Senori dan Singgahan memiliki jejaring dengan Padangan, utamanya dalam rantai Triloka Benawa — tiga titik perahu pangkalan dakwah abad 17 M.
Kawasan Tuban Selatan, utamanya Senori, Singgahan, dan Bangilan dikenal sebagai kawasan identik pesantren salaf. Di wilayah ini juga muncul banyak nama ulama intelektual seperti KH Munawwar Sendang, KH Abul Fadhol Senori, KH Masyhuri Senori, KH Misbah Mustofa Bangilan, Kiai Djoned Senori, Kiai Syarbini, hingga KH Muslih Tanggir.
Sejak awal abad 20 M, kawasan Senori dan Singgahan sudah banyak dipenuhi pesantren salaf hingga pesantren formal. Tak heran jika dari kawasan tersebut, muncul banyak nama-nama besar para mushonif dan intelektual. Keberadaan pesantren, secara tak langsung, membentuk ekosistem yang mentradisi pada kehidupan sehari-hari.
Dalam kaidah sosial, Pesantren Tradisional (Pesantren Salaf) bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan tatanan hidup yang diikat tradisi keilmuan klasik, spiritualitas, dan relasi sosial yang bertumbuh secara organik dalam kehidupan masyarakat. Tak heran keberadaannya kerap membentuk sebuah ekosistem.

Ekosistem Kepesantrenan, dalam hal ini, adalah keseluruhan tatanan hidup pesantren yang terhubung dan saling menopang— baik manusia, nilai, praktik, maupun ruang hidupnya— dalam membentuk tradisi pendidikan, spiritualitas, dan sosial. Ekosistem Kepesantrenan hidup secara alami, berlapis, dan berkelanjutan.
Keberadaan ekosistem ini, bukan dibangun oleh sistem administrasi modern, melainkan oleh tradisi, adab, dan keteladanan. Ini alasan Senori dan Singgahan, sejak lama dikenal sebagai kawasan yang memiliki Ekosistem Kepesantrenan cukup kuat. Terbukti dari banyaknya pesantren yang ada di sana.
Dari puluhan pesantren berada di Senori dan Singgahan tersebut, ada tiga pondok pesantren sepuh yang memiliki pengaruh besar hingga kini, dan menjadi induk dari sejumlah pesantren di kawasan Senori dan Singgahan (Tuban). Di antaranya adalah Pondok Sendang (Senori), Pondok Jatisari (Senori), dan Pondok Tanggir (Singgahan).
1. Pondok Sendang Senori
Pondok Pesantren Mansyaul Huda yang berada di Desa Sendang Kecamatan Senori, dan lebih dikenal sebagai Pondok Sendang Senori, didirikan KH Munawwar As’ad pada periode 1920-an. KH Munawwar (1888 – 1972) merupakan tokoh penting dibalik kebesaran Ponpes Sendang Senori. Beliau ulama kharismatik yang berasal dari Desa Laju Kidul Singgahan, Tuban.
Ponpes Sendang Senori punya peran penting dalam membangun Ekosistem Kepesantrenan di kawasan Senori Tuban. Selain memunculkan banyak nama tokoh ulama, mualif, hingga para Kiai kharismatik di bidang pemikiran Islam, Ponpes Sendang Senori juga telah melahirkan banyak pesantren di kawasan Tuban dan sekitarnya.
2. Pondok Jatisari Senori
Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin yang berada di Desa Jatisari Kecamatan Senori, atau yang lebih dikenal dengan Ponpes Jatisari Senori, didirikan oleh KH Masyhuri Abdus Sami’ (1901 – 1994). Beliau merupakan tokoh penting dibalik Ponpes Jatisari dan Madrasah Islamiyah Senori. KH Masyhuri merupakan ulama kharismatik dari Lasem, Jawa Tengah.
Ponpes Jatisari Senori dan Madrasah Islamiyah Senori yang dipandegani KH Masyhuri, punya peran penting dalam membangun poros intelektualitas Islam di kawasan Senori Tuban. Selain dibuktikan dari banyaknya nama tokoh besar yang lahir darinya, hal ini juga dibuktikan dari banyaknya lembaga ponpes yang lahir dari Ponpes Jatisari.
3. Pondok Tanggir Singgahan
Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yang berada di Desa Tanggir Kecamatan Singgahan, atau yang lebih dikenal dengan Ponpes Tanggir, didirikan oleh KH Mushlich Abdul Karim (1921-1985) pada periode 1950. KH Mushlich merupakan ulama kharismatik yang berasal dari Desa Jambangan, Kenduruan, Tuban.
Ponpes Tanggir punya peran penting dalam membangun atmosfer kepesantrenan di kawasan Singgahan. Hal ini tak hanya dibuktikan dari keberadaan nama-nama ulama yang terus muncul dari kawasan tersebut. Namun juga banyaknya lembaga pendidikan Islam pesantren yang juga lahir dari Ponpes Tanggir.
Hubungan dengan Padangan

