Dalam hal mitos “Wilayah Ditakuti Presiden”, Bojonegoro terbukti empiris lebih keramat dibanding Kediri. Berikut bukti dan fakta ilmiahnya.
Bojonegoro, secara empiris, bisa dikatakan lebih keramat dibanding Kediri. Ini bukan tanpa alasan. Sejumlah Presiden RI tercatat sudah pernah mengunjungi Kediri. Sebaliknya, tidak dengan Bojonegoro. Sampai saat ini, Bojonegoro masih tanah yang dijauhi Presiden RI.
Presiden BJ Habibi tercatat mengunjungi Kediri pada akhir 1998 untuk meresmikan Pabrik Gula. Presiden Abdurrahman Wahid tercatat mengunjungi Kediri pada 25 Januari 2001 dalam rangka kunjungan kerja. Presiden SBY bahkan “mematahkan” mitos Presiden tak berani ke Kediri. Sebab, dia datang dua kali.
Pak SBY tercatat berkunjung ke Kediri pada 28 November 2007 untuk agenda kerja pemerintahan. Bahkan, dia juga datang lagi pada 13 Februari 2014 untuk kunjungan kerja sebagai seorang pemimpin negara. Semua presiden di atas datang ke Kediri dalam rangka bekerja sebagai seorang Presiden.
Sementara semua nama di atas, belum ada satupun yang pernah datang ke Bojonegoro. Baik dalam rangka kunjungan kerja, atau sekadar meresmikan apapun. Faktanya belum pernah ada. Gus Dur saja, sowan ke Bojonegoro mengambil momen yang pas. Sebelum dan sesudah jadi Presiden. Saat menjabat Presiden, Gus Dur tak pernah ke Bojonegoro. Gus Dur sangat paham kosmos Brahmana.
Baca Juga: Brahmana Bengawan, Pengendali Pesisir dan Pegunungan
Bung Karno pernah mencoba sowan ke Bojonegoro pada Juli 1957. Itupun tak masuk pendopo, hanya di halaman masjid. Dan tak butuh waktu lama, Bung Karno pun lengser dari kursi Presiden. Pak Harto juga pernah berkunjung ke Bojonegoro, lebih tepatnya berkunjung ke Koperasi Kareb. Dan tak lama kemudian, masyarakat menonton Reformasi. Selebihnya, tak ada presiden RI yang pernah ke Bojonegoro.
Pak Habibi tak pernah ke Bojonegoro; Gus Dur (saat menjabat Presiden) tak pernah ke Bojonegoro; Bu Mega tak pernah ke Bojonegoro; Pak SBY tak pernah ke Bojonegoro; Pak Jokowi tak pernah ke Bojonegoro. Jangankan berkunjung, bahkan mereka tak pernah meresmikan apapun di Bojonegoro.
Diakui atau tidak, belum ada satupun Presiden RI yang pernah masuk dan duduk di Pendopo Bojonegoro. Jangankan masuk pendopo, masuk wilayah Bojonegoro pun, hanya Bung Karno dan Bung Harto yang mencoba melakukannya, itupun tak lama sebelum kelengserannya.
Dari data di atas, tampak secara ilmiah dan empiris bahwa dalam konteks Mitos Ditakuti Presiden, Bojonegoro lebih keramat dibanding Kediri. Sudah cukup banyak presiden ke Kediri. Namun tidak dengan Bojonegoro. Selain Bung Karno dan Pak Harto, belum ada satupun Presiden RI yang berani berkunjung ke pendopo Bojonegoro.
Pasak Jati Brahmana
”Sejarah di Bojonegoro berawal dari abad-abad pertama kalender Jawa, Kerajaan Mendang Kamoelan” (Roorda van Eysinga, Handboek Der Land, hal:171, 1850 M).
Nama Bojonegoro baru lahir pada 1828 M. Sebelumnya bernama Jipang, tanah Brahmana pewaris spirit Medang Kamulan. Sebagai sebuah negeri melegenda, Medang Kamulan disebut sebagai rahim dari seluruh kerajaan-kerajaan Jawa — Kahuripan, Jenggala, Kadiri, Singashari, hingga Majapahit lahir dari kosmos Medang.
Faktanya, semua kerajaan-kerajaan besar di Jawa, meninggalkan jejak penghormatan yang empiris di wilayah Bojonegoro). Hal ini terbukti sahih dari banyaknya prasasti sezaman yang membahas Bojonegoro dari masa ke masa.
Bojonegoro yang dulu bernama Jipang, memang dikenal sebagai Bumi Brahmana Medang Kamulan, tanah yang dihormati Para Maha Raja. Ini bukan dongeng, tapi terbukti empiris berdasar literatur prasasti. Banyak Maha Raja yang memasang pasak penghormatan bagi para Brahmana di tempat ini.
Tercatat ada sejumlah Maha Raja yang sangat hormat pada para Brahmana Jipang. Mereka adalah Maha Raja, bukan Raja biasa. Mereka penguasa Kemaharajaan, bukan penguasa Kerajaan. Dan mereka itu, telah menancapkan pasak penghormatan berupa pilar prasasti untuk para Begawan dan Brahmana di Bojonegoro.
Begawan (Brahmana), dalam hal ini, merupakan strata Bijak Bestari. Figur penyeimbang kosmos peradaban yang hadir di tiap zaman. Ia bisa seorang Rsi, Mpu, Wali, atau Kiai. Para Begawan kadang tak menampakkan identitasnya. Tapi berdiri di balik kendali intelektual dan kebijaksanaan Para Raja.
Maha Raja Dyah Baletung (898-910 M), penguasa Medang, memuliakan wilayah ini sebagai Bumi Sotasrungga — tempat persemayaman Para Raja. Ia menorehkan pasak penghormatan dalam Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M), yang menunjukan betapa dia sangat memuliakan Para Brahmana penjaga Pegunungan Kendeng dan lintasan sungai di sini.
Pada pembukaan Prasasti Telang (903 M), Raja Dyah Baletung menulis sumpah yang berbunyi “Devata Lumah ing Sotasrungga” (Para Dewa bersemayam di Sotasrungga). Namun, beberapa juga memaknainya dengan: Para raja mlumah /terkapar di Sotasrungga.
Maha Raja Airlangga (990 – 1049 M), Penguasa Medang Kahuripan, sangat hormat pada Brahmana di tempat ini. Ia telah menancapkan pasak penghormatan berupa Prasasti Pucangan (1041 M) di Loram, bagian dari Medang Kamulan yang merupakan cikal bakal Jipang (Bojonegoro). Raja Airlangga menyebut Brahmana di kawasan ini sebagai pengendali pralaya, penyeimbang dominasi Sriwijaya dan Medang.
Atas penghormatan itu pula, Maha Raja Airlangga bahkan membangun pendhermaan besar di puncak Pegunungan Kendeng. Sebuah pendhermaan yang kelak dikenal dengan Pugawat Pandan. Maha Raja Airlangga adalah leluhur dari Raja Jayabaya Kediri.
Maha Raja Wisnuwardhana, Penguasa Singashari, telah menancapkan pasak penghormatan berupa Prasasti Maribong (1248 M) di Merbong Bojonegoro. Maha Raja Wisnuwardhana berterimakasih pada para Brahmana di kawasan ini karena telah membantu leluhurnya (Raja Ken Arok) dalam menyatukan Jenggala dan Panjalu. Berkat Brahmana Jipang, Raja Ken Arok bisa mendirikan Tumapel (yang kelak dikenal dengan Singashari).
Baris ke-5 Prasasti Maribong secara jelas menyebut kalimat: Swapitama Hastawana Bhinnasrantaloka palaka (leluhurnya, para Brahmana, yang menyatukan Jawa). Bagi Wisnuwardhana, para Brahmana di tempat ini sangat berjasa karena telah menyatukan Jawa. Dan berkat penyatuan itu, Tumapel (Singashari) berdiri.
