Catatan perjalanan dan sebuah kisah pasca tersesat dalam nirwana, di Thailand Selatan.
Halo…Nabsky, kali ini, penulis yang masih amatir ini ingin mengawali debut goresan pena pertama di Jurnaba.co dengan catatan perjalanan. Dan semoga kedepannya bisa istiqomah menulis dalam kondisi bahagia ataupun luka eaa
Oke, cerita ini berawal dari sebuah hari saat diumumkan delegasi yang akan mengikuti sebuah exchange program yang diselenggarakan di negerinya Teerasil Dangda (pemain sepak bola timnas Thailand).
Dari beberapa literatur menyebutkan, Thailand merupakan negara yang tidak pernah dijajah (secara langsung), tak ayal julukan dataran merdeka mewarnai julukan Thailand.
Waktu yang ditunggu tiba. Mencoba lebih fokus dengan gawai. Mencari nama yang berawalan “Y”. Sempat putus asa, and finally nama itu bercokol di sekitar papan tengah.
Peserta yang berkesampatan melakukan proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di surga yang berada di Thailand bagian Selatan, diumumkan.
Peserta yang terdaftar sekitar 400-an dan terpilih 50 orang untuk terbang ke Malaysia dan Thailand. Dan saya satu dari puluhan manusia itu.
Ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberi kesempatan kepada saya yang biasa-biasa saja ini, untuk menjadi peserta exchange program.
Namun, hambatan dan tantangan menyertai. Yap…pengurusan paspor dan syarat administrasi lain membuat keberangkatan ke Negeri Gajah Putih (Thailand) tertunda.
Problem financial juga turut menyertai, dimana proposal tak kunjung ada kabar gembira. Namun dengan doa, usaha, dan restu si dia wkwk, beragam problem menemukan solusi.
Setelah beberapa kloter selesai melakukan tugas di sana dan beragam dinamika terlewati, waktu yang ditunggu tiba.
Tiba di bandara, berkumpul dengan delegasi lain, bertukar kisah, pengalaman, cerita, dan tentunya perjuangan hingga sampai tahap akhir. Serangkaian cerita menyertai, dan tibalah saat yang ditunggu yaitu penerbangan menuju Kula Lumpur.
Sepanjang perjalanan di udara, sesekali gronjalan menyapa. Untuk mengisi waktu supaya tidak bosan, mencoba membaca majalah yang ada di pesawat dan menyaksikan hiburan melalui layar kecil yang ada di depan kursi.
Tiba di Kula Lumpur International Airport (KLIA) dini hari. Ketika kawan-kawan sedang merangkai mimpi alias tidur, kuberanikan diri berkeliling di area bandara, menyaksikan burung besi dengan gagah dan mewah mengistirahatkan badan di bandara.
Tak lupa melakukan ritual ngopi, di sebuah warkop dan mencoba berinteraksi dengan speaking english yang belepotan dan pas-pasan. Rasa syukur dan bahagia menyertai saban langkah kaki.
Senang rasanya dan syukur kepada Tuhan telah membawa saya pada petualangan yang berawal dari mimpi penulis yang dirangkai ketika berada di kampung halaman tercinta, pojokan Kota Bojonegoro (Pohagung) dalam lembaran kertas pada Desember 2015.
Lembaran itu masih tersimpan di lemari, sesekali menengoknya untuk memompa semangat dalam menjalani kehidupan yang fana dan penuh tanda tanya ini.
Lalu-lalang manusia dari beragam ras, suku, agama, dan kepercayaan tersaji di bandara. Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Malaysia, kita bersama-sama menuju Thailand.
Berjam-jam perjalanan, rasa lelah sedikit terobati ketika menginjakkan kaki di Negeri Gajah Putih (Thailand). Dengan menggunakan kendaraan epic bernama ” Tuk-tuk” mengantar rombongan ke terminal di Hat Yai.
Tidak lupa untuk mengisi perut dan menikmati makanan, minuman, dan udara yang berhembus di Thailand. Bendera dengan kombinasi biru, merah, dan putih menjadi penghias di sekitar jalan.
Aksara-aksara yang agak mirip dengan aksara jawa terpampang di toko-toko, papan reklame, dan tempat-tempat yang lain. Itu merupakan suatu identitas Negeri Gajah Putih.
Tuk-tuk biru yang kami tunggangi berhenti si sebuah jalan. Kita dijemput oleh pihak sekolah yang akan menjadi tempat menghabiskan waktu selama berada di Thailand (Selatan).
Sebelum berkelana ke beberapa wilayah atau negara, seyogianya mencari tahu tentang profil wilayah yang akan dituju baik dari segi geografis, sosiologis, kebudayaan, dan lainnya.
Sampai di suatu wilayah yang berada di Thailand Selatan, seperti terdampar di nirwana. Dengan kondisi masyarakat sekitar yang ramah, beragam mata pencaharian, dan kedai-kedai kecil yang menjual Thai tea menghiasi sekitar jalan, begitupun dengan perkebunan karet yang melimpah.
