Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Lelaki Hutan Bulan Juni dan Kereta Tiba Pukul Berapa?

Dian Wisnu Adi Wardhana by Dian Wisnu Adi Wardhana
24/03/2019
in Cecurhatan
Lelaki Hutan Bulan Juni dan Kereta Tiba Pukul Berapa?

Kamu sedang asyik makan sunyi di warung bakso, ketika gawaimu berbunyi halo. Ada panggilan dari kantor mimpi di Jakarta. Besok pagi-pagi buta kamu disuruh ke Jakarta. Ada panggilan interview di sana.

Mendengar kabar seramai itu, kamu langsung bersemangat. Selera makan sunyimu hilang. Sekarang yang ingin kamu makan hanyalah keramaian. Tapi sayang, warung bakso tepi sawah itu telah lama tak menjual menu tersebut.

Sebelum pulang mem-packing harapan, kamu mampir dulu ke stasiun kereta api. Memesan sepotong tiket kelas ekonomi. Ekonomi memang sedang muram-muramnya. Sebab itu pilihanmu jatuh di kelas ekonomi. Demi menghormati isi dompet yang sedang berpuasa senin-kamis.

Setelah berpamitan dengan orang rumah, kamu berangkat naik kereta api. Di kereta, kamu duduk jejer bidadari. Seperti layaknya seorang bidadari, ia tidak makan nasi. Sebab nasi mudah basi. Dan basa-basi yang kamu tawarkan ke bidadari itu telah benar-benar basi.

Sebagai lelaki yang terbiasa makan hidup susah, kamu tidak terbiasa menyerah. Kamu teringat kisah yang kamu alami setahun lalu. Ketika hendak mengunjungi Hutan Bulan Juni dalam puisinya pak Sapardi.

Di Hutan Bulan Juni milik pak Sapardi, kamu menginap di sebuah Guest House. Di situ kamu menunggu kemarau sambil bersenandung lagu-lagu dengan sederhana.

Ketika sore hari tiba, kamu memilih menghabiskan harimu di restoran. Di sana kamu bertemu dengan seorang gadis kecil peminta-minta dan menawarinya untuk duduk menemanimu makan. Ia bersedia.

“Mau makan apa?” Kamu bertanya kepada gadis kecil itu.

“Ilalang panjang.”

Jawaban itu bikin kamu kesal. Mana ada menu semacam itu di restoran?

“Mau makan apa?” kamu mengulang pertanyaanmu lebih jelas.

“Bunga rumput.”

Sebelum kamu tambah jengkel, gadis itu kembali berkata, “Kita sedang berada di restoran milik pak Sapardi.”

Cerita itu tentu tak ada hubungannya dengan momen yang sedang kamu alami saat ini. Ingat! kamu sekarang sedang di dalam kereta, di dekat bidadari.

Namun ingatan tak pernah salah. Sebab dari ingatan liar itu, kamu sampai pada sebuah film romansa favoritmu. Ia berjudul Before Sunrise.

Di dalam film itu, tokoh lelakinya ganteng, seganteng dirimu, sedang asik membaca buku di kereta. Sementara tokoh wanitanya cantik, secantik bidadari, juga tengah sibuk dengan bukunya.

Dari buku-buku yang mereka baca, lahirlah tegur sapa. Saling bergantian mereka melempar tanya : judul bukumu apa? Dari situlah obrolan terus berkembang hingga bertaman-taman.

Belajar adalah proses meniru. Tak ada salahnya jika kamu meniru adegan dalam film itu. Begitu nasehat orang bijak yang tinggal di dalam kepalamu. Setelah mantap, kamu segera meloloskan sebuah buku.

Sial, ternyata yang kau bawa hanya setipis buku berwarna hijau dan bercetak judul : Kiat Menanam Blimbing Wuluh di Halaman Rumah Mertua. Rupanya kamu salah memasukkan buku ke dalam tasmu. Itu buku milik pamanmu, yang kebetulan coraknya mirip bukumu.

Kamu diteror malu, sebelum tiba-tiba bidadari di jejermu menjelma menjadi seorang wanita. Sayap dan jubah putihnya tanggal diterpa sederhana. Yang hadir dari celah bibirnya dengan kata-kata, “Aku suka makan blimbing wuluh.”

Kamu lega. Lalu mulai memanen kata-kata dan menjualnya ke obrolan sederhana dengan wanita di dekatmu itu. Tentang blimbing wuluh, tentang ekonomi, tentang Sapardi dan tentang pertanyaan di kepalamu yang terus-terusan cemas.

“Kereta tiba pukul berapa?”

Tags: Fiksi Akhir Pekan
Previous Post

Refleksi Hari Meteorologi Dunia 2019 dan Langkah Kecil Manusia untuk Semesta

Next Post

Upaya Memusnahkan Penyakit TBC di Hari Tuberkulosis Sedunia

BERITA MENARIK LAINNYA

Rampungkan Peta Mitigasi Longsor, Mahasiswa KKN Unigoro Buat Data Rujukan untuk Desa
Cecurhatan

Rampungkan Peta Mitigasi Longsor, Mahasiswa KKN Unigoro Buat Data Rujukan untuk Desa

26/07/2026
Rahang Purba dari Jetak: Ketika Bengawan Kembali Membuka Ingatannya
Cecurhatan

Rahang Purba dari Jetak: Ketika Bengawan Kembali Membuka Ingatannya

26/07/2026
Teori Syahadah dan Alasan Mengapa Iran Masih Bertahan
Cecurhatan

Teori Syahadah dan Alasan Mengapa Iran Masih Bertahan

25/07/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Rampungkan Peta Mitigasi Longsor, Mahasiswa KKN Unigoro Buat Data Rujukan untuk Desa

Rampungkan Peta Mitigasi Longsor, Mahasiswa KKN Unigoro Buat Data Rujukan untuk Desa

26/07/2026
Rahang Purba dari Jetak: Ketika Bengawan Kembali Membuka Ingatannya

Rahang Purba dari Jetak: Ketika Bengawan Kembali Membuka Ingatannya

26/07/2026
Teori Syahadah dan Alasan Mengapa Iran Masih Bertahan

Teori Syahadah dan Alasan Mengapa Iran Masih Bertahan

25/07/2026
Di Tengah APBD Raksasa, Ribuan Anak Bojonegoro Masih Sulit Bersekolah

Di Tengah APBD Raksasa, Ribuan Anak Bojonegoro Masih Sulit Bersekolah

24/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: