Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menak Lono, Pencak Silat khas Padangan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
30/12/2019
in JURNAKULTURA
Menak Lono, Pencak Silat khas Padangan

Menak Lono merupakan seni bela diri dan ilmu kanuragan yang dulu diajarkan pada jamaah dan santri-santri Menak Anggrung. Mengingat, zaman dulu, ilmu kanuragan dipandang penting dimiliki tiap anak muda, sebagai perisai dari ancaman penjajah.

Berbicara tentang Padangan, tentu tak bisa lepas dari ledre, jajanan khas Bojonegoro yang lahir dari sana. Tapi sesungguhnya, Padangan punya seni pencak silat yang khas: Menak Lono. Meski, silat tradisi ini kurang lestari.

Selain ledre, kita tahu, Padangan identik dengan Menak Anggrung, sebuah lokasi persemayaman dua Waliyullah bernama Mbah Sabil dan Mbah Hasyim yang mensyiarkan agama Islam di kawasan tersebut.

Pada abad ke-16, Mbah Sabil mendirikan semacam pesantren di Padangan dan dikenal dengan nama Menak Anggrung. Di sana, beliau dibantu Mbah Hasyim. Di tempat itu, beliau mengajar. Dan sebuah kewajaran zaman dulu, selain belajar agama, juga belajar ilmu kanuragan.

Nah, di Menak Anggrung ini, lahir sebuah seni bela diri dan kanuragan bernama Menak Lono. Awalnya, bidang ilmu itu diajarkan pada jamaah dan para santri untuk membekali diri di tengah kerentanan suasana perang melawan penjajah.

Hanya, ilmu silat dan kanuragan Menak Lono ini tak sepopuler Menak Anggrung sebagai tempat belajar keagamaan atau sebagai pesarehan (tempat bersemayam) dua Waliyullah tersebut. Mayoritas mendengar Menak Anggrung tapi tak banyak yang tahu Menak Lono.

Di kawasan Padangan, terutama berpusat di Desa Kuncen, seni bela diri Menak Lono mampu bertahan dan lestari hingga awal 1990-an. Setidaknya secara formal, kini sudah sulit ditemui. Namun, beberapa sosok pewaris dan yang pernah mendalami silat Menak Lono, masih bisa dijumpai.

Satu di antaranya adalah Abdur Rochim. Kepada penulis, dia bercerita jika silat Menak Lono cukup populer di era 1970 hingga awal 1990. Seni bela diri berpusat di Desa Kuncen Kecamatan Padangan tersebut, sayangnya sudah sulit ditemui saat ini.

Baca juga: Perguruan Silat Ini Lahir di Bojonegoro

Silat Menak Lono merupakan seni bela diri, ilmu kanuragan, sekaligus tariqat yang diajarkan pada jamaah dan santri-santri Menak Anggrung. Mengingat, zaman dulu, ilmu kanuragan dipandang penting dimiliki tiap anak muda, sebagai perisai dari ancaman penjajah.

Dari zaman Menak Anggrung, silat Menak Lono hadir di tiap zaman dan mengalami transformasi di tiap generasi. Pasca kemerdekaan, utamanya era 1970 hingga 1980-an, Menak Lono bertransformasi menjadi pegangan bagi para pemuda di Padangan, khususnya di Desa Kuncen Kecamatan Padangan, sebagai bekal kemampuan memagari diri.

Abdur Rochim bercerita jika pada medio 1980-an, silat Menak Lono sangat populer dan diminati anak muda di Padangan. Sebab, banyak anak muda yang mempelajarinya. Mereka belajar pada sosok guru bernama Mbah Marto Khasiran, yang juga bapak dari Abdur Rochim.

Menak Lono diwariskan dari generasi ke generasi. Abdur Rochim belajar dari Mbah Marto Kasiran, Mbah Marto Khasiran belajar dari Mbah Dasmu dan seterusnya hingga sampai pada era Menak Anggrung. Sayangnya, dari Mbah Dasmu ke atas, sanad gurunya tak sempat terdokumentasi.

“Zaman saya paling ramai tahun 1980 – 1985, hampir mayoritas anak muda belajar silat tersebut.” Kenangnya.

Di tahun-tahun itu, masih amat banyak anak muda Padangan berlatih pencak silat di halaman rumahnya, di bawah bimbingan bapaknya, Mbah Marto Khasiran. Bahkan, kala itu, dia juga sempat ikut melatih karena saking banyaknya yang ikut latihan.

Secara gerakan fisik, menurutnya, seni pencak silat Menak Lono tak jauh berbeda dengan gerakan-gerakan pada silat yang lain. Hanya, fokus kekuatan dan kekhasan silat Menak Lono ada pada kuda-kudanya.

Dari unsur teknik dan gerakan, misalnya, terdapat 15 jurus dan 10 kembangan. Saat berlatih, diawali dengan senam pernafasan, lalu dilanjut dengan jurus dan kembangan layaknya pencak silat lainnya.

Menak Lono tak hanya kemampuan memagari diri dan sekadar pencak saja, tapi juga kemampuan debus. Karena itu, fokus latihannya pun tak hanya soal fisik, melainkan juga unsur ilahiah berupa keyakinan dan doa.

Di Menak Lono ada satu bagian yang mungkin menjadi sebuah kekhasan. Yakni mel atau niat. Sebelum melakukan silat atau debus, ada mel yang harus dibaca, kadang dibaca menggunakan nadhoman (lagu).

Mel yang dibaca adalah Bismillah. Dengan penjabaran, Bis: teguh, Mil: luput (tak bisa keserang), Lah: Tuhan tidak terlihat. Filosofinya, kekuatan dari Tuhan. Kalau ada masalah dilindungi Tuhan. Dan Tuhan wujudnya tidak kelihatan.

Filosofi ilahiah ini pula yang membuat Menak Lono tak hanya urusan gerak dan fisik belaka. Tapi lebih dari itu, ada unsur tirakat dan berpuasa. Ini biasa diterapkan sebelum melakukan kegiatan debus.

Pada awal 1990, silat Menak Lono masih ada dan banyak anak muda berlatih tiap seminggu sekali. Namun, memasuki 2000, sudah tak banyak yang berlatih karena tak ada kaderisasi. Sehingga, makin lama, tradisi silat Menak Lono makin menghilang.

Tags: PadanganSilat
Previous Post

Shin Tae-yong, Filanesia dan Masa Depan Sepakbola Indonesia

Next Post

Mengubah Paradigma Empat Sehat Lima Sempurna dengan Isi Piringku

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

Konflik Dr. Manhattan dan Rorschach di Watchmen (2009): Filsafat Moral dan Perlawanan Terakhir terhadap Dunia yang Korup

15/07/2026
KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

KKN Unigoro Resmi Dimulai, Kelompok 04 Siap Kembangkan Potensi Wisata Edukasi Desa Drenges

14/07/2026
Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

Jenderal Moerdani dan Pondok Pesantren yang telah Mendidiknya

14/07/2026
Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan

Angkat Lokalogi, Kelas Jalanan Ajak Warga Mendekatkan yang Dijauhkan

13/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: