“Kyai. Nanti setiba Gresik, panjenengan, Ibu Nyai, dan keponakan akan didampingi keluarga kami, Ustadz M. Subki.”
Demikian sebuah pesan ke hape saya. Beberapa hari yang lalu. Benar saja, ketika kami tiba di sebuah hotel di Gresik, Jawa Timur, pada Rabu malam, yang lalu, Ustadz M. Subki mendatangi kami. “InsyaAllah, besok pagi, sekitar pukul 07.30, panjenengan dan rombongan akan kami jemput dan kami dampingi hingga ke Pulau Bawean.”
Betapa lega saya mendengar penjelasan demikian. Saat itu saya tidak tahu bahwa Ustadz M. Subki adalah saudara sepupu K.H. Bajuri Yusuf LLIS Allahyarham, sepepuh Pondok Pesantren Hasan Bajuri Bawean: seorang kiai dan pendekar pencak silat yang pernah menjadi Pengurus Pondok Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Selain itu, “abang saya” ini pernah menimba ilmu di Universitas Baghdad, Irak.
Benar saja, keesokan harinya, kami dijemput dan segala urusan di Pelabuhan Gresik diurus dengan rapi dan lancar. Kami tinggal menunggu sekitar 10 menit di pelabuhan dan kemudian naik kapal cepat Express Bahari.
“Semoga istri tahan ombak,” demikian gumam saya usai berdoa dalam hati. Perjalanan menembus laut sekitar 150 km, ke sebuah pulau terpencil yang terletak antara Jawa dan Kalimantan, cukup membuat saya khawatir dengan kondisi istri yang gak tahan ombak. Tepat pukul 09.10, kapal cepat itu meninggalkan Pelabuhan Gresik. Di kanan kiri dermaga, saya lihat ratusan kapal nelayan sedang sandar, membentuk pemandangan yang indah. “Indonesia memang cantik!” gumam saya. Pelan.
Ketika kapal kian jauh dari pantai, benak saya pun “mengembara”: teringat tahun-tahun 1972-1976, ketika saya mondok di Pondok Pesantren Krapyak dan mukim di Gedung E lt 2. Di situ, di lantai itu, saya tinggal bersama Mas Bajuri Yusuf, Mas Ghufron Yusuf, Kang Said Aqil Siroj (dari Kempek, Palimanan), Kang Fahim Royandi Hawi (dari Ponpes Buntet, Cirebon), Mas Suud (dari Jepara), Gus Adib Bisri (adik Gus Mus), Lik Al-Ghozie Usman, dan M. Soim (dari Blora). Kami semua akrab dan seperti saudara kandung. Lantai ini juga menjadi “tempat berbual” berjam-jam bersama Gus Warson Munawwir dan Gus Jirjis Ali Maksum. Betapa saya bersyukur, selama itu saya mendapat ilmu dan pengalaman dari gus-gus putra kiai-kiai kondang. Alhamdulillah.
Semula, Laut Jawa tenang. Namun kian mendekati Pulau Bawean, laut makin “menari-nari tinggi”. “Mas, kok ombaknya makin membuat perut saya mual, ya!” keluh istri. Untung, ia masih mampu menahan goncangan demi goncangan kapal akibat ombak yang kian mengganas. Akhirnya, pada pukul 13.50, kami tiba di Pelabuhan Bawean yang juga terkenal dengan sebutan Pulau Putri.
Ketika kami turun dari kapal, ternyata Ustadz Sidi Abdul Halim (menantu K.H. Bajuri Yusuf yang pernah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo), Gus Faiq Bajuri (putra bungsu K.H. Bajuri Yusuf), dan beberapa penjemput sudah menunggu di dekat kapal. Kami pun segera dibawa ke Pondok Pesantren Hasan Bajuri. Ternyata, ponpes itu hanya sekitar 10 menit dari pelabuhan.
Setiba di rumah utama pondok pesantren, kami disambut lengkap seluruh keluarga. Termasuk Ibu Nyai Faizah, istri K.H. Bajuri Yusuf Allahyarham. Sambutan luar biasa yang tak kami duga: sambutan yang mesra dan sangat penuh penghormatan. Matur nuwun sanget.
Usai berbagi sapa sekitar satu jam, kami dipersilan istirahat di guest-house yang nyaman dan menyenangkan: di rumah Ustadz Sidi Abdul Halim dan Ibu Nyai Dr. Ainun Barakah. Matur nuwun sanget, keluarga Pondok Pesantren Hasan Jufri, Bawean. Jazakumullah ahsanal jaza’, amin.