Ada pengalaman menarik, selepas bermain sepak bola di lapangan sekolah, sandal jepit yang saya bawa dari Indonesia talinya putus. Tanpa berpikir panjang, kemudian menuju toko yang terletak di sebrang sekolah. Nah, saya berniat membeli sandal, dengan mencoba menggunakan bahasa Melayu.
Entah apa yang terngiang dalam pikiran ibu-ibu penjual sandal tersebut, mungkin melihat tingkah laku saya yang aneh mulai dari pakai kaos oblong, sarungan, ditambah gaya berbicara yang agaknya aneh di telinga mereka. Sontak, ibu penunggu toko seperti merasa kedatangan orang kurang waras dan tampak raut muka ketakutan plus terganggu.
Dengan nada seperti mengusir orang kurang waras dan terkesan marah-marah, ibu penjaga toko tersebut menggerakkan tangannya ke depan sesekali menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa pikir panjang, saya lari terbirit-birit dan tidak jadi membeli sandal jepit, wkwkwk.
Hari demi hari silih berganti, tradisi ngopi dan nyangkruk mengalir deras dalam diri. Ketika pagi tiba, tidak lupa berjalan keluar asrama dalam rangka meneguk segelas kopio yang dijual di warung depan sekolah.
Ngopi sembari mendengarkan musik karya Andrea Hirata yang menjadi salah satu sound track film Laskar Pelangi 2 (Edensor) di sisi lain bisa mengobati rasa rindu kepada kampung halaman sekaligus menjadi obat berupa penawar rindu.
Sembari bercakap-cakap dengan penjual, walaupun obrolan kita terasa joko sembung alias gak nyambung, namun degup tawa dan kebahagiaan mewarnai. Obrolan kita mengundang tawa semesta, saya tidak habis pikir dengan logat bicara yang aneh menurut mereka.
Tontonan kartun Upin & Ipin cukup membantu, sebab dialek yang digunakan masyarakat sekitar tidak berbeda jauh dengan dialek yang sering digunakan dalam film Upin & Ipin. Bahasa Thailand dan internasional digunakan di sekolah maupun perguruan tinggi.
Ketika sedang berdialog dengan masyarakat sekitar, tawa-menawa mewarnai. Cuma dalam pikiran ahh…bodo amat, dengan niat dalam sanubari, “niat ingsun, gawe wong-wong guyu, mugi dados pahala, hahaha”.
Berlandaskan niat tersebut, dialektika dengan masyarakat sekitar semakin menambah rasa percaya diri. Obrolan di kedai atau warung kurang lengkap rasanya apabila tidak bersama gendengan kopio yaitu roti telur yang rasanya tidak ada dua, menjadi pengganjal lapar sebelum waktu sarapan yang sesungguhnya tiba.
Penjual Thai tea merajalela dimana-mana. Rasanyapun beragam, pernah sesekali membeli Thai tea bersama murid sekolah, mereka selalu bertanya-tanya. Kujawab sebisanya dalam tempo yang terkadang singkat, terkadang juga lama.
Pastinya tawa menghiasi saban apa yang kita bicarakan dengan penduduk sekitar. Saban malam Jumat, budaya siswa yang tinggal di asrama mirip dengan pondok pesantren (salaf), yaitu ramai dengan yasinan.
Di Jumat pagi, setelah menunaikan shalat subuh berjamaah, tidak lupa berziarah ke makam penyebar islam di Thailand Selatan. Mengingat, Thailand bagian selatan penduduknya mayoritas muslim.
Siang hari, dengan kereta (mobil) menuju ke sebuah masjid untuk menunaikan shalat jumat. Perbedaan nampak namun tujuan ibadah tetap sama, salah satunya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jika dibanding dengan shalat jum’at di Indonesia (Jawa), secara umum salah satu perbedaannya terletak pada petugas infaq yang berkeliling dari shof ke shof sambil membawa semacam wadah yang berfungsi untuk menampung uang jama’ah.
Sontak saya bingung ketika pertama kali melihat petugas itu, namun setelah beberapa kali menunaikan shalat jumat di sebuah masjid yang berada di Amphoe Raman (Yala District), hal tersebut sudah biasa.
Baiknya, mungkin ketika saya dan jama’ah lain mengantuk atau dalam bahasa Jawa turu sak sliyeran sambil mendengarkan khutbah jumat, otomatis petugas infaq juga berfungsi sebagai alarm alami sembari menggoyangkan wadah yang dibawanya. Hehehe
Paduan antara bunyi koin dan kertas yang digerak-gerakan menjadi pertanda bahwa ia sampai di depan kita dan otomatis yang sebelumnya ngantuk sak seliyeran harus segera bangun ahahahaha.
Oke Nabs, nampaknya…kita akhiri dulu kisah petualangan retjeh yang biasa-biasa saja ini dan saya akan nulis lagi sisa-sisa petualangan lain yang teramat sayang jika tak saya tulis di Jurnaba.co.
Yogi Alur, pemuda progresif yang suka berkelana dan mengalur-alur seperti udara ~