Maha Raja Dyah Wijaya atau Raden Wijaya, pendiri Majapahit, juga sangat menghormati para Brahmana Bojonegoro. Seperti para pendahulunya, Raden Wijaya juga meninggalkan jejak penghormatan berupa prasasti yang mendokumentasikan kondisi Bojonegoro.
Prasasti Adan-adan (1301 M), prasasti pertama ditulis pada zaman Majapahit, membahas Brahmana Bojonegoro. Dalam prasasti ini diceritakan, untuk memperkokoh Majapahit, Raden Wijaya bahkan meminta pangestu dari Sri Paduka Rajarsi, Brahmana Bojonegoro kala itu.
Maha Raja Hayam Wuruk, Penguasa Terbesar Majapahit, telah menancapkan pasak penghormatan berupa Prasasti Naditira Canggu (1358 M), yang menetapkan sejumlah titik Naditira Pradesa (pelabuhan sungai) di Bengawan Jipang. Hayam Wuruk memberi sangat banyak pelabuhan di wilayah Tlatah Jipang, melebihi jumlah wilayah lain. Mungkin sebagai bukti penghormatan. Sebab, leluhur Hayam Wuruk (maksudnya Raja Wisnuwardhana), juga sangat hormat pada Brahmana Jipang.
Penghormatan Raja Hayam Wuruk tak hanya berupa pemberian titik pelabuhan sungai. Lebih dari itu, Hayam Wuruk juga menetapkan Tlatah Jipang sebagai vasal Brahmana, bukan vasal Bathara. Terbukti, dari semua negara vasal Majapahit, Tlatah Jipang tak dipimpin Bhre (Bathara). Tak ada Bhre (Bathara) di Jipang, karena Jipang dikelola Brahmana.
Brahmana Islam
Hikajat Banjar menyebut kawasan ini sebagai gerbang-hubung sekaligus pintu masuknya Islam di pedalaman Jawa. History of Java (1817) menyebut, pada abad 14 M, Sidi Jamaluddin Husain atau Syekh Jumadil Kubro — leluhur para Wali Jawa — telah membangun pusat dakwah Islam di Gunung Jali Padangan.
Gus Dur dalam The Passing Over (1998) mempertegas keberadaan Syekh Jumadil Kubro di Gunung Jali tersebut sebagai prototype yang mengajarkan sikap toleransi. Ini alasan di kawasan ini, tidak ada satupun perang yang dipicu agama. Sebab, menurut Gus Dur, kawasan ini telah ditumbali Sidi Jamaluddin.
Hipotesa Konklusif
Dari data di atas, kita tahu bahwa ada sebanyak 4 Maha Raja Besar yang hormat dan takdhim pada Brahmana Jipang (Bojonegoro). Itu bukan Raja biasa, tapi Maha Raja, penguasa Kemaharajaan. Jika Maha Raja saja sebegitu hormatnya, maka ada benarnya jika Presiden pun sama. Presiden konon kan juga mirip Raja.
Bekas kerajaan memang cukup banyak berada di wilayah Selatan. Namun, pusat Brahmana tetap di Puncak Kendeng Utara. Pilar Pasak Jati, Azimat Bumi, dan Esensi Prasasti banyak diperuntukan bagi Begawan Jipang — para pengendali Pesisir dan Pegunungan, Sang Penguasa Bengawan Njipangan (Bojonegoro).
Meski kerap dianggap kota kecil yang belum jelas arahnya, Bojonegoro tetaplah Bumi Brahmana. Tanah para Brahmana Bengawan, para pengendali Pesisir dan Pegunungan. Bukan kebetulan jika Bojonegoro jadi kawah pusat energi. Tempat di mana bermacam potensi bisa bermunculan lagi.








