah, Senori dan Singgahan adalah bagian penting dari tiga rantai safinah dakwah tersebut.

Gerakan Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Jojogan pada abad 17 M, hanyalah lanjutan dari upaya Sultan Pajang dan putranya, Pangeran Prabuwijaya Pajang, untuk membumikan Islam Jawi pada awal abad 16 M. Sementara upaya Sultan Pajang dan putranya, hanyalah lanjutan dari perjuangan leluhur mereka, Sidi Ishak Pandoyo dan Sidi Makurung Andayaningrat dalam mempopulerkan Islam Jawi pada abad 15 M.
Sedangkan perjuangan Sidi Ishak Pandoyo dan Makurung Andayaningrat pada abad 15 M, hanyalah lanjutan dari perjuangan leluhur mereka, Sidi Jamaluddin Husain yang membangun pondasi Sufisme Jawi pada abad 14 M di Zawiyah Gunung Jali —- tempat inkubasi yang oleh Gus Dur, disebut sebagai laboratorium wasathiyah dan prototype toleransi abad 14 M.
Perjuangan secara musalsal tersebut, merupakan gerakan ideologis untuk memperkenalkan Islam rahmatan lil alamin dari luar tembok istana. Seperti dikatakan Gus Dur, gerakan ideologis ini meyakini bahwa peradaban Islam tak hanya dibangun melalui formalitas kuasa, namun melalui esensi pendidikan dan budaya masyarakat yang embrionya dimulai sejak era Sidi Jamaluddin.
Baca Juga: Zawiyah Gunung Jali, Ranah Studi Warisan Sidi Jamaluddin Kubro
Gus Dur mengatakan, Sidi Jamaluddin adalah leluhur garis lelaki Sultan Pajang. Artinya, Sidi Jamaluddin juga leluhur dari para Triloka Benawa, yang tak lain adalah leluhur para masyayikh di kawasan Padangan, Lasem, dan Jojogan. Yang jika ditarik lagi ke depan, adalah leluhur dari para masyayikh di kawasan Senori dan Singgahan Tuban.
** keterangan:
abad 14 M (1301 – 1400 M)
abad 15 M (1401 – 1500 M)
abad 16 M (1501 – 1600 M)
abad 17 M (1601 – 1700 M)
abad 18 M (1701 – 1800 M)
abad 19 M (1801 – 1900 M)
abad 20 M (1901 – 2000 M)
Wallahu A’lam Bishowab








