Merajut begitu lekat dengan kerajinan tangan. Hasil rajutan pun dikenal sebagai hasil karya seni. Merajut merupakan aktivitas tangan yang mengolah sehelai benang rajut menggunakan jarum rajut. Hasil rajutan biasanya berupa kain, pakaian, tas atau busana lain.
Sejak Oktober tahun lalu, Sri Sasanti Indonesia menggalakkan program Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA). Program pelatihan ini berlangsung selama 6 bulan di 8 desa yang berada di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.
Program PRIMA berakhir pada bulan Maret ini. Program pelatihan ini dilakukan untuk memberikan keterampilan para perempuan setempat. Khususnya dalam merajut.
Pada Hari Kamis (14/3/2019) Sri Sasanti Indonesia mengadakan Diskusi Kelompok PRIMA Bojonegoro, Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan evaluasi bagi para penerima manfaat, istilah untuk para peserta.
“Tujuannya untuk menggali informasi, dampak, serta permasalahan yang dihadapi para penerima manfaat setelah program pelatihan selesai,” kata Nina Agustina, Project Coordinator PRIMA Bojonegoro.
Menurut Nina, pelatihan tidak cukup hanya diberikan begitu saja. Namun, evaluasi juga dibutuhkan. Hal ini agar pelatihan tidak hanya berhenti begitu saja. Harus ada dampak besar bagi para peserta.
Kegitaan diskusi tersebut dilakukan di rumah Kepala Desa Sudu, Kecamatan Gayam. Diskusi dihadiri 39 perempuan penerima manfaat yang berasal dari Desa Sudu. Desa Sudu merupakan dengan dengan jumlah penerima manfaat terbanyak dibanding 7 desa lainnya.
Pada diskusi terebut, terdapat pembagian 2 kelompok untuk membahas berbagai macam hal tentang rajutan. Mulai dari peningkatan kualitas, jumlah produksi, ketersediaan bahan, marketing dan lain sebagainya. Tidak hanya itu. Berbagai materi pelatihan inovasi tentang rajutan pun diberikan.
“Ada history the power of emak-emak, perempuan juga bisa membantu dalam memperoleh penghasilan,” kata Kepala Desa Sudu, Tri Kasih.
Pada Hari Jum’at (15/3/2019), Sri Sasanti Indonesia kembali melakukan Training of Trainer (ToT) Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) Bojonegoro. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Karang Taruna Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro. Kegiatan ini diikuti oleh 10 penerima manfaat dari 6 desa di Kecamatan Gayam.
Menurut Nina Agustina, ToT ini dimaksudkan agar nantinya para perempuan ini tidak hanya bisa merajut. Namun, juga mampu untuk memberikan pelatihan merajut. Jadi, setelah seluruh program pelatihan selesai, para penerima manfaat mampu untuk berkembang sendiri.
“Nanti Sri Sasanti Indonesia tidak perlu melakukan pendampingan lagi, para peserta sudah bisa berkembang secara mandiri,” kata Nina.
Menurut Nina, program PRIMA Bojonegoro ini sudah cukup berhasil. Program ini sudah bisa menelurkan perajut yang produksinya laku di pasaran. Misalnya Eni Nurhayati, penerima manfaat asal Desa Sudu.
Sebelum mengikuti pelatihan, Eni merupakan ibu rumah tangga biasa. Setelah mengkuti program PRIMA, Eni mampu medapatkan penghasilan dari merajut.
“Alhamdulillah sekarang ada penghasilan tambahan. Selain mendapat orderan dari BCM kan saya juga menjual sendiri di media sosial,” kata Eni.
Selain itu juga ada Fitri, penerima manfaat asal Dusun Kembangan, Desa Sudu. Sebelumnya, Fitri memiliki kemampuan membuat bros. Setelah mengikuti program PRIMA, Fitri mampu meningkatkan produksinya. Tidak hanya bros saja, tapi juga tas rajutan. Bahkan, Fitri juga mengajari suaminya merajut.
“Sebelumnya saya jualan bros, tapi sekarang jadi semakin baik produksinya ditambah dengan rajutan,” kata Fitri.
Program PRIMA berlangsung selama 6 bulan. Selama itu, bukan hanya pelatihan rajut. Namun, satu paket komplit. Terdapat juga pelatihan keuangan, motivasi dan monitoring. Hal ini karena Program PRIMA dari Sri Sasanti Indonesia didukung penuh oleh Exxon Mobil Cepu Limited.
Keberhasilan program pelatihan ini karena adanya perbedaan dari program pelatihan biasa. Sri Sasanti Indonesia tidak hanya memberikan pelatihan saja. Namun, mereka juga menyediakan pasar bagi peserta yang merajut. Pasar tersebut dilakukan bersama mitra Sri Sasanti Indonesia. Misalnya Bumi Cipta Mandiri, sebuah perusahaan eksportir hasil rajutan.
Jadi, keberhasilan suatu program bukan hanya pada peningkatan kemampuan saja. Penyediaan pasar sangat dibutuhkan untuk melihat impact dan manfaat yang didapat peserta pelatihan.








