Bejo Sugiantoro dan I Putu Gede merupakan contoh dari legenda sepakbola Indonesia yang sempat merumput di kompetisi tarkam di Bojonegoro. Selain kedua nama tadi, ada pula nama-nama legendaris lain seperti Mursyid Efendi, Sulis Budi, Nurbiyantoro dan juga Wawan Widiantoro.
Pandemi corona membuat sejumlah kegiatan atau event olahraga tak bisa dihelat. Contohnya adalah kompetisi sepakbola. Tak cuma kompetisi professional, di level amatir atau tarkam pun pertandingan tak bisa dilaksanakan.
Bagi para pegiat tarkam, pandemi corona ini memang jadi sesuatu yang mengesalkan. Tak terkecuali para pegiat tarkam yang ada di Bojonegoro dan sekitarnya.
Tarkam atau turnamen antar kampung tak bisa dilepaskan dari budaya sepakbola Indonesia. Bisa dibilang, tarkam merupakan bagian paling bawah dalam piramida sepakbola Indonesia.
Di Bojonegoro sendiri, jumlah tarkam terus bertambah tiap tahunnya. Jenisnya pun juga beragam. Mulai yang membatasi umur hingga bebas memainkan siapa saja. Maka janganlah heran jika pemain level Liga 1 bahkan pemain asing bisa ikut serta.
Ada dua tarkam yang cukup populer di Bojonegoro. Yakni Talok Cup yang diselenggarakan di Desa Talok Kecamatan Kalitidu dan juga tarkam di Kecamatan Purwosari. Jika ditarik jauh ke belakang, di era 90-an sudah ada Bupati Cup dan Dandim Cup yang menjadi pelopor kompetisi tarkam di Bojonegoro.
Salah satu pengurus PSSI Bojonegoro, Dwi Hendri mengatakan bahwa budaya tarkam di Bojonegoro sudah terbangun sejak lama. Menurutnya,banyak pemain legendaris timnas Indonesia yang pernah di kompetisi tarkam Bojonegoro.
“Dulu ada turnamen Bupati Cup yang digelar pada tahun 90 an. Salah satu pertandingannya mempertemukan tim dari Desa Sukorejo melawan Desa Kalianyar. Desa Sukorejo saat itu menyewa Bejo Sugiantoro untuk memperkuat tim. Sedangkan Desa Kalianyar punya I Putu Gede,” kenang Dwi Hendri.
Bejo Sugiantoro dan I Putu Gede merupakan contoh dari legenda sepakbola Indonesia yang sempat merumput di kompetisi tarkam di Bojonegoro. Selain kedua nama tadi, ada pula nama-nama legendaris lain seperti Mursyid Efendi, Sulis Budi, Nurbiyantoro dan juga Wawan Widiantoro.
Gengsi tinggi membuat tim-tim yang berlaga kerap menyewa (ngebon) pemain professional yang berlaga di Liga Indonesia. Istilah pemain bon-bonan pun sempat populer.
Pemain bon-bonan tak melulu dari kalangan pemain professional atau asing. Pemain dari desa atau kampung lain pun bisa direkrut. Semua demi harga diri dan martabat tim kampung.
Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para warga yang haus akan hiburan. Roda perekonomian pun bergerak karena tak jarang panitia penyelenggara menjual tiket masuk bagi para penonton yang ingin menyaksikan pertandingan.
Belum lagi para pedagang makanan yang bisa memanfaatkan momen seperti ini untuk mengais rejeki. Entah itu penjual minuman, pedagang pentol, atau cangcimen (kacang kuaci permen).
Sayangnya, kemeriahan kompetisi tarkam harus berhenti untuk sementara waktu. Sebelum virus corona bisa dikendalikan sepenuhnya, kompetisi tarkam di Bojonegoro maupun daerah lainnya harus berhenti. Entah sampai kapan tidak ada yang tahu.








