Aroma tembakau bukan hanya wangi daun kering. Ia adalah wangi sejarah, wangi tanah, dan wangi Bojonegoro yang tumbuh dari kerja keras banyak generasi sebelumnya.
Tembakau menjadi komoditas anomali di Bojonegoro. Dinikmati hasil cukainya, tapi dipandang sebelah mata keberadaannya. Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, berharap agar keberadaan tembakau diakui sebagai bagian penting dari sumber daya alam Bojonegoro.
“Sudah semestinya kita kembalikan wangi aroma tembakau Bojonegoro ini” ucap Abdulloh Umar pada Jurnaba (13/2/2026).
Aroma tembakau, kata Umar, bukan sekadar makna harfiah, tetapi simbol kebangkitan martabat petani dan kejayaan komoditas lokal Bojonegoro, dalam hal ini para petani tembakau. Sebab, meski tak banyak mendapat perhatian, tembakau Bojonegoro punya peran besar dalam menyumbang pendapatan daerah.
Umar menjelaskan, Bojonegoro pernah dikenal sebagai penyuplai tembakau besar. Banyak perusahaan-perusahaan rokok skala besar menggantungkan produksi dari hasil petani tembakau Bojonegoro. Namun seiring waktu, tembakau seperti kehilangan tempatnya. Banyak petani beralih dan tembakau tak lagi mendapat tempat sebagai ikon Bojonegoro.
“Padahal kalau diingat, sampai tahun 80-an, tembakau ini pernah jadi komoditas yang khas bagi Bojonegoro” Imbuhnya.
Dalam konteks Bojonegoro, Abdulloh Umar melihat bahwa tembakau bukan sekadar tanaman dagang, melainkan identitas Bojonegoro. Ia menilai, menghidupkan tembakau berarti menghidupkan kembali kebanggaan atas kerja keras petani, atas tanah yang memberi kehidupan, dan atas warisan ekonomi rakyat yang lama terabaikan.
“Selama ini tembakau Bojonegoro sering dianggap biasa saja. Padahal pernah jadi komoditas penting yang wanginya jadi identitas. Karena itu, kita harus bangun lagi wangi tersebut” ungkapnya.

Kabupaten Bojonegoro sejak lama dikenal sebagai salah satu wilayah penting penghasil tembakau di Jawa Timur. Budidaya tembakau di daerah ini tidak terpusat pada satu lokasi saja, melainkan tersebar di sejumlah kecamatan yang menjadi sentra utama, seperti Kedungadem, Baureno, Sugihwaras, Temayang, Ngraho, dan Kasiman.
Kecamatan-kecamatan tersebut menegaskan bahwa tembakau merupakan komoditas agraris yang hidup dalam lanskap pedesaan Bojonegoro, baik untuk varietas Virginia maupun tembakau lokal Jawa. Namun, berdasar data luas tanam, produksi tembakau terbesar di Bojonegoro saat ini berada di Kecamatan Kepohbaru (4.027 ha)
Bojonegoro memiliki satu warisan agraria yang khas: tembakau beraroma kuat yang tumbuh dari tanah-tanah bekas hutan jati. Lahan semacam ini cenderung gembur, berkapur, dan kaya unsur organik dari guguran daun jati. Kondisi tersebut memberi pengaruh langsung pada kualitas tembakau, terutama pada wanginya yang khas. Dari sinilah muncul istilah Mbako Jati, tembakau harum dan berkarakter kuat dari Bojonegoro.
Sejarah Tembakau Bojonegoro
Data dihimpun Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (Keriskeloka), masuknya tembakau ke Bojonegoro diperkirakan sejak abad ke-17 M, melalui jaringan perdagangan Portugis dan Belanda. Kemudian pada abad ke-19 M, setelah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) berakhir, perkebunan swasta kolonial (Particuliere Onderneming) justru berkembang pesat.
Di kawasan Bojonegoro, perusahaan swasta kolonial itu melirik tembakau sebagai komoditas utama karena kualitasnya dianggap unggul. Orang-orang Belanda mengakui, tembakau Bojonegoro terkenal wangi dan kuat, sehingga rajangannya menjadi primadona untuk cerutu maupun kretek.

Memasuki awal abad ke-20, ketika industri rokok kretek booming di Kudus dan Surabaya, permintaan terhadap tembakau Bojonegoro ikut meningkat. Tembakau unggulan tumbuh di sempadan Bengawan maupun kawasan hutan karst, namun Mbako Jati tetap menjadi identitas paling khas: tembakau yang lahir dari lanskap jati Bojonegoro.
Hari ini, tembakau masih menjadi denyut ekonomi lokal. Pada 2025, Bojonegoro menerima dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 74,3 miliar, terbesar keenam di Jawa Timur setelah Jember. Angka itu menunjukkan bahwa aroma Mbako Bojonegoro bukan sekadar romantika masa lalu, tetapi masih menjadi bagian penting dari ekonomi daerah.
Mengembalikan aroma tembakau Bojonegoro, pada akhirnya, berarti merawat sejarah, lanskap agraria, dan identitas Bojonegoro sendiri. Sebab aroma tembakau bukan hanya wangi daun kering. Ia adalah wangi sejarah, wangi tanah, dan wangi Bojonegoro yang tumbuh dari kerja keras banyak generasi sebelumnya.







