Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, menyoroti pentingnya pijakan spiritual di tengah gerak zaman yang semakin cepat. Hal itu disampaikannya saat menggelar reses masa sidang kedua di kediamannya, Desa Pasinan, Kecamatan Baureno, Selasa (25/8/2026).
Reses diikuti masyarakat dari Dapil III, meliputi Baureno, Kepohbaru, dan Kanor, menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Tidak hanya pembangunan, aspirasi mengenai pendidikan, keagamaan, hingga pertanian turut dibicarakan.
Kegiatan reses diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan Yalal Wathon dan sholawat Nabi. Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Wakil Ketua Dewan Syuro DPC PKB Bojonegoro KH Hamim Sanadi dan Ketua DPAC PKB Baureno Haji Muslih Usman.

Bagi Umar, reses bukan sekadar agenda bertemu konstituen. Ia menjadi ruang untuk mendengar kembali suara masyarakat dari dekat. Aspirasi yang muncul dalam pertemuan tersebut kemudian menjadi bahan untuk melihat apa yang sudah berjalan, apa yang masih berproses, dan apa yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Dalam forum itu, sejumlah aspirasi dari reses sebelumnya juga kembali ditinjau. Dengan begitu, persoalan masyarakat tidak berhenti sebagai catatan dalam sebuah pertemuan, tetapi terus dikawal sesuai kewenangan dan kemampuan pemerintah daerah.
Di tengah berbagai aspirasi tersebut, pendidikan dan keagamaan mendapat perhatian tersendiri. Ia melihat perkembangan teknologi dan media digital sebagai sesuatu yang tidak mungkin dihindari.
Namun, kemajuan perlu berjalan bersama penguatan pendidikan dan nilai keagamaan. Sebab, semakin deras arus informasi, semakin penting kemampuan manusia untuk memilih mana yang perlu diikuti, mana yang harus disaring.
“Perkembangan teknologi dan media digital harus kita ikuti dengan penguatan pendidikan dan keagamaan. Masyarakat harus mampu menghadapi modernisasi, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai pendidikan dan agama,” ujar Umar
Umar menegaskan, pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan. Begitu pula agama bukan sekadar pengetahuan yang disimpan di ruang-ruang pengajian. Keduanya menjadi bekal agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab.
Dari ruang pertemuan itu, berbagai suara masyarakat kembali dikumpulkan. Tentang kebutuhan pertanian, pendidikan, keagamaan, maupun persoalan lain yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Reses pada akhirnya bukan hanya tentang datang, mendengar, lalu pulang.
“Ini (reses) adalah bagian dari hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat yang diwakilinya. Ada aspirasi yang harus dicatat, ada persoalan yang perlu ditindaklanjuti, dan ada harapan yang harus terus dijaga dan dikawal” tegas Umar.
Teknologi akan terus tumbuh. Informasi akan semakin deras. Yang perlu diperkuat bukanlah tembok untuk menahan zaman, melainkan manusia yang hidup di dalamnya. Pendidikan memberi kemampuan untuk berpikir. Agama memberi arah untuk melangkah. Dan reses menjadi salah satu ruang untuk memastikan suara masyarakat tetap menemukan jalan menuju kebijakan. Di antara derasnya perubahan, masyarakat Bojonegoro diharap tetap berjalan mengikuti zaman, tanpa kehilangan jalan pulang.