1. Ponpes Sendang Senori
Ponpes Mansyaul Huda Sendang Senori yang didirikan KH Munawwar bin As’ad bin Muhyiddin juga memiliki hubungan dengan Padangan. Meski lahir di Lajo Kidul Singgahan, kakek KH Munawwar yang bernama Kiai Muhyiddin berasal dari Padangan. Ia dikenal dengan nama Kiai Muhyiddin Padangan. Hal ini terkonfirmasi catatan Kasepuhan Padangan, yang menyebut nama Kiai Muhyiddin Padangan merupakan dzuriyah Mbah Jabbar sekaligus Mbah Sabil Padangan. Berbagai sumber menyebut, Kiai Muhyiddin Padangan merupakan dzuriyah (keturunan) Syekh Abdul Jabbar Jojogan, yang secara genealogis mempertautkan KH Munawwar As’ad dengan Syekh Abdul Jabbar Jojogan.
KH Munawwar, pendiri Ponpes Sendang, sebelumnya memang berada di Lajo Kidul Singgahan. Namun, beliau datang ke Sendang Senori karena diambil menantu oleh Kiai Syahid Senori. Sejak diambil mantu oleh Kiai Syahid Senori, Mbah Munawwar memutuskan berdakwah di Senori, dan mendirikan Ponpes Mansyul Huda yang masyhur dikenal sebagai Ponpes Sendang.
2. Ponpes Jatisari Senori
Kiai Abdul Mukti dari Padangan, bersama keluarganya bermigrasi ke Desa Jatisari sebagai seorang carik. Di Desa Jatisari, Kiai Abdul Mukti lebih dikenal dengan Carik Kuntho. Untuk mengembangkan Islam, Mbah Kuntho menikahkan putrinya yang bernama Nyai Sulminah dengan lelaki dari Sedan Rembang yang bernama Kiai Syahid. Setelah menjadi menantu Carik Kuntho, Kiai Syahid beserta istrinya mukim di tempat mertuanya untuk berdakwah. Menantu Carik Kuntho yang berasal dari Desa Sedan Rembang ini, kelak dikenal dengan nama Kiai Syahid Senori.
Kiai Syahid Senori memiliki sejumlah santri. Satu di antaranya bernama Kiai Masyhuri dari Lasem, yang kelak dinikahkan dengan putri Kiai Syahid Senori yang bernama Nyai Aminah. Kiai Masyhuri dari Lasem inilah, figur ulama pendiri Ponpes Jatisari Senori. Dia melanjutkan perjuangan mertuanya yang bernama Kiai Syahid Senori, yang juga melanjutkan perjuangan mertuanya: Mbah Carik Kuntho alias Kiai Abdul Mukti Padangan.
3. Ponpes Tanggir Singgahan
KH Mushlich Abdul Karim, pendiri Ponpes Roudhotut Tholibin Tanggir Singgahan, memang lahir di Jambangan, Kenduruan, Tuban — di rumah sang ayah. Namun dari garis ibunya, Nyai Mu’isyah binti Murtadho, KH Mushlich merupakan cucu dari Kiai Murtadho bin Syihabuddin Padangan, yang merupakan dzuriah Syekh Abdul Jabbar Jojogan. Kiai Mushlich Tanggir bagian dari keluarga besar Bani Syihabuddin Padangan yang bertaut-genealogi pada Syekh Abdul Jabbar Nglirip Jojogan.
Rantai Triloka Benawa
Triloka berarti tiga wilayah. Benawa bermakna perahu. Triloka Benawa merupakan tiga kawasan perahu yang terdiri dari Padangan, Lasem, dan Jojogan sebagai tiga “safinah” pangkalan dakwah pada abad 17 M —- era Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Jojogan. Dalam konteks jejaring dakwah, Senori dan Singgahan berhubungan kuat dengan tiga rantai safinah tersebut.

Triloka Benawa yang dipandegani Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Jojogan pada abad 17 M, hanyalah lanjutan dari upaya Sultan Pajang untuk membumikan Islam Jawi pada awal abad 16 M, melalui gerakan ideologis di luar tembok istana. Seperti dikatakan Gus Dur, gerakan ini meyakini bahwa peradaban tak hanya dibangun melalui formalitas kuasa pemerintahan, namun melalui esensi pendidikan dan kebudayaan masyarakat.
Upaya Sultan Pajang pada awal abad 16 M untuk membumikan Islam Jawi, hanyalah lanjutan dari cita-cita besar Sidi Jamaluddin Husain (Syekh Jumadil Kubro), pendiri Zawiyah Gunung Jali, inkubator Sufisme Jawi yang didirikan pada abad 14 M di puncak Bukit Tegiri, Jipang Padangan. Menurut Gus Dur, Gunung Jali merupakan laboratorium wasatiyah dan moderasi, sekaligus prototype toleransi pada abad 14 M.
Baca Juga: Zawiyah Gunung Jali, Ranah Studi Warisan Sidi Jamaluddin Kubro
Gus Dur mengatakan, Sidi Jamaluddin adalah leluhur garis lelaki Sultan Pajang. Artinya, Sidi Jamaluddin juga leluhur dari para Triloka Benawa, yang tak lain adalah leluhur para masyayikh di kawasan Padangan, Lasem, dan Jojogan. Yang jika ditarik ke belakang, adalah leluhur dari para masyayikh di kawasan Senori dan Singgahan Tuban.
** keterangan:
abad 14 M (1301 – 1400 M)
abad 15 M (1401 – 1500 M)
abad 16 M (1501 – 1600 M)
abad 17 M (1601 – 1700 M)
abad 18 M (1701 – 1800 M)
abad 19 M (1801 – 1900 M)
abad 20 M (1901 – 2000 M)
Wallahu A’lam Bishowab








